Salam

Hukum Beratlah Terdakwa Sabu!

Terdakwa kasus sabu-sabu, Kamal alias Kamel (46), lolos dari hukuman mati setelah majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kualasimpang

Hukum Beratlah Terdakwa Sabu!
SERAMBI/RAHMAD WIGUNA
Kamal alias Kamel saat mendengarkan tuntutan di PN Kualasimpang, dua pekan lalu. Majelis hakim dalam putusannya menolah tuntutan hukuman mati yang diajukan jaksa dengam menjatuhkan vonis 20 tahun penjara, Kamis (28/11/2019). 

Terdakwa kasus sabu-sabu, Kamal alias Kamel (46), lolos dari hukuman mati setelah majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kualasimpang, Aceh Tamiang, hanya memvonisnya 20 tahun penjara, dalam sidang pamungkas di PN setempat, Kamis (28/11/2019).

Kamal merupakan terdakwa kesebelas yang tidak divonis mati oleh majelis hakim PN tersebut dalam tahun ini, meski jaksa menuntutnya dengan hukuman mati. Semua terdakwa yang sebelumnya dituntut hukuman maksimal itu hanya divonis seragam, 20 tahun penjara. 

Dalam sidang Kamis dengan terdakwa Kamal alias Kamel, majelis hakim yang diketuai Irwansyah Putra Sitorus menyatakan belum bisa memenuhi tuntutan jaksa karena menilai masih ada pihak lain yang lebih bertanggung jawab dalam kejahatan itu. "Terdakwa dijatuhi hukuman penjara 20 tahun," kata Irwansyah.

Kamal, warga Desa Cintaraja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) di salah satu rumah di Desa Sungai Iyu, kecamatan yang sama pada 14 Mei lalu. Dalam penggeledahan itu, petugas menyita satu koper berisi 15,6 kg sabu-sabu dan 9.900 butir pil berlogo ikan. Belakangan, pil itu diketahui sebagai narkotika jenis PMMA yang memiliki kandungan parametoksi metilam fetamina.

Kasi Pidum Kejari Aceh Tamiang, Roby Syahputra, menyatakan, setelah mendengar putusan majelis hakim, pihaknya langsung mengajukan banding. Sebab, menurut Roby, pihaknya menilai putusan itu belum mewakili asas keadilan dan memberikan efek jera bagi pelaku lain. "Nanti, semua keberatan akan kami masukkan dalam memori banding," katanya.

Sepanjang tahun 2019, tambah Robby, Kejari Aceh Tamiang sudah menuntut sebelas terdakwa narkoba dengan hukuman mati. Namun, tak satu pun tuntutan itu dipenuhi oleh majelis hakim.

Nah, apa yang terjadi di PN Kualasimpang itu sungguh merupakan fenomena hukum yang menarik. Menariknya adalah para terdakwa diseret ke meja hijau karena kasus yang sama, yakni terlibat narkoba. Akan tetapi, jumlah narkoba yang dimiliki atau ditransaksikan oleh masing-masing pengedar tidaklah sama. Sebagai contoh, Kamal menguasai 15,6 kg sabu dan 9.900 butir pil mengandung zat yang ada narkobanya. Kemudian, Edi Syahputra alias Edi Samurai (41) dan Maman Nurmansyah (35), keduanya warga Sungai Iyu, Aceh Tamiang, dihadirkan ke persidangan pada Rabu (9/10/2019) karena menyelundupkan sabu 67,4 kg dari Malaysia melalui perairan Kuala Peunaga, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.

Faktanya, meski terdakwa Kamal menguasai 15,6 kg sabu dan Edi Syahputra dan Maman memiliki 67,4 kg sabu, bahkan didatangkan dari Malaysia, tapi tetap saja hukuman mereka diputuskan sama oleh majelis hakim. Padahal, jaksa menuntut pelaku dengan hukuman mati.

Kalaulah putusan seragam seperti ini hanya sekali dua terjadi, itu tidak menimbulkan kecurigaan. Akan tetapi, kalau sudah sampai sebelas kasus terdakwanya selalu saja dihukum 20 tahun, dan tidak seorang pun yang dihukum mati, kita patut bertanya ada apa sebetulnya di PN Kualasimpang? Tidaknya majelis hakimnya memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh untuk memerangi narkoba?

Ketahuilah bahwa bahaya narkoba itu sungguh sangat luar biasa. Satu kilogram sabu-sabu mampu merusak sel saraf 4.000 orang penggunanya. Bayangkan betapa banyak generasi Aceh yang rusak oleh 67,4 kg sabu? Tidak kurang dari 269.500 putra-putri Aceh bakal rusak gara-gara mengonsumsi narkoba jika seluruh narkoba tersebut memang ditujukan untuk diedarkan di Aceh.

Itu baru dari satu pengedar, belum lagi pengedar atau bandar sabu lainnya. Kalau dalam sebelas perkara itu masing-masing jumlah sabunya mencapai 15 kg saja, maka setidaknya 165 kg sabu beredar di Aceh Tamiang. Belum lagi di tempat lain di Aceh.

Kalau majelis hakim kurang memiliki komitmen tinggi untuk menghukum terdakwa dengan hukuman maksimal, yakni hukuman mati, seperti yang dituntut jaksa, padahal mereka memperdagangkan sabu rata-rata di atas 15 kg, maka kita khawatir putusan hukum tersebut tidak akan menimbulkan efek jera bagi calon pengedar lainnya. Kita ingin, pengedar sabu di Aceh yang memiliki sabu di atas 5 kg saja sudah cukup alasan untuk divonis mati. Kalau tidak, pengedar baru bakal bermunculan dan jajaran BNN maupun kepolisian bakal kecewa berat karena pengedar yang dengan susah payah mereka tangkap bahkan dengan bertaruh nyawa, akhirnya hanya divonis “ringan” oleh majelis hakim. Belum lagi mereka berkemungkinan mendapatkan “diskon hukuman” di tingkat banding atau pun saat kasasi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved