Opini

Memperkuat Dayah Demi Peradaban  

Apabila di benak generasi milenial Aceh luput dari kazhanah tentang eksistensi dayah Aceh era perjuangan kemerdekaan Indonesia

Memperkuat Dayah Demi Peradaban   
IST
Zulfata, S.Ud., M.Ag., Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Oleh Zulfata, S.Ud., M.Ag., Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Apabila di benak generasi milenial Aceh luput dari kazhanah tentang eksistensi dayah Aceh era perjuangan kemerdekaan Indonesia, tentunya akan mengakibatkan petaka sejarah pada upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Aceh. Mencermati perkembagan dayah di era milenial tentunya sungguh berbeda dengan menilai dayah di era kolonial. Dayah (pesantren) sebagai lembaga pendidikan justru memiliki dinamika tersendiri yang berbeda dengan dinamika lembaga pendidikan lainnya di Indonesia.

Sebab keberadaan dayah bukan dibangun dari spirit pendidikan kaum elite, di mana anak-anak "berdarah biru" dapat bersekolah dengan normal di bawah kendali pemerintahan kolonial Belanda. Tetapi dayah di Aceh muncul atas dasar spirit pendidikan religi khas Aceh, di mana dayah tidak saja muncul sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga bagian dari rumah produksi para pejuang kemerdekaan. Atas dasar inilah kajian ini penting untuk digelorakan terhadap generasi Aceh masa kini.

Terlepas dari kontroversial keberadaan dayah yang diasumsikan sukar menerima pembaharuan atau sulit meningkatkan kemajuan sains dan tata kelola ekonomi kreatif. Jangan pula gara-gara anggapan sedemikian melupakan peran atau kontribusi dayah tempo doeloe. Sebab situasi Aceh saat ini tidak lepas dari faktor historis yang begitu membanggakan bagi republik ini. Salah-satu faktor yang menjadikan Aceh membanggakan terletak pada sejarah perjuangan politik keagamaan yang tidak hanya dikenal di nusantara, tetapi juga di kawasan melayu.

Menyederhakan peran dayah agar lebih konkret dapat dilihat pada peran dayah saat melawan kolonial Belanda hingga Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Memahami dua peristiwa yang dialami Aceh tersebut telah membuktikan bahwa dayah pada dasarnya adalah tempat pembinaan karakter pejuang yang tidak hanya berjuang menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga menciptakan sikap perlawanan.

Nama-nama ulama dayah seperti Tgk. Muhammad Saman yang dikenal dengan Chik di Tiro bukanlah sosok yang ditempa melalui lembaga pendidikan kolonial Belanda yang waktu itu berfasilitas lengkap dari dayah. Tetapi Chik di Tiro adalah sosok ulama dayah yang mampu menebar spirit melawan penjajah di kalangan masyarakat Aceh waktu itu. Tidak hanya itu, nama-nama ulama dayah seperti Tgk. Chik di Pasi yang dikenal sebagai ulama pendobrak kemajuan pertanian Aceh, yang pada awalnya julukan pendobrak kemajuan pertanian tersebut dilekatkan pada sosok Tgk. Chik di Bambi dan Tgk. Chik Rebee.

Memahami sekelumit realitas sejarah di atas, apakah perkembangan dayah di Aceh saat ini masih sedemikian? Jawaban pastinya bahwa dayah masa kini tak seutuhnya berjuang, dan tak seutuhnya pula ketinggalan zaman. Yang ada hanyalah anggapan bahwa pemikiran dayah belum seutuhnya dapat bersinergi dengan pola pemikiran kalangan kampus. Sehingga muncul citra sosial di masyarakat Aceh bahwa Aceh mengalami dua golongan ulama, yakni golongan ulama kampus dan ulama dayah.

Sungguh merugi bagi Aceh ketika anggapan bahwa pemikiran ulama dayah atau santrinya mengalami penurunan produktivitas menjadi kenyataan. Hal ini harus disikapi dengan bijak, bukannya saat melihat perkembangan dayah kian merosot kemudian masyarakat Aceh tak lagi peduli dengan dayah. Sikap sedemikianlah yang disebut dengan perilaku pengkhianatan bagi sejarah dayah itu sendiri.

Diakui atau tidak, dayah telah lebih awal berkontribusi bagi peradaban Aceh dari pada kecanggihan teknologi masa kini. Melalui dayah, Aceh memiliki peraturan khusus tentang syariat Islam, bahkan Aceh mendapat gelar Serambi Mekah pun akibat dari peran dayah di dalamnya. Oleh karena itu, peran pemerintah yang kemudian disokong oleh kesadaran publik mesti melihat perkembangan dayah secara profesional. Upaya pembinaan terhadap dayah mesti selalu ada tanpa melalukan diskriminasi terhadap pertumbuhan dayah itu sendiri.

Upaya diskriminasi dayah bukan saja soal aliran dana yang hanya terpusat pada dayah-dayah tertentu saja akibat adanya "orang dalam". Tetapi diskriminasi terhadap dayah juga terjadi akibat pemberian izin pendirian dayah secara semena-mena tanpa mempertimbangkan siapa dan bagaimana pengembangan dayah yang hendak didirikan tersebut.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved