Salam

Polri Harus Tetap Lancar Melayani Masyarakat  

kondisi ini terjadi di hampir semua markas kepolisian seluruh Indonesia. Karena itulah, setelah terjadinya ledakan yang dilakukan teroris

Polri Harus Tetap Lancar Melayani Masyarakat   
Facebook Tony Pratondoadi
Detik-detik terjadinya ledakan bom di Polrestabes Medan, pelaku terekam CCTV 

BOM bunuh diri meledak di Mapolresta Medan, Sumatera Utara, pada Rabu (13/11) pagi. Sejumlah polisi terluka sedang si pelaku bunuh diri itu tewas dengan tubuh tercabik-cabik. Yang mengerikan ledakan itu terjadi pada saat begitu banyak orang sedang mendatangi markas polisi tersebut untuk membuat surat-surat sebagai pesyaratan melamar menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Dan, kondisi ini terjadi di hampir semua markas kepolisian seluruh Indonesia. Karena itulah, setelah terjadinya ledakan yang dilakukan teroris itu, semua markas kepolisian, termasuk di Aceh memperketat pengawasan tamu-tamu yang datang. Semua bawaan pengunjung diperiksa, diminta indentitas, dan ditanyai keperluannya datang ke kantor polisi. Kita mendukung upaya pihak kepolisian memperketat pengawasan dan penjagaan tamu-tamu yang berurusan dengan kantor polisi, terutama pada saat beribu-ribu orang sedang butuh Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) sebagai persyaratan wajib bagi pelamar CPNS.

Begitu juga masyarakat mengurus surat izin mengemudi (SIM) dan lain-lain kita harap akan tetap mendapat pelayanan lancar dan cepat dari kepolisian meskipun dengan penjagaan yang ketat.

Di sisi lain, polisi semakin giat memburu para teroris. Hanya berselang beberapa jam setelah ledakan itu, polisi sudah memeriksa sejumlah orang, mengidentifikasi tersangka pelaku, dan mengumumkan identitas pelaku bom bunuh diri itu ke publik. Dan, masyarakat pun tak bertanya-tanya lagi mengenai siapa pelaku yang nekat melilitkan bom di tubuh kemudian meledakkannya di markas polisi.

Namun, pemerintah dan aparat keamanan mengingatkan masyarakat agar mewaspadai setiap orang atrau kegiatan yang berpotensi menebar rasa takut. Sebab, menurut pengamat terorisme, dalam rangka membendung langkah teroris di Indonesia, diperlukan cara pandang obyektif karakteristik daerah, potensi yang dimiliki dan aspek yang mempengaruhi. Seberapa besar peranan masing-masing instansi terkait, aparat keamanan dan seluruh komponen masyarakat termasuk tingkat kewaspadaan bela lingkungan terhadap bahaya terorisme yang harus terukur dan teruji.

Untuk menengarai, menuduh bahkan menangkap sekalipun seorang atau kelompok orang yang dianggap teroris, baik teroris lokal maupun teroris internasional tidak mudah. Perlu data akurat dan pencermatan indikasi-indikasi dalam kurun waktu yang relatif panjang. Masyarakat memang harus mewaspadai terorisme.

Sebab, dengan sebegitu gencar polisi memberantas terorisme, ternyata aksi-kasi menakutkan itu terus meningkat. Catatan, tahun 2018 terjadi 17 sedangkan tahun 2017 terjadi 12 aksi. Namun, kita belum tahu catatan tahun 2019 ini. Seharusnya memang menurun.

Sebab, menurut Polri, dengan adanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Antiterorism, Polri lebih mudah melakukan tindakan pencegahan. "Kriminalisasi terhadap  perbuatan awal ini bagus sehingga Polri bisa mencegah atau melakukan preemptive strike daripada menunggu ada barang bukti terlebih dahulu," kata Kapolri beberapa waktu lalu. Yang harus kita garisbawahi pula, bahwa ledakan bom bunuh diri di Medan yang kemudian kita sebut sebagai aksi teroris, justru terjadi pada saat kita sedang memperdebatkan kata "radikalisme". Terkait hal ini, pihak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pernah mengingatkan bahwa memiliki sikap dan pemahaman radikal saja tidak mesti menjadikan seseorang terjerumus dalam paham dan aksi terorisme.

Ada faktor lain yang memotivasi seseorang bergabung dalam jaringan terorisme. Motivasi tersebut disebabkan beberapa faktor. Pertama, Faktor domestik, yakni kondisi dalam negeri yang semisal kemiskinan, ketidakadilan atau merasa Kecewa dengan pemerintah. Kedua, faktor internasional, yakni pengaruh lingkungan luar negeri yang memberikan daya dorong tumbuhnya sentimen keagamaan seperti ketidakadilan global, politik luar negeri yg arogan, dan imperialisme modern negara adidaya.

Ketiga, faktor kultural yang sangat terkait dengan pemahaman keagamaan yang dangkal. Sikap dan pemahaman yang radikal dan dimotivasi berbagai faktor di atas seringsering menjadikan seseorang memilih untuk bergabung dalam aksi dan jaringan terorisme. Inilah yang harus  menjadi perhatian kita semua, kata BNPT.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved