Opini

Manusia Budaya dan Manusia Digital  

Problem kemanusiaan bukanlah masalah baru bagi setiap negara yang hendak memfokuskan pada peningkatan Sumber Daya Manusia

Manusia Budaya dan Manusia Digital   
IST
Zulfata, S.Ud., M.Ag. Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Oleh Zulfata, S.Ud., M.Ag. Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Problem kemanusiaan bukanlah masalah baru bagi setiap negara yang hendak memfokuskan pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Jauh sebelum itu, tradisi filsafat Yunani klasik lebih awal membincangkan eksistensi kemanusiaan. Sehingga memahami dan mengelola semesta sungguh berbeda caranya dengan mengelola manusia. Manusia jika dipahami secara global memang terkesan sederhana, padahal konsepsi tentang kemanusiaan sungguhlah beragam, di antaranya manusia sebagai hewan yang berfikir, manusia sebagai pemangsa bagi manusia lainnya, hingga konsepsi manusia jahil.

Manusia dapat dianggap makhluk misterius, sulit ditebak, unsur-unsurnya secara umum terbagi menjadi dua bagian, yakni unsur rohani dan jasmani. Manusia sebelum mendapatkan identitas sosialnya disebut sebagai manusia yang fitrah, hingga lama-kelamaan mulai berinteraksi antarsesamanya dan kemudian menciptakan ruang sosial dalam menentukan tujua hidup bersama. Posisi kemanusiaan dalam ruang sosial inilah menjadikan diskursus atau kajian tentang kemanusiaan semakin hari semakin hampir tak selesai.

Hal ini terbukti melalui rekam sejarah manusia-manusia teladan dan menginspirasi manusia lainnya. Manusia-manusia tauladan tersebut misalnya dapat dipahami melalui kepribadian nabi Muhammad Saw. Sebagai rasul Allah Swt, Nabi Muhammad Saw tidak hanya tampil sebagai pemimpin umat (agama Islam), tetapi juga sebagai pemimpin negara yang mengurusi persoalan birokrasi dalam mewujudkan keadilan beragama dan bernegara.

Seiring perkembangan zaman, Rasulullah terus menjadi panutan bagi tokoh-tokoh hebat generasi seterusnya. Di Indonesia nama-nama pendiri bangsa seperti Presiden Soekarno, M. Hatta, Buya Hamka, KH. Agus Salim, M. Natsir, dan lainnya tampil menjadi sosok yang mengagumkan karena mampu menjadikan diri mereka sebagai subjek kemaslahatan, yakni sebagai manusia yang berilmu, merdeka dan beradap dalam memanusiakan manusia lainnya.

Melihat fenomena bangsa Indonesia masa kini, seakan manusia Indonesia sedang mengalami kehilangan jati diri kemanusiaannya. Hal ini terjadi akibat adanya pergeseran perilaku manusia yang mengalami penurunan keadaban dari masa ke masa. Zaman memang meniscayakan perubahan, begitu pula dengan perilaku manusia. Tetapi, pada perubahan zaman tersebut tidak menjadikan nilai kebenaran menjadi berubah, tolak ukur kebenaran lama kelamaan masuk pada tahapan era digital. Pada saat yang sama, nilai budaya semakin tergilas dan jarang mendapat perhatian khusus bagi generasi yang bertarung saat merebut kekuasaan dalam menentukan kebijakan negara. Situasi keindonesiaan pasca Pilpres 2019 menitipkan barbagai fakta yang membuktikan bahwa Indoensia seperti kehilangan budaya perpolitikan. Manusia yang berpolitik berbasis gotong-royong berubah menjadi budaya politik tikung-meningkung. Demikianlah anggapan dominan yang muncul soal cara manusia masa kini dalam berpolitik. Dengan kondisi ini pula manusia Indonesia secara tidak langsung sedang menampilkan bahwa Indonesia perlu menemukan jati dirinya kembali, yaitu mengedepankan nilai kebudayaan dalam menentukan sikap negara.

Hadirnya konsep manusia budaya merupakan konsep kemanusiaan yang berperilaku dalam aktivitas bernegara tanpa melupakan nilai-nilai kulturalnya. Manusia budaya memiliki ciri lebih mengedepankan kearifan dan menjadikan kebudayaan sebagai prinsip kehidupan menata masa depan. Budaya yang dimaksud dalam tulisan ini bukan sekedar kumpulan identitas-identitas budaya lokal di Indonesia, tetapi budaya dalam arti yang lebih komplet, yakni budaya sebagai upaya mewujudkan sikap dan kesadaran manusia yang menusiakan manusia secara kolektif.

Makna budaya tidak tunggal, sebab budaya adalah suatu bagian yang tak terpisahkan dari perilaku manusia. Hubungan manusia dan budaya tidak dapat dipisahkan, pada posisi ini manusia adalah pencipta budaya, sisi lainnya budaya juga sebagai ruang historis yang dapat menyadarkan manusia untuk bersikap dengan semestinya. Dalam budaya terdapat nilai filosofis yang dipandang ampuh dalam membangun solidaritas antarmanusia untuk tetap hidup berdampingan, bergotong-royong, ikhlas antarsesama dalam membentuk etika sosial, baik dalam bentuk hukum tertulis maupun tak tertulis.

Namun demikian, situasi perubahan zaman telah memberi dampak struktural sosial-etika yang semakin berubah. Munculnya gejala digitalisasi, kehidupan manusia semakin ekspres, konsumtif, egois. Akibatnya terkadang dapat membuat manusia lupa diri bahwa manusia semestinya saling membutuhkan antarsesamanya. Kesadaran kasih sayang antarsesama unilah yang jarang ditemukan pada manusia-manusia yang hidup di era digital.

Mengisi kebutuhan antarmanusia di era digital cenderung menguat pada proses untung dan rugi, produk ilmu pengetahuan dalam bentuk robot mulai menggeser keahliah manusia yang bernurani. Lama-kelamaan mulai terbukanya ruang kompetisi antara robot dengan manusia dan terus memicu kesenjangan sosial dan ekonomi. Gejala inilah yang dimaksud dengan praktik manusia digital.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved