Jurnalisme Warga

Mahasiswa Diyakinkan bahwa Menulis Bukan Bakat

Sebanyak 20 mahasiswa yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry

Mahasiswa Diyakinkan bahwa Menulis Bukan Bakat
IST
ARKIN, S.IP, Koordinator Aceh Library Consultant, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

Menurutnya, untuk bisa menjadi penulis ada tiga hambatan psikologis yang harus diruntuhkan.

Pertama, menganggap bahwa menulis itu susah, sehingga enggan untuk belajar menulis. Kedua, merasa tak berbakat sebagai penulis, sehingga merasa percuma saja belajar menulis. Ketiga, merasa menulis itu  tak ada gunanya, sehingga percuma (sia-sia) saja kalaupun pintar menulis.

“Nah, ketiga hal ini harus dikikis dari benak kita, karena inilah biang kerok kenapa orang tak bisa berhasil menjadi penulis. Berlatih itu adalah jalan tol untuk menjadi penulis,” imbuhnya.

Untuk bisa menulis, lajut Yarmen, maka jiwa harus terisi penuh dengan bahan bacaan dan pengalaman lapangan. Tanpa suka membaca, seorang penulis akan terjebak menjadi penulis fiksi, karena hanya mengandalkan daya khayal atau imajinasinya saja. “Untuk menjadi penulis yang hebat, seseorang haruslah menjadi pembaca yang lahap,” ujar Yarmen.

Ia juga mengingatkan, membacalah agar Anda mengenal dunia dan menulislah agar dunia mengenal Anda. “Kerjakanlah apa yang Anda tulis dan tulislah apa yang Anda kerjakan.”

Yarmen menyatakan, mahasiswa sekarang punya banyak peluang untuk menjadi penulis jurnalisme warga atau citizen reporter, karena beberapa media sudah membuka rubrik ini. Salah satunya adalah Harian Serambi Indonesia. “Nah, kalau Anda bepergian di dalam negeri dan ingin mereportasekan sesuatu kepada publik, maka tulislah jurnalisme warga. Tapi, saat Anda ke luar negeri, tulislah citizen reporter,” ucap Yarmen.

Menulis jurnalisme warga itu, menurut Yarmen, lebih mudah dibandingkan membuat artikel opini, karena jurnalisme warga hanya mengandalkan apa yang dilihat, didengar, dan dialami, lalu dilaporkan. Sedangkan artikel opini umumnya mengandalkan penalaran dan tentu saja harus didukung data, fakta, landasan teori, serta ketajaman analisis.

Yarmen juga mengingatkan, menulis itu pada dasarnya menghubungkan pikiran Anda dengan pikiran orang lain melalui tulisan. Menulis adalah pekerjaan membuang yang tidak perlu dan meringkaskan sisanya, sehingga tulisan tidak bertele-tele. “Dilema para penulis pemula adalah susah memulai tulisan dan tidak tahu kapan harus berhenti,” tukas Yarmen.

Ia juga mengutip pernyataan sejumlah sastrawan dan penulis terkenal untuk menyemangati para peserta. Menurut William Shakespeare, kalau ingin dikenang setelah kematianAnda, maka menulislah! Sedangkan penulis terkenal Indonesia, Gol A Gong menyerukan melalui bukunya: Jangan mau gak menulis seumur hidup.

Yarmen juga mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib: Bingkailah ilmu dengan cara menuliskannya. Jadi, selain membaca, kita juga harus menulis. Bahkan dalam Alquran ada perintah agar kita menuliskan utang agar tidak lupa.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved