Kamis, 23 April 2026

Satu Keluarga Aceh di Malaysia Kembali Berkumpul  

Satu keluarga Aceh di Malaysia kembali dapat berkumpul kembali seluruhnya, seusai proses pemulangan dibantu oleh berbagai pihak

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Tgk H Mudawali Ibrahim SAg, Anggota DPRK Aceh Timur, yang juga Ketua PPP Aceh Timur, saat menyambut kepulangan May Sarah dan empat anaknya di rumahnya, di Kota Langsa, Rabu (13/11/2019) petang pukul 16.00 WIB. 

IDI - Satu keluarga Aceh di Malaysia kembali dapat berkumpul kembali seluruhnya, seusai proses pemulangan dibantu oleh berbagai pihak. May Sarah Binti Safruddin (28) yang sempat tertahan di Malaysia dapat berkumpul kembali dengan suami tercintanya, Rusli Bin Yacob. May Sarah bersama empat anaknya tiba di Bandara Kuala Namu, dari Malaysia, Rabu (13/11) sekitar pukul 09.00 WIB yang disambut suaminya Rusli dan keluarga.

Hal itu disampaikan oleh, Tgk H Mudawali Ibrahim SAg, anggota DPRK Aceh Timur, yang juga Ketua PPP Aceh Timur, yang menyambut May Sarah di rumahnya, Kota Langsa, Rabu (13/11) sore pukul 16.00 WIB.

Tgk Mudawali, turut membantu biaya pemulangan May Sarah dan empat anaknya dari Malaysia setelah mendapatkan kabar dari abang kandungnya, Bukhari bin Ibrahim terkait kekurangan biaya May Sarah. Bukhari tokoh masyarakat Aceh di Malaysia asal Dama Pulo Idi Cut, juga membantu masyarakat Aceh lainnya yang sedang dilanda kesulitan di Malaysia, bersama sejumlah masyarakat Aceh lainnya, seperti Mustafa Bin Usman juga asal Idi Cut, Saiful bin Abdul Jalil, dan sejumlah tokoh masyarakat Aceh lainnya.

“May Sarah mengucapkan terimakasih atas upaya masyarakat Aceh melalui berbagai persatuan yang ada di Malaysia, maupun di Aceh, dan Aceh Timur, yang telah berpartisipasi membantu proses pemulangannya,” ujar Tgk Mudawali.  Dia juga sangat terharu, karena seusai suaminya bebas dari penjara di Malaysia setelah menjalani 12 bulan penjara, suaminya langsung pulang ke Aceh, dan mereka tidak bertemu.

Dikatakan, May Sarah sangat terharu bisa kembali berkumpul dengan suaminya, berkat bantuan masyarakat Aceh melalui berbagai persatuan dan komunitas di Malaysia, maupun Aceh. Mudawali mengatakan, saat menyambut May Sarah di rumahnya di Kota Langsa, dia berkisah terkait kesedihannya bersama anak-anaknya selama suaminya ditahan di Malaysia.

“Hal yang paling menyedihkan, saat mencari rezeki sendiri dengan membawa anaknya untuk berjualan. Jika dia ingat kisah ini sangat menyedihakn, karena dia mencari nafkah sendiri untuk membesarkan empat anaknya yang berusia antara 2-5 tahun karena suaminya di penjara,” jelas Mudawali.

Kemudian, sekitar Agustus 2019, May Sarah dijemput oleh Bukhari Bin Ibrahim dan beberapa orang Aceh lainnya,  dievakuasi ke Kuala Lumpur, dan ditempatkan di rumah kontrakan yang disewa dengan uang sumbangan warga Aceh di Malaysia.

Di sela-sela mengurus keperluan May Sarah dan anak-anaknya, Bukhari dan beberapa grup warga Aceh di Malaysia, juga mengurus pemulangan Rusli Bin Yacob yang ditahan di Malaka. Mereka membuat rayuan (permohonan) ke Depot dan Mahkamah Syesen Machap Umboo Malaka agar Rusli Bin Yacop dapat dideportasi ke Aceh.

“Selanjutnya Bukhari dan sejumlah masyarakat Aceh di sana mengurus proses pembebasan Rusli (suami May Sarah). Karena Rusli ditangkap karena persoalan izin tinggal di Malaysia yang telah habis, bukan persoalan narkoba,” jelas Mudawali. Kemudian tepat pada 31 Oktober 2019, Rusli bebas dan langsung dipulangkan ke Aceh sehingga tidak sempat bertemu dengan istri dan empat anaknya.(c49)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved