Opini

Peran Keluarga dan Diabetes  

Setiap manusia secara fitrah menginginkan untuk hidup sehat, sehingga memungkinkan ia untuk melakukan berbagai aktivitas

Peran Keluarga dan Diabetes   
IST
dr. Sarah Firdausa, M.Md.Sc. Sp.PD, Pengurus Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Aceh

Oleh dr. Sarah Firdausa, M.Md.Sc. Sp.PD, Pengurus Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Aceh

Setiap manusia secara fitrah menginginkan untuk hidup sehat, sehingga memungkinkan ia untuk melakukan berbagai aktivitas dalam mewujudkan harapan dan berbagai cita-citanya. Sebaliknya, ketika seseorang sakit, terutama penyakit kronis seperti diabetes, darah tinggi, dan penyakit jantung coroner, akan menghadirkan banyak permasalahan, baik bagi pasien, keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Kenyataan yang ada, tren penderita berbagai penyakit kronis dari tahun ke tahun terus meningkat. Sebut saja penyakit diabetes, jumlah penderitanya di dunia pada tahun 2013 sebanyak 380 juta orang, dan diperkirakan jumlahnya meningkat 2x lipat pada tahun 2035 (data dari International Diabetes Federation), dimana setengah di antaranya tidak terdiagnosis, sehingga terancam menjadi progresif dan mengalami komplikasi yang tidak disadari.

Indonesia menempati peringkat ke enam di dunia untuk jumlah penderita diabetes tertinggi. Sementara Aceh, menduduki peringkat ke tujuh di Indonesia, setelah Jakarta, Kalimantan Timur, Yogyakarta, Sulawesi Utara, Jawa Timur, dan Bangka Belitung.

Dalam upaya menanggulangi peningkatan angka penderita diabetes ini, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan dan akan memberi kontribusi signifikan terhadap pencegahan terjadinya diabetes, yaitu mengatur pola hidup sehat dalam keluarga. Mengapa demikian? Karena penyebab utama diabetes adalah pola hidup yang tidak sehat, sementara yang menentukan pola hidup adalah manusia itu sendiri.

Namun, kesadaran terhadap pentingnya menjaga dan menjalankan pola hidup sehat tidak menjadi perhatian banyak orang. Hal ini pernah diingatkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya: "Ada dua nikmat yang banyak manusia lalai dengannya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (H.R. Bukhari).

Dalam rangka memperingati hari diabetes dunia (world diabetes day), tulisan ini bermaksud untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya mensyukuri nikmat sehat dengan melakukan upaya-upaya sederhana namun berkontribusi besar dalam mencegah diabetes.

Kita simak ilustrasi kasus berikut, antara pasien dengan seorang dokter ahli diabetes di RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Seorang laki-laki berusia 48 tahun datang bersama istrinya untuk konsultasi dengan dokter. Ia menceritakan keluhannya berupa kaki sering kebas-kebas, sering terbangun malam hari untuk kencing dan berat badan menurun. Ia juga membawa hasil pemeriksaan laboratorium. Ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya.

Dokter menganalisa hasil laboratorium pasien dan menanyakan beberapa pertanyaan, antara lain: Apakah ada yang menderita diabetes dalam keluarga? Berapa kali makan utama dan snack dalam sehari? Apakah ada merokok? Apakah ada olahraga?

Pasien mengatakan bahwa tidak ada yang sakit diabetes dalam keluarganya. Ia makan utama 3x sehari, namun sering makan snack hingga 5-6x sehari karena ia memang sering nongkrong di warung kopi.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved