Salam

Mengapa Seorang Ibu Tega Mengasari Anak?  

Polisi di Banda Aceh ini menahan seorang ibu muda yang sebelumnya menggemparkan dunia maya karena ketegaannya

Mengapa Seorang Ibu Tega Mengasari Anak?   
Kolase Serambinews.com/video viral di media sosial
Viral video seorang ibu menyeret anak kandungnya di Gampong Pie, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Ia menyeret anak kandungnya yang masih berusia 3 tahun dan aksinya yang viral di media sosial dikecam netizen yang marah. 

Polisi di Banda Aceh ini menahan seorang ibu muda yang sebelumnya menggemparkan dunia maya karena ketegaannya menyeret anak kandung yang berusia sekitar tiga tahun. Adalah NU (30) wanita asal Pidie yang videonya viral ketika ia sedang menyeret anak perempuannya di tanah dekat rumah kontrakan mereka di Gampong Pie, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Tersangka sejak Senin (2/12) ditahan di Cabang Rutan Lhoknga, Aceh Besar. Wanita itu diamankan dari rumahnya pada Minggu (1/12) dini hari.

Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Trisno Riyanto SH menjelaskan, setelah melalui proses pemeriksaan secara maraton dan memintai keterangan saksi serta bukti-bukti, akhirnya NU ditahan. "Untuk dua anaknya, masing-masing saat anaknya yang korban serta viral dalam video itu serta satu orang anaknya yang lain yang baru berumur sekitar satu tahun dan masih menyusui dititipkan sama orang tua dan saudaranya yang berdomisili di Banda Aceh," kata Ismail.

Ia mengatakan, dari keterangan tersangka NU, wanita itu mengaku sangat menyayangi kedua anaknya. Termasuk anak perempuannya yang diseret pada saat itu. "Karena hal sepele, lantaran anaknya ini merusak tanaman cabai tetangga, sehingga NU hilang kontrol dan melakukan tindakan terhadap anaknya di luar batas kewajaran," sebut AKP Ismail.

Menurut polisi, si pembuat video --yang kemudian viral itu-- mengaku sudah sering melihat NU memperlakukan anaknya di luar kewajaran. Hari itu, sebetulnya dia juga enggak tega mem-viralkan. Tapi, tindakan itu sudah beberapa kali dilakukan ibu itu terhadap anaknya.

Kita percaya pada pengakuan sang ibu bahwa ia sangat menyayangi kedua anak kandungnya. Dalam keadaan sadar dan normal, rasa cinta ibu pada anak tidak akan luntur. Berdasarkan pandangan psikolog, kekasaran seorang ibu terhadap buah hatinya acap muncul karena adanya masalah pada diri sang ibu. Salah satunya adalah faktor ekonomi yang berujung pada frustrasi. "Bisa karena faktor ekonomi, rumah tangga atau beban hidup lainnya," kata psikolog.

Bagi kita, semakin maraknya kasus ibu yang tega menyakiti anak kandungnya adalah fenomena yang harus segera dicegah. Dari kasus-kasus yang terjadi, para ibu yang kemudian tega menyakiti anaknya umumnya berlatar belakang ekonomi yang pas-pasan bahkan sangat miskin. Ditambah lagi, kebanyakan ibu itu berstatus orang tua tunggal (single parents). Sedangkan yang lainnya sering ditinggal suami yang mencari nafkah ke daerah lain dalam waktu yang lama. Itulah dua kondisi paling menonjol yang sering membuat kaum ibu “gelap mata”.

Para pengamat sosial kemasyarakat mengatakan, kemiskinan yang dialami masyarakat berdampak multidimensi. Pada keluarga miskin akan menyebabkan kepala keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar bagi seluruh anggota keluarganya hingga kemudian seorang ibu harus turut serta bekerja mencari nafkah dan mengenyampingkan hak-hak anak-anaknya.

Padahal, secara normatif seorang anak telah memiliki hak-hak yang dijamin dan dilindungi negara. Dalam Pasal 3 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, disebutkan sebagai berikut.

“Perlindungan anak-anak bertujuan menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.”

Makanya, para aktivis perempuan sering mengingatkan, “Saat menyadari bahwa penyebab utama persoalan yang melingkupi anak dan perempuan adalah kemiskinan, maka seharusnya pemerintah mengambil langkah untuk menyelesaikan kemiskinan. Sebab kemiskinan inilah yang menggerakkan perempuan termasuk para ibu yang terpaksa untuk bekerja mencari nafkah sehingga secara terpaksa pula harus mengabaikan hak-hak anak.”

Kini polisi sudah menetapkan NU, seorang ibu muda, sebagai tersangka penganiaya anak kandung. Dan, itu harus dipertanggungjawabkan oleh sang ibu di depan meja hijau kelak. Namun, di balik itu kita percaya, naluri dasar seorang ibu kepada anaknya tak pernah akan hilang. Begitu juga rasa cinta anak pada ibunya tak pernah sirna tanpa sebab-sebab yang sangat mempengaruhi kejiawaan mereka. Kita berdoa agar anak dan ibu itu mendapat hidayah dari Allah Swt sehingga kelak menyatu kembali dalam suasana damai dan penuh kasih sayang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved