Berita Ekonomi

Waketum Kadin Aceh: Kita jangan Lagi Menjadi Produsen Murah

Nasruddin Abubakar mengatakan selama ini Aceh menjadi produsen murah yang setiap hari mensuplai bahan baku mentah (belum diolah) ke luar Aceh.

Waketum Kadin Aceh: Kita jangan Lagi Menjadi Produsen Murah
For Serambinews.com
Wakil Ketua Umum Aceh Bidang Otonomi dan Kebijakan PubliK, Nasruddin Abubakar. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Wakil Ketua Umum Aceh Bidang Otonomi dan Kebijakan PubliK, Nasruddin Abubakar mengatakan selama ini Aceh menjadi produsen murah yang setiap hari mensuplai bahan baku mentah (belum diolah) ke luar Aceh.

“Kita jangan lagi menjadi produsen murah. Seharusnya Aceh mendapatkan nilai tambah dari hasil produksi petani ini. Sungguh sangat menyedihkan petani kita hampir di semua level pendapatan tidak sesuai dengan pengeluarannya,” kata Nasruddin kepada Serambinews.com, Selasa (11/11/2019).

Untuk mewujudkan ini semua, menurut Nasruddin, Pemerintah Aceh dalam hal ini Gubernur, Bupati dan Walikota harus hadir memberi dukungan dan melibatkan asosiasi-asosiasi pengusaha, khususnya Kadin Aceh yang menjadi mitra pemerintah.

Sehingga akan terlibat aktif membangun industri-industri pengolahan (hilirisasi) di Aceh.

Ia mencontohkan, deklarasi kawasan Takengon (Aceh Tengah) dan sekitarnya sebagai Kota Coffee (Coffee City) pada 7-8 Desember 2019.

Heboh Dana Pengadaan Mobil Dinas dan Kadin Aceh, Golkar: Ini Bukan Kesalahan Nova Sendiri

Pemerintah Diminta Gunakan APBA untuk Sektor Produktif, bukan Konsumtif

Kadin Aceh Versi Mualem Promosikan Aceh ke Doha

Kritisi Anggaran Kadin Aceh, Anggota DPRA, Bardan Sahidi: Lain yang Dibahas, Lain yang Keluar

“Deklarasi ini menjadi spirit untuk kebangkitan ekonomi Aceh di Zona tengah, khususnya pengembangan industri kopi, sehingga Aceh Tengah, Benar Meuriah dan Gayo Lues menjadi produser kopi di Aceh,” kata mantan Wakil Bupati Aceh Timur ini.

Menurutnya, deklarasi ini juga menjadi acuan kabupaten/kota lain di Aceh untuk menciptakan sentral - sentral produksi seperti Idi Rayeuk di Aceh Timur yang terkenal dengan ikannya, seharusnya Idi menjadi Kota Ikan (Fish City), Pidie terkenal dengan Empingnya menjadi Chips City).

Sehingga di zona Timur utara ini tunbuh industri pengelohan ikan dan hasil perkebunan lainnya.

Begitu juga di Zona Barat Selatan yang terkenal dengan produksi pala dan kacangnya sehingga Tapaktuan menjadi Kota Pala (Nutmeg City, Meulaboh menjadi Kota Kacang (Peanuts City)

Kemudian juga beberapa kotamadya seperti Banda Aceh, Sabang dan Langsa yang menjadi kota wisata (Tourism City), sehingga tumbuh industri pariwisatanya dengan produk-produk makanan, cemilan dalam lainnya.

“Demikian beberapa pemikiran yang kami sampaikan, semoga menjadi masukan kepada pemerintah Aceh, agar segera bertindak untuk memajukan ekonomi dan mensejahterakan rakyat Aceh,” pungkasnya. (*)

Penulis: Yusmadi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved