Breaking News:

Aksi Kemanusiaan Guru di Aceh Tamiang, Mengayuh Perahu Bagikan Nasi Bungkus untuk Korban Banjir

Pernah menjadi korban banjir bandang pada tahun 2006 lalu, menjadikan Suriyani MY SPd lebih peduli terhadap sesama

Editor: bakri
DOK PRIBADI
Suriyani membagikan nasi bungkus kepada korban banjir di Lapangan Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, beberapa waktu lalu. 

Suriyani sudah total menceburkan diri ke jalur kemanusiaan dan berkomitmen untuk terus berada di ranah ini. Dia memastikan tidak mencari apa-apa dalam misi ini, kecuali ridha Allah SWT.

Pernah menjadi korban banjir bandang pada tahun 2006 lalu, menjadikan Suriyani MY SPd lebih peduli terhadap sesama. Setahun terakhir, perempaun ini tidak pernah absen membagikan nasi bungkus secara gratis kepada masyarakat.

Melalui bendera Berbagi Nasi Tamiang (Bernas) yang ia bentuk bersama teman-temannya, Suriyani memang sudah berhasil menggugah kepedulian masyarakat untuk berdonasi dalam bentuk nasi bungkus. Alasan dipilihnya nasi bungkus sebagai barang yang didonasi ini pun sederhana yaitu selain murah dan tidak membebani donatur, nasi merupakan makanan pokok yang selalu dibutuhkan manusia.

“Kami ingin membantu orang tanpa membebani orang lain yang berniat memberi bantuan,” kata Suriyani kepada Serambi, Selasa (17/12/2019). Aktivitas itu dilakukan setiap jumat dengan mengumpulkan nasi bungkus bantuan dari siapa saja dan kemudian disalurkan untuk masyarakat yang membutuhkan. Suriyani bersama tim relawannya biasa menyasar pasien di RSUD Aceh Tamiang atau ke persimpangan jalan untuk berbagi dengan tukang becak.

“Donasi dalam bentuk uang juga akan kami belikan nasi bungkus,” lanjut perempuan yang kesehariannya bertugas sebagai guru PNS pada salah satu sekolah dasar negeri (SDN) di Aceh Tamiang ini.

Rutinintas itu berubah ke yang lebih menantang ketika penyaluran bantuan tersebut diarahkan ke lokasi yang terdampak bencana. Ya, beberapa waktu lalu, Nin--sapaan Suriyani--kedapatan mengayuh sendiri perahu untuk membagikan nasi bungkus ke warga yang terpapar banjir di seputaran Lapangan Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang.

Seluruh rumah di daerah bantaran sungai Tamiang itu terendam dengan ketinggian air lebih dari satu meter. Nin bersama seorang temannya yang juga wanita nekat menerobos banjir mendatangi satu per satu rumah yang tergenang banjir untuk membagikan nasi bungkus. Aksinya itu sempat viral setelah video maupun fotonya mengayuh perahu beredar di media sosial.

“Spontan saja. Ketika tahu di daerah itu banjir, kami langsung ke sana. Spontan saya kayuh perahu karena kasihan banyak warga yang sejak malam sudah tidak makan karena terkurung di rumah,” jelasnya.

Nin memahami betul kondisi korban banjir karena pada tahun 2006 lalu dia bersama keluarganya pernah menjadi korban banjir bandang. Rumahnya di Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang, terendam air yang memaksa dia dan keluarganya mengungsi.

Pengalaman inilah yang menempa Nin menjadi sosok yang sangat peduli terhadap sesama. Tak jarang dirinya dilanda haru luar biasa ketika mendapati warga yang begitu antusias menerima nasi bungkus. Nin juga belum bisa melupakan wajah seorang kakek penderita sakit paru-paru di RSUD Aceh Tamiang yang menjadi langganan nasi bungkus mereka yang baru saja meninggal dunia.

Nasib Nek Semah di Kampung Menanggini, Kecamatan Karangbaru, yang tinggal sendirian juga menjadi perhatian seriusnya. Sakit sesak napas akut membuat Nek Semah tidak mampu lagi beraktivitas lugas. Kondisi ini membuat rumah Nek Semah dipenuhi debu tebal yang memperparah kesehatannya. “Anak-anak Bernas pernah satu hari penuh menghabiskan waktu di rumah Nek Semah untuk membersihkan rumahnya. Debu di rumah Nek Semah sangat tebal, karena memang beliau tidak bisa apa-apa lagi karena sakit,” jelas Nin.

Suriyani sudah total menceburkan diri ke jalur kemanusiaan dan berkomitmen untuk terus berada di ranah ini. Dia memastikan tidak mencari apa-apa dalam misi ini, kecuali ridha Allah SWT. Namun, satu yang menjadi kegalauannya yaitu kaderisasi kaum muda untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dirintis bersama sejumlah temannya. “Sekarang ini sifatnya hanya relawan, artinya tidak ada ikatan. Saya sangat berharap suatu waktu nanti ada anak-anak muda yang memilih jalur kemanusiaan ini secara serius,” tutupnya. (rahmad wiguna)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved