JURNALISME WARGA

Air Mata Tumpah di Panti Jompo

AYAH dan ibu adalah orang pertama yang mengenalkan kita pada dunia. Mereka tak kenal lelah menimang, menafkahi, dan mencurahkan kasih sayang

Air Mata Tumpah di Panti Jompo
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Peusangan, Bireuen

CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Peusangan

AYAH dan ibu adalah orang pertama yang mengenalkan kita pada dunia. Mereka tak kenal lelah menimang, menafkahi, dan mencurahkan kasih sayang yang berlimpah untuk kita, anak-anaknya. Mereka selalu berusaha memenuhi sandang dan pangan untuk si buah hatinnya, juga tak pernah meminta kembali apa pun yang diberikan.

Kasih yang paling terasa sepanjang hayat kita adalah kasih sayang ibu. Bunda mencurahkan kasih  sayangnya kepada kita, mulai dari dalam kandungan, berjuang antara hidup dan mati, demi melahirkan generasi penerusnya. Juga tak pernah mengeluh sampai akhirnya dia menangis bahagia ketika mendengar tangisan pertama sang bayi yang dikandungnya selama 9 bulan lebih.

Untuk meningkatkan rasa peduli terhadap sesama dan rasa cinta serta kasih sayang terhadap orang tua, saya bawa  ± 30 mahasiswa Universitas Almuslim untuk melakukan aktivitas sosial dengan tema “Menyayangi Para Lansia” di Panti Jompo Tresna Werdha  Balai Kasih. 

Panti jompo atau panti werdha berasal dari bahasa Bali. Di Barat panti jenis ini disebut retirement home  atau old people's home. Panti merupakan tempat tinggal orang yang berusia lanjut (manula) dengan berbagai alasan. Di Bireuen, panti ini bernama Tresna Werdha  Balai Kasih,  terletak di Jalan Banda Aceh-Medan, tepatnya di Desa Cot Bada, Kecamatan Peusangan.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Kepala Panti, Ibu Yusnidar, aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas di panti ini berjumlah tujuh orang. Di samping itu, ada 12 orang lagi tenaga honorer,  termasuk tukang masak, tukang cuci, satpam, dan cleaning service.  Total penghuni panti yang harus mereka rawat 35 orang, terdiri atas 25 perempuan dan 10 pria.

Saat kami kunjungi, di panti sedang ada pembangunan asrama baru bantuan pemerintah, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Ada beberapa tukang yang sedang sibuk bekerja dan untuk sementara penghuni panti tinggal di rumah dinas yang tersedia untuk pegawai panti.

Sebelum tahun 2018, penghuni panti ini ada yang berasal dari luar Kabupaten Bireuen, tapi saat ini penghuninya hanya dari Bireuen. Menjadi penghuni panti jompo ini harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya berusia minimal 60 tahun, membawa surat izin dari keuchik (kepala desa), surat izin dari keluarga, memiliki kartu tanda penduduk (KTP), kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, kartu kepala keluarga (KK), dan ada nomor handphone pihak keluarga yang dapat dihubungi. 

Jika ada orang-orang telantar yang tidak memiliki persyaratan tersebut sebetulnya dapat juga diterima di panti ini, tapi haruslah diantar oleh aparat desa atau dinas sosial setempat. Namun, ada juga calon penghuni panti yang datang sendiri, bahkan ada yang diantar oleh anak kandungnya. Tak usah kaget. Selalu ada anak-anak yang seperti ini.

Menampung dan memelihara orang telantar adalah manifestasi dari Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi:  Fakir miskin dan anak-anak yang telantar dipelihara oleh negara. Hal ini menjadi dasar penegas mengapa para penghuni panti jompo tidak dipungut dana apa pun karena seluruh biaya operasionalnya ditanggung oleh pemerintah.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved