Salam

Rp 10 T Bisa Mencegah Banyak Potensi Bencana  

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengungkapkan bahwa musibah banjir yang terjadi di Aceh sudah sangat parah

Rp 10 T Bisa Mencegah Banyak Potensi Bencana   
FOTO HUMAS PEMERINTAH ACEH
Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, meninjau abudmen jembatan Krueng Woyla, Aceh Barat, yang terkena abrasi, Rabu (20/11/2019). 

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengungkapkan bahwa musibah banjir yang terjadi di Aceh sudah sangat parah. Ia menyebutkan, butuh dana setidaknya Rp 10 triliun untuk penanggulangan banjir yang saban tahun terjadi. APemerintah Aceh tidak sangup menanganinya dan kita sedang berupaya melobi Pemerintah Pusat untuk mengantisipasi banjir di Aceh."

Nova menduga, banjir yang kerap terjadi di Aceh karena adanya penebangan hutan di kawasan hulu. Untuk itu ia meminta agar jangan ada lagi penebangan hutan karena berdampak buruk ke depan dan hal itu harus dicegah bersama. "Saya tidak tahu apakah penebangan hutan terjadi karena lemahnya pengawasan Polhut atau karena kesalahan pengelolaan manajemen hutan. Namun saya terus mengimbau agar jangan ada lagi penebangan hutan," katanya.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat ada 640 kejadian bencana, mulai longsor, banjir, badai hingga gempa bumi yang terjadi di Aceh sepanjang Januari hingga Oktober 2019. AUntuk mengantisipasi risiko kerugian hingga jatuhnya korban, langkah penanggulangan harus kita perkuat sejak dini,@ ajak Nova.

Pertama kita setuju bahwa penanggulangan bencana di Aceh --bukan hanya banjir-- harus dilakukan secara serius. Dan, untuk itu memang butuh dana besar yang Aceh tak sanggup menghandle-nya. Kita berharap upaya melobi Pusat untuk penanggulangan itu bisa berhasil. Tentu, ini harus dibantu habis-habisan oleh wakil-wakil Aceh yang ada di DPR-RI dan di DPD-RI. Ini kerja besar dan menumental agar kita bisa mewariskan alam Aceh tidak dalam kondisi berantakan kepada anak cucu nanti. 

Aceh memang terancam banyak bencana, seperti gempa bumi, abrasi air laut, gelombang pasang, dan banjir bandang, longsor, puting beliung, kebakaran hutan, tsunami, banjir rob, kekeringan dan konflik sosial. Bencana dan upaya memitigasi berbagai masalah ini ternyata menjadi masalah tersendiri bagi Pemerintah Aceh. Masalahnya, untuk memitigasi saja, Aceh belum cukup rutin dan merata. Padahal, untuk melindungi alam Aceh dengan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana, memitigasi adalah hal yang sangat mutlak diperlukan.

Di sisi lain, ketika banyak daerah di Indonesia dilanda gempa bencana, terutama banjir dan tanah longsor, seperti di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Aceh, para ahli melihat adanya keteledoran pemerintah terkait tataruang. Pemerintah didorong segera memperbaiki kebijakan perencanaan pembangunan dan tata ruang. "Berkaca dari berbagai bencana yang terjadi akhir‑akhir ini, maka sudah saatnya perencanaan pembangunan dan tata ruang mengarah pada upaya mitigasi dan adaptasi bencana," kata seorang pakar.

Sang pakar mengemukakan, kebencanaan sebagai suatu keniscayaan karena letak Indonesia yang berada di wilayah ring of fire atau cincin api, serta rawan terjadi letusan gunung berapi, gempa besar, serta tsunami. Cincin api adalah zona tempat banyak aktivitas seismik yang terdiri atas busur vulkanik dan parit‑parit (palung) di dasar laut.

 Jadi, adaptasi terhadap bencana kunci penting membangun ketangguhan masyarakat di tanah air. Masalah adaptasi bencana berarti memikirkan berbagai hal penting, terutama langkah‑langkah yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi korban jiwa dan material saat terjadi bencana.

Makanya, kita sangat mengapresiasi jika Nova Iriansyah bersama tim Pemerintah Aceh bisa berhasil melobi Pusat untuk mendapat dukungan dana dalam rangka penanggulangan bencana yang kerap melanda Aceh.

Ini sebagai catatan saja dari kalangan ilmuan dan periset. Bahwa mereka melihat ada beberapa hal serius yang kurang mendapat perhatian dalam beberapa tahun belakangan ini. Pertama, tingginya laju abrasi pantai dalam beberapa tahun terakhir. Ini sudah sangat dirasakan oleh warga pesisir. Kedua, intensitas banjir dan tanah longsor terus meningkat tiap tahun sebab air dari daratan tidak dapat mengalir ke laut karena permukaan air laut makin tinggi. Ketiga, kecepatan intrusi air laut makin meningkat karena berkurangnya air tanah dan tekanan muka air laut, sehingga beberapa perusahaan air minum daerah di Aceh mulai kesulitan air baku. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved