SALAMSERAMBI

Seharusnya Ada Ruas Jalan yang Rampung

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin me­wartakan, ruas jalan Jantho-Lamno yang hanya 65 km panjangnya belum bisa dimanfaatkan

Seharusnya Ada Ruas Jalan yang Rampung
Hand-over kiriman warga.
Kondisi jalan Jantho-Lamno yang menghubungkan wilayah Aceh Besar dan Aceh Jaya, Sabtu (30/11/2019). 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin me­wartakan, ruas jalan Jantho-Lamno yang hanya 65 km panjangnya belum bisa dimanfaatkan.

Dibutuhkan pembangunan tujuh jembatan lagi, yakni jembatan rangka baja dengan bentangan 50-60 meter, barulah ruas jalan tersebut dapat dilalui.

Tapi bukan itu saja kendalanya. Bukit yang terdapat di Km 35-39 meski sudah dipotong, masih tergolong curam, elevasinya mencapai 45 derajat. Ini tentu saja riskan untuk dilintasi kendaraan. Apalagi jika sedang musim hujan, jalan licin dan berlumpur. Maka bukit ter­sebut perlu dipangkas atau didinamit lagi untuk mem­buat ia lebih landai sehingga nyaman untuk dilintasi.

Nah, dua hambatan teknis inilah yang menyebabkan mengapa ruas jalan yang tak seberapa panjang itu be­lum fungsional hingga kini.

Selain itu, ruas jalan ini belum seluruhnya diaspal. Masih 9 km lagi yang belum diaspal. Diperlukan ang­garan sedikitnya Rp 55 miliar lagi untuk membuat ruas jalan ini fungsional. Anggaran itu dialokasikan untuk satu unit jembatan Rp 11 miliar, untuk pelebaran dan penurunan badan jalan, dan pengaspalan Rp 20 mili­ar. Selain itu untuk lintasan dari Lamno ke perbatasan Aceh Besar tahun ini dilakukan pengerjaan pelebaran badan jalan, pengaspalan 1 km, dan pembersihan long­soran batu anggarannya Rp 24 miliar.

Nah, updating data lapangan terkait proses pemba­ngunan ruas jalan Jantho-Lamno ini sangat penting bagi kita. Terutama untuk memahami lebih mendalam apa saja yang menjadi kendala sehingga ruas jalan ini lam­bat selesainya.

Dari realitas ini kita juga dapat memprediksi bahwa ruas-ruas jalan lainnya yang dibangun sebanyak 14 ruas jalan pada saat Doto Zaini Abdullah memimpin Aceh ber­sama Muzakkir Manaf, juga menghadapi kendala teknis sehingga sampai kini belum satu pun yang fungsional. Bahkan banyak di antaranya yang belum tembus.

Salah satu kendala belum tembusnya ruas jalan ter­sebut adalah karena minimnya dana yang tersedia seti­ap tahun untuk merampungkannya.

Rata-rata anggaran yang disediakan per tahun untuk pembangunan jalan tembus di Aceh adalah Rp 320 mi­liar. Tapi anggaran sebanyak itu bukan untuk satu ruas jalan, melainkan untuk 14 ruas jalan. Karena harus di­bagi untuk belasan ruas jalan, sehingga per tahun di setiap ruas jalan hanya beberapa kilometer atau ha­nya puluhan kilometer yang berhasil dibangun, padahal panjangnya ratusan kilometer.

Nah, mumpung tampuk kepemimpinan Aceh sudah beralih ke figur lain semoga tahun depan dan tahun de­pannya lagi minimal ada dua ruas jalan yang bisa dise­lesaikan. Full-kan alokasi dana untuk ruas-ruas jalan yang pendek atau yang hampir rampung, sehingga da­lam masa jabatan Nova Iriansyah selaku Plt Gubernur Aceh kita harapkan minimal ada enam dari 14 ruas ja­lan tembus di Aceh yang berhasil dirampungkan dan fungsional.

Bila itu terwujud barulah kita bisa berharap bahwa perekonomian Aceh akan lebih berdenyut karena terse­dianya jalan ke sentra-sentra produksi sekaligus meret­as keterisolasian daerah-daerah pedalaman dan poros tengah Aceh yang selama ini relatif tertinggal.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved