Opini

Saham untuk Negeri  

Salah satunya adalah shifting (pergantian) pola investasi masyarakat. Saat ini telah banyak platform fintech untuk berinvestasi

Saham untuk Negeri   
IST
Ana Fitria, SE, M.Sc, Dosen FEBI UIN Ar-Raniry, Direktur Galeri Investasi Syariah BEI-UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh Ana Fitria, SE, M.Sc, Dosen FEBI UIN Ar-Raniry, Direktur Galeri Investasi Syariah BEI-UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Dalam perkembangan teknologi yang demikian pesat, banyak perubahan yang telah terjadi di dunia. Salah satunya adalah shifting (pergantian) pola investasi masyarakat. Saat ini telah banyak platform fintech untuk berinvestasi dan tidak jarang pula masyarakat terlibat dalam platform fintech bodong yang mengakibatkan kerugian berlipat-lipat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah banyak menutup investasi bodong mulai dari skema Multi Level Marketing (MLM) hingga umrah murah.

Berbicara mengenai investasi tentu saja mengingatkan kita pada tabungan. Namun, investasi jauh daripada hanya sekadar menabung. Investasi adalah menanamkan modal dengan mengharapkan keuntungan di masa yang akan datang dengan mempertimbangkan sejumlah risiko yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, investasi sangat erat kaitannya dengan konsep bagi hasil dengan segala risiko untung rugi yang mungkin timbul di kemudian hari.

Dalam era digital 4.0, ada beberapa hal penting yang wajib digarisbawahi jika ingin melakukan investasi, yaitu: kejelasan bentuk investasi dan keamanan. Banyak orang terjebak dalam kerugian karena mengabaikan kedua hal tersebut dan lebih mengedepankan iming-iming untung besar.

Menjawab hal ini, Pasar Modal hadir sebagai salah satu alternatif investasi yang aman pada tingkat risiko tertentu. Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai lembaga resmi yang menyelenggarakan pasar modal di Indonesia merupakan tempat bertemunya investor dan investee yang aman sehingga investasi di BEI terjamin. Salah satu produk yang ada di BEI adalah saham.

Dalam investasi saham, keamanan investasi dijamin dengan adanya pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) yang menjamin transaksi di bursa, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai lembaga penyimpanan dan penyelesaian transaksi dengan inovasi Single Investor Identification (SID) dan fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas), Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF) sebagai organisasi penyelenggaraan dana perlindungan sekuritas bagi para pemodal, dan organisasi keprofesian lainnya terkait pasar modal. Jadi, jaminan investasi saham termasuk investasi yang aman di Indonesia.

Menjawab kebutuhan pasar saham di negara dengan mayoritas muslim, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) menerbitkan pedoman umum penerapan prinsip syariah di Pasar Modal dalam Fatwa MUI Nomor 40 tahun 2003. Selanjutnya, pada tahun 2011, DSN-MUI menerbitkan fatwa No.80 terkait penerapan prinsip syariah dalam mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas di pasar regular bursa efek. Keberadaan fatwa tersebut kemudian didukung dengan keluarnya Peraturan OJK no.15/POJK.04/2015 tentang penerapan prinsip syariah di pasar modal sebagai bentuk kepastian hukum yang lebih mengikat.

Pentingnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk melakukan investasi sebenarnya bukanlah sebagai alasan keuangan pribadi saja, akan tetapi lebih dari itu, diharapkan masyarakat Indonesia banyak yang menjadi investor di pasar modal terutama generasi milenial sebagai salah satu bentuk "membeli kembali Indonesia".

Menurut Kepala Kantor BEI Perwakilan Aceh dalam Sekolah Pasar Modal yang diadakan di Gedung Auditorium Aly Hasymy UIN Ar-Raniry Banda Aceh Rabu, 4 Desember 2019 lalu, Bursa Efek Indonesia tergolong ke dalam bursa saham yang memberikan keuntungan tinggi di dunia, sehingga sangat disayangkan jika kesempatan ini disia-siakan oleh masyarakat kita, sementara asing terus menginvestasikan dananya di BEI.

Salah satu upaya yang telah dilakukan BEI untuk meningkatkan jumlah investor lokal adalah dengan mengurangi saldo minimal pembukaan rekening saham menjadi Rp 100.000 dan dengan kampanye Yuk Nabung Saham (YKS) agar masyarakat lebih mudah berinvestasi dalam rangka mendukung perekonomian Indonesia. Begitu juga dengan kebijakan pengurangan jumlah lot (satuan investasi saham) yang dulunya 1 lot= 500 lembar menjadi 1 lot=100 lembar.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved