Opini

Manusia Budaya dan Manusia Digital  

Problem kemanusiaan bukanlah masalah baru bagi setiap negara yang hendak memfokuskan pada peningkatan Sumber Daya Manusia

Manusia Budaya dan Manusia Digital   
IST
Zulfata, S.Ud., M.Ag. Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Manusia digital adalah manusia yang mengaminkan segala perubahan berbasis teknologi, dan pada waktu yang bersamaan pula mulai melupakan budaya perlahan-lahan, hingga seorang manusia mengalami kematian budaya. Ciri-ciri manusia digital ditandai dengan daya konsumtif yang tinggi. Ranah privasi telah berubah menjadi ranah publik, etika sosial tidak lagi menjadi acuan, dan asas praktis menjadi kebutuhan dalam menjalani aktivitas sosial antarsesama.

Parahnya, manusia digital tidak begitu menjadikan sosok seperti Rasulullah Saw sebagai panutannya, tetapi lebih tertarik dan terinpirasi pada aktor-aktor yang mencuri perhatian melalui media sosial (medsos). Golongan manusia digital ini dapat dijumpai pada gerenasi milenial yang sedang aktif mengunakan medsos dalam memenuhi kebutuhan kehidupannya.

Pola berdemokrasi bangsa masa kini tak luput dari perilaku manusia digital yang gemar menggunakan medsos tanpa mengedepankan sikap bijaksana. Propaganda negatif, hasut-menghasut dan nyinyir mudah ditemukan di ruang sosial. Materislime meningkat dan spirit gotong-royong serta empati sosial semakin melemah seiring meningkatnya egoisme dan ketidakpercayaan antarpublik.

Saat menjalani kehidupan berbangsa, manusia budaya dan manusia digital hidup bersamaan dan saling berinteraksi. Baik dalam konteks beragama, berekonomi maupun pada saat hendak memulai konsesus politik dalam menentukan sikap politik sebagai hulu pembentukan kekuasaan negara melalui mekanisme demokratis Indonesia. Disadari atau tidak, manusia budaya dan manusia digital adalah dua entitas  yang hidup berdampingan namun memiliki cara pandang yang berbeda. Manusia budaya beroreantasi pada kemaslahatan bersama karena berbasis kultural, sedangkan manusia digital berorientasi pada perilaku pragmatis, materialis, dan egois.

Demikianlah dua konsep kemanusiaan yang sedang berkembang di Indonesia. Untuk itu, negara perlu berusaha fokus dalam pengembangan SDM, sehingga tidak memberikan haluan bagi penguatan manusia digital. Munculnya konsepsi manusia digital dan manusia budaya ini bukan ingin menjelaskan bahwa manusia menolak modernitas, melainkan konsepsi ini muncul sebagai pengingat bahwa era digital lebih banyak menimbulkan petaka sosial daripada manusia budaya yang cenderung mengedepankan keselamatan bersama.

Akhirnya, tidak ditemukan keadilan negara apabila manusia-manusia yang hidup di dalamnya tak mengetahui eksistensi kemanusiaan yang sesungguhnya. Sebab tujuan adanya negara adalah untuk kemaslahan manusia, bukan mememanipulasi antarmanusia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved