Mustafa Abubakar Pernah Diancam Bunuh
Mustafa Abubakar mendapat ancaman bunuh saat menduduki jabatan Penjabat (Pj) Gubernur Aceh. Ancaman dikirim melalui pesan singkat
JAKARTA - Mustafa Abubakar mendapat ancaman bunuh saat menduduki jabatan Penjabat (Pj) Gubernur Aceh. Ancaman dikirim melalui pesan singkat dan sambungan telepon.
Ancaman yang dikirim via pesan pendek (short message service/SMS), ditulis dalam huruf kapital. Isinya sebagai berikut: "AWAS. KALAU BAPAK GUBERNUR TIDAK MENARIK WALIKOTA LHOKSEUMAWE SAMPAI 13 APRIL 2006, BERARTI BAPAK MEMILIH DI -DORRR."
Tapi laki-laki kelahiran Pantee Geulima, Meureudue, Pidie Jaya, 15 Oktober 1949 ini, tak peduli dengan ancaman mematikan itu. Ia tetap dengan keputusannya. Mustafa Abubakar menduduki kursi Pj Gubernur Aceh selama 1 tahun 1 bulan, sejak 30 Desember 2005 sampai 8 Februari 2007. Kali lain, Mustafa Abubakar menerima ancaman melalui telepon. "Pak, kalau nama bapak itu tidak ada, maka nyawa Pak Gubernur jadi taruhannya," ancam si penelepon. Ketika itu waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Mustafa baru saja tiba di kediaman Pendopo Gubernur untuk istirahat. Lagi-lagi Mustafa tak makan gertak. Ia balik menjawab. "Saya hidup karena Allah. Saya juga mati karena Allah. Tak perlu menggertak saya. Saya tak mencari musuh ke sini. Tapi saya bekerja untuk rakyat Aceh. Saya tak menantag Anda. Saya tak melawan Anda. Tapi keputusan saya tak bisa diganggu gugat," jawab Mustafa dan menutup telepon.
Kedua ancaman itu terkait dengan penetapan calon penjabat (Pj) Bupati dan Walikota di 13 kabupaten/kota yang habis masa jabatannya pada 18 dan 28 Maret 2006. Mendagri Mohd. Ma'ruf masa itu minta dikirimkan masing-masing kabupaten/kota, tiga nama calon Pj untuk kemudian ditetapkan mendagri satu nama. Tapi Mustafa keberatan. Dengan alasan takut terjadi politik dagang atau moge, Mustafa hanya mengirim masing-masing satu nama calon Pj. Setelah melalui diskusi, Mustafa berhasil meyakinkan Mendagri Mohd Ma'ruf.
Kedua kisah ancaman mengerikan itu dituangkan pada halaman 2 dan 162-164 buku "Meniti Krisis; Naluri Kepemimpinan Mustafa Abubakar" Penerbit Buku KOMPAS 2019.
Buku ini ditulus A. Bobby PR, diluncurkan kembali pada Minggu (17/11/2019) malam di ruang Oriza Sativa, Gedung Badan Urusan Logistik (Bulog). Peluncuran perdana dilakukan pada 12 November 2019 di Gedung BRI Jakarta.
Menandai peluncuran tersebut, Mustafa menyerahkan buku yang berisi riwayat hidupnya itu kepada sejumlah tokoh Aceh, H. Adnan Ganto, Prof Syamsuddin Mahmud, Surya Darma, Ketua Forbes DPR dan DPD RI Nasir Djamil, serta Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan A. Djalil.
Pengamat politik Fachry Ali memberi tanggapan dan uraian khusus mengenai isi buku tersebut dalan perspektif budaya dan intelektual. Disebutkan, bagaimanapun, Mustafa tak bisa lepas dari gerakan PUSA dan menemukan artikulasinya saat ia menempuh pendidikan di Bogor sebagai siswa ikatan dinas. Artikulasi Aceh dalam Indonesia dan peng-Aceh-an Jakarta ia terapkan saat memimpin Taman Iskandar Muda (TIM) selama dua periode. TIM adalah perkumpulan masyarakat Aceh di Jakarta.
Sementara itu pada saat peluncuran di Gedung BRI pada 12/11/2019 silam, Djokosantoso Moeljono, Direktur Utama Bank BRI periode 1993-2000, dan doktor bidang Psikologi Industri & Organisasi, Universitas Gadjah Mada serta Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta, itu menyatakan sosok kepemimpinan Mustafa merupakan titisan dari para leluhurnya, sebagai keturunan langsung dari Sultan Saiyiddil Mukammil (1838-1904).
"Kakeknya, Teungku Haji Ismail adalah pimpinan dayah (pesantren) di Aceh, jadi merupakan tokoh ulama, namun sekaligus sebagai umara, Panglima Perang, Uluebalang berjuang melawan Belanda, membantu Sisingamangaraja dari tanah Batak, dari penjajahan Belanda. Sang kakek pejuang gugur dalam pertempuran. Demikian juga ayahnya, Abubakar Idris, sebagai geusyik (lurah, Kepala Desa) meninggal selagi Dr Mustafa Abubakar masih 6 bulan dalam kandungan ibunya," tulis Djokosantoso Moeljono. (fik)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/meniti-krisis-naluri-kepemimpinan-mustafa-abubakar-penerbit-buku-kompas-2019.jpg)