Musisi Jepang Kampanye Mitigasi, Tampil di Dua Lokasi di Banda Aceh  

Duo musisi asal Kobe, Jepang yaitu KAZZ dan Hiroyuki Ishida yang tergabung dalam grup musik Bloom Works tampil memukau

Musisi Jepang Kampanye Mitigasi, Tampil di Dua Lokasi di Banda Aceh   
DOK PANITIA
Kazz (kiri) dan Hiroyuki Ishida (kanan), duo musisi asal Kobe, Jepang yang tergabung dalam Grup Musik Bloom Works, tampil di Museum Tsunami di Banda Aceh, Senin (25/11/2019). 

BANDA ACEH - Duo musisi asal Kobe, Jepang yaitu KAZZ dan Hiroyuki Ishida yang tergabung dalam grup musik Bloom Works tampil memukau di dua lokasi wisata tsunami di Banda Aceh, Senin (25/11). Keduanya tampil sederhana dalam acara yang digelar di Museum Tsunami dan PLTD Apung sejak siang hingga sore kemarin.

Meski tampil sederhana, namun, KAZZ dan Hiroyuki berhasil menghipnotis kaum millenial Banda Aceh, terutama para pelajar, mahasiswa, dan para wisatawan di dua lokasi itu. Keduanya membawakan lagu-lagu berbahasa Jepang dengan paduan gitar yang dipetik Hiroyuki Ishida dan alunan beatbox dari mulut KAZZ.

Setiap lagu yang dinyanyikan dijelaskan maknanya oleh penerjemah. Lagu-lagu mereka ternyata berisikan kampanye mitigasi bencana, mengedukasi masyarakat Aceh tentang kebencanaan dan apa yang harus dilakukan jika sewaktu-waktu bencana alam datang.

Koordinator Aceh Japan Community Art Project, Teuku Panglima Suboh, mengatakan, agenda kedua musisi Jepang di Aceh memang untuk mengampanyekan mitigasi bencana lewat musik. Meski Aceh punya sejarah bencana dahsyat pada 2004 silam, namun menurutnya kampanye mitigasi harus selalu dilakukan.

“Bagi mereka, mitigasi itu tidak serta merta di sekolah, pesan mitigasi bisa belajar dari hal-hal lain, termasuk di Aceh misalnya dari salah satu kearifan lokal yang ada di Simeulue. Hari ini mereka tampil apik di Museum Tsunami dan sekarang di PLTD Apung,” kata Teuku.

Lagu-lagu yang dibawakan Bloom Works kemarin, bisa dibilang unik, karena setiap lirik mengadung pesan-pesan informatif tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. “Misalnya jika terjadi gempa atau musibah lain, siapa dulu yang harus kita telepon, disebutkan juga nomor daruratnya,” jelas Teuku.

Kemudian lanjutnya, dalam lagu lain, tersirat pesan agar saling menyelematkan diri jika terjadi bencana. “Pesannya, saya selamat kamu selamat. Jika terjadi sesuatu kita selamatkan diri masing-masing. Kamu ngak akan cari saya, saya ngak akan cari kamu, bukan karena saya tidak cinta sama kamu, tapi saya yakin apa yang harus kamu buat,” katanya.

Salah satu alasan Duo musisi asal Kobe, Jepang yaitu KAZZ dan Hiroyuki Ishida datang ke Aceh karena tertarik dengan seni tradisional masyarakat Simeulue berupa nyanyian yang berisi nasihat pengingat bencana tsunami yang lebih dikenal dengan smong.

“Besok mereka akan ke Simeulue, mereka tertarik mau melihat salah satu kearifan lokal tersebut, ternyata di Aceh ada mitigasi bencana dalam konteks seni seperti yang mereka lakukan. Setelah di Simeulue mereka juga akan ke Medan dalam hal yang sama, mungkin ke sekolah sekolah,” kata Koordinator Aceh Japan Community Art Project, Teuku Panglima Suboh.

Mereka ingin mengkaji, jika memang di Siemulue sukses dengan kearifan lokalnya sehingga masyarakat sadar dengan mitigasi bencana dengan seni, namun kenapa hal itu tidak menggema. “Justru kata mereka, di Jepang lebih tahu tentang itu,” pungkasnya.

Seperti diketahui, duo pemusik ini berasal dari sebuah kota di Jepang, Kobe, yang mana daerah tersebut pernah terjadi gempa besar tahun 1995 sehingga disebut Great Hanshin Earthquake. Keduanya juga merupakan korban selamat dari gempa sehingga lagu-lagu mereka banyak bertemakan tentang mitigasi bencana, berdasarkan pengalaman keduanya. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved