SALAMSERAMBI

Untuk Maju, Aceh Harus Andalkan Wisata Syariah

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT mengatakan, Pemerintah Aceh akan mengandalkan wisata halal sebagai brand pariwisata Aceh ke de

Untuk Maju, Aceh Harus  Andalkan Wisata Syariah
SERAMBINEWS.COM/M NASIR YUSUF
Ir Kusmayadi mewakili Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI menyerahkan bantuan berupa pelampung, perlengkapan masak dan perlengkapan shalat kepada kelompok pengelola objek wisata Aceh Besar di pantai Ujong Batee, Rabu (23/4). 

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT mengatakan, Pemerintah Aceh akan mengandalkan wisata halal sebagai brand  pariwisata Aceh ke depan. Penerapan syariat Islam di Aceh menjadi kebanggaan dan landasan utama dalam pengembangan brand  wisata halal, sehingga diharapkan mampu menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Tanah Rencong.

"Syariat Islam menjadi kebanggaan masyarakat Aceh, karena itu syariat adalah  branded  wisata halal kita," ujar Nova pada Malam Penganugerahan Wisata Halal sekaligus Launching Logo Brand Wisata Halal Aceh di Hotel Hermes, Banda Aceh, Jumat (6/12).

Ditegaskan, kehadiran wisata halal sebagai daya jual parawisata Aceh tak akan mengenyampingkan pariwisata lainnya. Wisata halal justru akan menjadi pelengkap wisata lainnya yang ada di Aceh. Menurut Nova, Aceh punya banyak objek wisata yang sangat menarik dan unik. Saat ini, objek wisata di Aceh tercatat 978 spot wisata, mulai dari wisata bahari, wisata alam, wisata budaya, wisata religius, wisata kuliner, hingga cagar budaya. “Dengan mengusung tagline ‘The Light of Aceh’ (cahaya Aceh), daya tarik itu akan terus kita pasarkan ke dunia internasional, sehingga wisatawan yang datang ke daerah kita terus meningkat," kata Nova.

Nah, apa yang disampaikan Plt Gubernur Aceh itu sungguh menarik. Akan sangat menyemangati para pelaku wisata di Aceh, juga bakal menyenangkan turis domestik dan mancanegara yang akan datang ke Aceh. Namun, Pemerintah Aceh–dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata–hendaknya sadar bahwa sebagai daerah bersyariat Islam, Aceh sebetulnya dapat mengembangkan kekhasannya sebagai daerah wisata syariah yang sifatnya lebih strategis dibandingkan konsep wisata halal. Tak masalah bagi Aceh mengembangkan konsep wisata syariah (sharia tourism) karena DNA wisata Aceh memang syariah.

Hal ini pernah disarankan Staf Khusus Percepatan Pengembangan Wisata Halal Kementerian Pariwisata, Ir Wisnu Rahtomo MM di Banda Aceh, 20 Juli lalu, pada Talkshow Festival Ekonomi Syariah di Gedung Taman Budaya Aceh. Ia juga mengungkapkan bahwa daya tarik utama pariwisata Aceh di mata wisatawan masih bertumpu pada keindahan alamnya dibanding daya tarik budaya dan objek wisata buatan. Untuk itu, daya tarik alam ini harus terus dikelola secara profesional sesuai prinsip visitor management, baik oleh pemerintah maupun oleh pelaku usaha dari sektor swasta di daerah ini. Wisnu tentunya punya cukup data saat berkata demikian. Fakta di lapangan memang menunjukkan bahwa Aceh tergolong “raksasa kaya” dalam hal objek wisata alam, mengingat Aceh punya 803 titik objek wisata dan 774 situs bangunan cagar budaya.

Artinya, apabila keunggulan di sektor wisata alam tadi dikelola dengan baik dan dipadukan dengan daya tarik budayanya, maka semua kita optimis Aceh akan kebanjiran wisatawan.

Oleh karenanya, sangat penting bagi Aceh untuk mempertegas konsep pariwisatanya, tidak cukup hanya dengan mengusung halal tourism yang lingkupnya lebih sempit, sebatas makan minum yang halalan thaiyyiban, tetapi haruslah wisata syariah seperti yang dikembangkan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, maupun Pulau Santen, Banyuwangi, Jawa Timur.

Secara teori, wisata halal dengan wisata syariah relatif beda. Wisata halal adalah bagian kecil dari industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan muslim yang konsep wisatanya merujuk pada aturan-aturan Islam. Namun, wisata halal itu lebih merupakan brand internasional yang ditujukan untuk wisatawan muslim yang berkunjung ke suatu negara, meskipun di negara tersebut pemeluk Islamnya minoritas. Di Thailand atau Bali para wisatawan masih dapat menikmati wisata halal, tapi kalau wisata syariah jelas tidak. Acehlah yang sangat tepat mengusung konsep wisata syariah karena daerah ini bersyariat Islam secara kaffah.

Pencanangan sebagai daerah wisata syariah ini banyak keuntungannya. Salah satunya adalah segmentasi pasarnya semakin jelas. Di Acehlah saat ini yang paling mungkin diterapkan wisata syariah, karena di provinsi ini wisatawan tidak hanya mudah mendapatkan makanan dan minuman halal, tetapi juga tak akan pernah kebingungan mencari masjid. Setiap 1 kilometer ada masjid, sehingga turis muslim bisa melaksanakan shalat tepat waktu. Hotel-hotel dan losmennya juga menerakan arah kiblat di kamar, tersedia sajadah, punya mushala, dan toiletnya juga bersih.

Kultur masyarakatnya pun harus selalu menggambarkan akhlak yang beradab, humanis, toleran, dan memuliakan tamu, sesuai anjuran Islam. Nah, keramahtamahan khas umat bersyariat Islam inilah yang seharusnya kita jual kepada wisatawan muslim yang hendak berkunjung ke Aceh. Intinya, wisata di Aceh harus berbeda dan perbedaan itulah yang akan menjadi keunggulan kita untuk maju pesat di sektor pariwisata. Semoga Aceh selalu di garda terdepan sebagai destinasi wisata syariah kelas dunia.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved