Jurnalisme Warga

Mahasiswa Diyakinkan bahwa Menulis Bukan Bakat

Sebanyak 20 mahasiswa yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry

Mahasiswa Diyakinkan bahwa Menulis Bukan Bakat
IST
ARKIN, S.IP, Koordinator Aceh Library Consultant, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

OLEH ARKIN, S.IP, Koordinator Aceh Library Consultant, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

Sebanyak 20 mahasiswa yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry dan sejumlah mahasiswa dari fakultas lain di lingkungan UIN maupun dari Universitas Syiah Kuala dibekali pelatihan jurnalistik pada  Jumat (13/12/2019) di Ruang Rapat Lantai 2 UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan FAH UIN Ar-Raniry itu menghadirkan narasumber tunggal, Redaktur Eksekutif Harian Serambi Indonesia yang juga Pembina Forum Aceh Menulis (FAMe), Yarmen Dinamika.

Ketua Pelaksana, Munauwarah menjelaskan bahwa pelatihan jurnalistik itu mengusung tema “Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Berpikir Kritis, Kreatif, dan Inovatif di Era Revolusi Industri 4.0”. Pelatihan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Pekan Literasi Teknologi dan Informasi Mahasiswa (Pelita) III yang dilaksanakan sejak 2017. Tujuannya adalah untuk memberikan edukasi literasi kepada mahasiswa, khususnya generasi milenial dalam menumbuhkan semangat dalam menulis.

Terpisah, Ketua Prodi Ilmu Perpustakaan FAH UIN Ar-Raniry, Nurhayati Ali Hasan MLIS mengatakan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini menjadikan semua orang bisa dengan mudah membuat artikel, berita, dan berbagai informasi lainnya untuk dibagikan melalui media sosial. Namun, untuk menghasilkan produk jurnalistik yang baik maka kita harus memahami tentang dunia jurnalistik, minimal tentang teknik menulis press release,” kata Nurhayati, Sabtu (14/12/2019).

Sementara itu dalam paparannya, Yarmen Dinamika mengatakan bahwa siapa pun bisa jadi penulis, kecuali yang tidak mau. Ia berkali-kali meyakinkan para peserta bahwa menulis itu bukanlah bakat. Sudah menjadi pendapat umum memang bahwa kepenulisan adalah bakat. Tapi, menurut Yarmen, menulis itu sesungguhnya bukanlah bakat, melainkan usaha yang terus diasah dan mendapat apresiasi. 

“Dalam perkembangan ilmu neurologi dan pendidikan menunjukkan bahwa lebih dari 80% kecerdasan seseorang dibangun oleh lingkungan melalui 1) latihan, 2) pembiasaan, dan 3) apresiasi. Bukan bakat yang dominan,” tegas Yarmen.

Ia juga menunjukkan contoh beberapa penulis terkenal dunia, nasional, dan lokal di Aceh yang ayah ibunya ternyata bukan penulis. Kakek dan neneknya juga bukan. Artinya, di tubuhnya tidak mengalir darah atau gen penulis, tapi mereka menjadi penulis terkenal hanya karena giat berlatih. Penulis terkenal Aceh, sebut Yarmen, Teuku Kemal Fasya itu terlahir dari seorang ibu yang berprofesi guru, sedangkan ayahnya seorang dokter.

“Jadi, jangan sampai tidak mau jadi penulis hanya karena merasa tidak berbakat, tidak memiliki dasar berupa kepandaian, sifat, dan pembawaan yang dibawa sejak lahir,” timpal Yarmen.

Ia tambahkan, akan banyak orang tak bisa menulis jika percaya bahwa menulis itu haruslah orang yang berbakat. “Orang jadi tidak bersemangat belajar menulis karena tahu ayah dan ibunya tidak mewariskan bakat menulis kepadanya. Berharap dari kakek atau neneknya juga tidak, karena orang Indonesia sudah mengklaim bahwa ‘nenek moyangku orang pelaut’, jadi bukan penulis,” kata Yarmen berseloroh.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved