Mihrab

Pencegahan Stunting Dalam Kajian Islam  

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh melakukan kajian tentang 'Pencegahan Stunting Dalam Perspektif Hukum Islam'

Pencegahan Stunting Dalam Kajian Islam   
Dok MPU Aceh
Anggota MPU Aceh mengikuti sidang paripurna tentang 'Pencegahan Stunting Dalam Perspektif Hukum Islam', di Aula MPU setempat yang berlangsung selama tiga hari (26-28 November 2019). 

BANDA ACEH - Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh melakukan kajian tentang 'Pencegahan Stunting Dalam Perspektif Hukum Islam' pada sidang paripurna ke-6, yang berlangsung di Aula MPU setempat selama tiga hari (26-28 November 2019). Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah anggota MPU Aceh.

Kajian tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa kehidupan masyarakat saat ini menghadapi berbagai masalah sehingga berpotensi menimbulkan bahaya yang mengakibatkan gangguan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu penyebab yang berpotensi menimbulkan bahaya yang mengakibatkan gangguan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat adalah stunting.

Berdasarkan pertimbangan itu, pihak MPU Aceh perlu menetapkan fatwa tentang 'Pencegahan Stunting Dalam Perspektif Hukum Islam', yang merujuk pada Alquran Surat  An- Nisaa ayat 9 yang artinya "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteran)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar".

Selanjutnya pada Alquran Surat Al Baqarah ayat 233 yang artinya "Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut......". Serta juga merujuk pada hadis, ijma' ulama, qiyas, kaidah ushul fiqh atau fiqh, dan pendapat ulama.

Sebelum menetapkan hasil sidang paripurna tersebut, ada tiga narasumber yang dihadirkan yaitu Anggota MPU Aceh, Tgk H Muhammad Hatta Lc M Ed yang menyampaikan makalah tentang 'Pencegahan Stunting Menurut Perspektif Islam'. Selanjutnya, Sekretaris  Tim Penggerak PKK Aceh sekaligus Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Aceh, dr Cut Maneh yang menyampaikan makalah dengan judul 'Dampak Stunting Terhadap Kesejahteraan Masyarakat'. Terakhir, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh, Bgd H Alfridsyah SKM MKes menyampaikan makalah tentang 'Urgensi Pencegahan Stunting Menurut Ilmu Kesehatan'.

Dengan memperhatikan khutbah iftithah yang disampaikan Wakil Ketua MPU Aceh, Tgk HM Daud Zamzamy, dan risalah yang disiapkan panitia musyawarah (Panmus) MPU Aceh yang disarikan dari makalah-makalah tersebut, maka diputuskan pertama, stunting (Al-taqazzum) adalah kondisi perkembangan fisik yang timpang pada balita yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan sampai usia anak dua tahun.

Kedua, stunting dapat menghambat pertumbuhan anak baik motorik (gerakan) maupun kognitif (pengetahuan). Ketiga, pencegahan stunting adalah disunahkan selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat. Keempat, perbuatan yang berpotensi menimbulkan stunting adalah makruh.

Wakil Ketua MPU Aceh yang juga Koordinator Tim Perumus, Tgk H Faisal Ali kepada Serambi, Kamis (28/11), usai rapat paripurna tersebut menyampaikan berdasarkan kajian fikih pencegahan stunting adalah hal yang dianjurkan dalam konteks agama Islam atau bahasa lainnya sesuatu yang penting untuk dilakukan oleh semua pihak dalam rangka pencegahan stunting di Aceh.

"Karena akibat dari stunting itu membuat generasi kita ke depan tidak kuat, tidak sehat baik fisik maupun rohaninya. Stunting itu perlu dilakukan pencegahannya oleh semua pihak, terutama sekali oleh pemerintah," kata Tgk Faisal Ali.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved