Opini

Siswa Era Nadiem Makarim  

Suatu sore hari, saat dia mau balik ke gubug reot, dibawa pulang, dimasukkan ke dalam empang, bersama sisa ketela dan pisang rebusnya

Siswa Era Nadiem Makarim   
IST
Muhammad Yakub Yahya, ASN di Bidang PHU Kanwil Kemenag Aceh

Oleh Muhammad Yakub Yahya, ASN di Bidang PHU Kanwil Kemenag Aceh

Seorang pak tani yang berkeriput, menatap sebutir telur di pematang sawah tuannya. Telur yang mirip telur ayam itu, masih hangat cangkangnya. Suatu sore hari, saat dia mau balik ke gubug reot, dibawa pulang, dimasukkan ke dalam empang, bersama sisa ketela dan pisang rebusnya. Dia kasih telur yang mirip punya ayam itu pada istri di depan sumur tua. Usai shubuh, esoknya istri mengerami telur itu bersama enam telur ayam lainnya.

Induk ayam bernyanyi dan mengomel (meuratoh) sambil mengeram telur, di belakang gubug pak tani, di ujung kampung itu. Tiga pekan kemudian, telur sukses menetes. Keluar dari kulit, anak ayam yang manis-manis. Ajaib, ada seekor 'bayi ayam' yang kasar bulunya, besar tubuhnya. Esok lusa, induk ayam mengajak anak ayam dan 'anak ayam' yang berbeda postur ke sawah, ikut pak tani, usai shubuh berjamaah, ke sawah mengais rezeki, karunia Allah. Siang pak tani shalat dan rehat, juga ayamnya ikut istirahat.

Sore hari jelang pulang, di atas mereka terbang menukik rendah seekor elang, 'makhluk langit', 'saudara' gagak hitam, 'sepupu' rajawali, dan 'sesuku bangsa' dengan bangau itu. Ayam merapat ke induknya, khawatir dan awas dengan raungan elang. Anak ayam yang berbulu kasar, yang berpostur besar itu menyela, "Mama, lihatlah dia di atas sana, dia bisa memutar ke sana ke mari. Andai kita bisa terbang, seperti dia, kita bisa lihat kampung sebelah."

Induk ayam menjawab, "Nak, dia 'makhluk langit', sedangkan kita makhluk bumi. Kita tak bakal bisa terbang, dia bisa!"

Esok sore, induk ayam mengulangi lagi jawabannya, saat elang muncul, saat ditanyai 'anak ayam', "Nak, dia raja langit, kita 'rakyat jelata' di bumi. Jangan mimpi nak!"

Itulah jawaban yang disusupi setiap sore, jelang pulang pada anak-anak ayam dan 'ayam' berbulu kasar, oleh induknya.

Padahal, jika 'anak ayam' yang berpostur besar itu, mau loncat dan mencoba terbang, ia pasti bisa meninggi dan mengaung layaknya elang, bukan berkokok kayak ayam. Sebab memang ia terlahir dari telur elang, ia keturunan 'makhluk langit'. Namun indoktrinasi dan penghayatan yang merasuki jiwanya, sepanjang perjalanan ke sawah, ia tetap lahir bersama ayam, keseharian bersama ayam, sakit dan mati 'dikuburkan' bersama ayam. Ada yang disembelih bersama menu kenduri maulid, atau hajat enak orang banyak lainnya.

Ini kisah yang sering diulang oleh motivator pada kita yang malas bangun pagi, malas menempa jiwa, takut jatuh jika mengeprak sayap, atau enggan 'memerdekakan' diri. Orang dekat, keluarga, guru, dan lingkungan kadang lebih sering meremehkan dan merasuki kita, kita 'hanya ayam' bukan 'generasi elang'. Padahal, ada di antara kita memang dipilih dan ditakdirkan naik derajat dan menjadi elang.

Tentu, jika terbang tinggi, bukan 'elang' yang memangsa sesama habitatnya, bukan 'raja langit' yang menakuti ayam atau makhluk naif lainnya. Tapi, elang yang menyemangati yang lemah, dan merajai kebenaran dengan keperkasaannya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved