Jurnalisme Warga

Terobosan Baru dalam Tradisi Bahtsul Masail

PARA staf bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasantri (BEM)) Ma’had Aly MUDI membuat terobosan baru dalam menyemarakkan

Terobosan Baru dalam Tradisi Bahtsul Masail
IST
MUHAMMAD ABRAR, Ketua Departemen Media dan Publikasi BEM Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Samalanga

OLEH MUHAMMAD ABRAR, Ketua Departemen Media dan Publikasi BEM Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Samalanga

PARA staf bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasantri (BEM) Ma’had Aly MUDI membuat terobosan baru dalam menyemarakkan tradisi bahtsul masail. Bahtsul masail yang selama ini hanya sebatas diskusi fikih atau pembahasan masalah-masalah yang aktual dan urgen, kini diwarnai dengan ajang yang bernilai kompetensi. Oleh Ma’had Aly MUDI, kegiatan ini diberi nama “Ajang Mencari Bakat Bahtsul Masail”.

Ajang mencari bakat bahtsul masail  ini baru pertama kali dilaksanakan. Ma’had Aly MUDI menjadi pencetus pertama kegiatan ini. Mari saya tunjukkan deskripsi kegiatan kami.

Ajang Mencari Bakat Bahtsul Masail diikuti peserta yang dibagi menjadi empat kelompok. Dua kelompok dari semester satu, dua kelompok dari semester tiga. Per kelompok berjumlah 30 orang dan dipandu oleh seorang dosen pembimbing. Pembimbing akan melihat jalannya kegiatan dan memberi nilai untuk kategori keaktifan, banyaknya referensi kitab yang digunakan, sejauh mana tingkat kritis dalam menyikapi kasus, dan sejauh mana kelugasan dalam berdialektika.

Saya melihat metode ini lebih membuat para peserta bersemangat. Berlangsung dua hari (17-18 November 2019) suasana bahtsul masail terasa lebih “hidup”. Peserta bersungguh-sungguh meraih kemenangan menjadi yang terbaik pada sesi akhir kegiatan. Kami beruntung bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Sebagai mahasantri yang sudah memasuki semester akhir, kami masih diberi kesempatan untuk bisa menemani adik-adik mahasantri ikut kompetensi perdana bahtsul masail. Apalagi para staf sampai memercayakan kami sebagai panitia. Saya sendiri ditugaskan sebagai notulis, yaitu mencatat kesimpulan akhir salah satu kelompok peserta.Kali ini, saya mendapat kesempatan mendampingi mahasantri semester tiga. Isu yang diangkat dalam forum ini cukup menarik. Yakni, status hukum mendengar dan memahami rukun khutbah Jumat. Isu tersebut berangkat dari sebuah persepsi bahwa jamaah Jumat disyaratkan memahami rukun khutbah atau setidaknya mengetahui apa saja yang termasuk dalam rukun khutbah ketika khatib membacanya. Walaupun mereka tak mengerti arti dari rukun tersebut, minimal mereka mengetahui bahwa yang dibacakan oleh khatib adalah hamd, atau selawat, dan lain-lain.

Hal ini tentu saja menjadi satu problem, mengingat kebanyakan masyarakat awam tidak mengerti dan tidak tahu apa saja yang termasuk dalam rukun khutbah, sehingga timbullah permasalahan. Apakah disyaratkan bagi jamaah Jumat harus mampu memahami isi khutbah dan mampu membedakan mana saja yang termasuk dalam rukun dan sunah pada khutbah Jumat?

Setelah dua hari beradu argumen dan menyimpulkan hasil sementara, tibalah pada sesi akhir tepatnya pada Ahad(24/11/2019) malam. Semua kesimpulan akhir bahtsul masail ditashihkan dalam rapat pleno. Pada malam itu bertindak sebagai mushahhih adalah dosen senior Ma’had Aly MUDI, Tgk Mursyidi A Rahman. Beliau menjabat Ketua Tertinggi Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Dayah MUDI di samping juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan bersahaja.

Pada sesi pentashihan, masing-masing dari empat kelompok membacakan kesimpulan yang telah ditarik sementara dalam bahtsul masail. Dari keempat kelompok, saya lebih fokuskan pada satu kelompok yang saya sendiri sebagai notulisnya. Ternyata kesimpulan akhir dari permasalahan kami tidak jauh beda dengan hasil sementara. Anggota kelompok menampakkan gurat bahagia dan rasa bangga karena hasil diskusi mereka tidak keliru, bahkan hampir sepenuhnya benar, hanya perlu menambahkan sedikit referensi.

Kata mushahhih, memang ada perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli tentang masalah hukum mendengar dua rukun khutbah. Menurut Imam Ibnu Hajar, harus bil fi`ly. Artinya, jamaah harus mendengarnya secara langsung dan tidak dianggap dia mendengar khutbah apabila dia berada pada posisi terlalu jauh yang menghalangi suara khatib atau di sana ada kebisingan. Sedangkan menurut Imam Ramli, tidak diwajibkan mendengarnya secara langsung, melainkan boleh bil quwwah. Artinya, dalam kondisi memungkinkan untuk mendengar dua rukun khutbah jika tidak ada penghalang (mani’). Maka dalam kasus khutbah Jumat di tengah suara bising, apabila kebisingan tersebut menyebabkan jamaah tidak bisa mendengar dua rukun khutbah, maka menurut Imam Ibnu Hajar tidak sah, sedangkan menurut Imam Ramli sah.

Begitu pula pada masalah membedakan rukun sunat dan rukun wajib pada khutbah Jumat. Dalam hal ini ada perbedaan hukum terhadap kalangan alim dan kalangan awam. Terhadap kalangan alim diwajibkan untuk mengetahui hal-hal yang wajib dan sunat, sedangkan kalangan awam tidak diwajibkan untuk mampu membedakan antara wajib dan sunat, tetapi dengan tidak sampai meniatkan perbuatan yang wajib menjadi sunat. Artinya, bagi jamaah awam tidak disyaratkan harus mampu membedakan rukun dan sunat, tetapi hanya disyaratkan mendengarkan khutbah yang dibaca oleh khatib.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved