Salam

Tragedi Fazzilul, Potret Pilu Warga Miskin Kita  

Fazzilul Rahman, bocah laki-laki berusia lima tahun yang tinggal di Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat

Tragedi Fazzilul, Potret Pilu Warga Miskin Kita   
SERAMBI/SA’DUL BAHRI
Fauziah, warga Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, yang menderita lumpuh duduk menemani anaknya yang terkurung dalam kerangkeng kayu di gubuk mereka, Rabu (18/12/2019) 

Harian ini kemarin mengedepankan satu laporan paling memilukan di halaman utama. Berita itu sekaligus menjadi gambaraan tentang potret ketidakberdayaan masyarakat kecil di Aceh. Dan, ini menggugah kita untuk bertanya tentang keberadaan pemerintah selaku pihak yang bertanggungjawab mengurusi fakir miskin, anak yatim, dan anak-anak telantar.

Adalah Fazzilul Rahman, bocah laki-laki berusia lima tahun yang tinggal di Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Sejak usia enam bulan, ia harus hidup di dalam kurungan kayu berukuran 1 x 1 meter. Bocah kurus yang tunawicara ini tinggal bersama ibunya, seorang janda berusia 55 tahun yang dalam kondisi lumpuh.

Ketika wartawan harian ini berkunjung ke kediamannya dua hari lalu, Fazzilul terlihat sedang memandang ke luar dari balik jerjak sambil menyandarkan kepalanya ke bilah kayu. Matanya memandang ke luar melihat teman-teman sebayanya bermain. Terkadang tatapan matanya terlihat kosong. Saat disapa, Fazzilul terdiam. Hanya tangan lembutnya yang menyapa ramah.

Begitulah Fazzilul Rahman, menghabiskan waktunya sejak usia masih enam bulan, tidur, bermain, dan makan. Ia dipindahkan ke dalam rumah hanya saat tidur malam.

Fazzilul harus menghadapi kondisi ini karena sang ibu, Fauziah, mengalami kelumpuhan, sehingga tak berdaya untuk mengurusinya. Mereka mendiami gubuk berukuran 3x3 meter, di atas tanah milik orang lain. Gubuk reot itu hanya beratapkan rumbia dan sangat tidak layak huni. Saat hujan, tetesan air jatuh hingga membasahi tempat tidurnya. Di dalam gubuk ini ia tinggal bertiga dengan dua anaknya. Selain Fazzilul, juga ada anak keduanya yang perempuan berusia 15 tahun.

Sang ibu tak bercerita banyak hal ikhwal hingga Fazzilul dikerangkeng. Ia hanya mengisahkan kondisi hidupnya yang memprihatinkan sejak kepergian sang suami, sehingga anaknya kini menjadi yatim. ASaya tidak sangup menjaga anak saya yang satu ini, karena saat dilepaskan, ia mengambil semua barang yang ada dan melemparkannya ke luar, dan jika ke luar rumah ia masuk ke hutan. Ditambah lagi saya sudah lumpuh dan tidak berdaya lagi mengurusnya,@ ujar Fauziah.

Ia juga mengungkapkan bahwa anaknya ini mengalami tunawicara sehingga tidak bisa diajak bicara. Fazzilul juga tidak mau makan nasi. ASatu suap nasi masuk ke mulut, langsung ia muntah, sehingga makanan sehari-harinya roti keju. Kalau sudah lapar, ia hanya menangis sebagai tanda mau makan,@ ungkapnya.

Apapun latar belakang orangtuanya tidak penting buat kita. Yang kita catat adalah Fazzilul terlahir dari keluarga miskin. Lalu menjadi yatim dan hidup pula bersama ibunya yang lumpuh secara fisik dan ekonomi. Artinya, kenyataan itu telah menggambarkan kepada kita tentang begitu pahit nasib orang-orang kecil. Bersamaan dengan itu, apa yang dialami bocah Fazzilul sekaligus mengindikasikan ada kelalaian pemerintah dalam mengurus fakir miskin dan anak yatim.

Okelah pemerintah tak alpa dalam meberikan bantuan semacam makanan, tapi Amembiarkan@ seorang anak manusia yang tunawicara bertahun-tahun hidup dalam kurungan adalah kelalaian besar pemerintah dan kita semua. Anak itu berhak hidup bebas. Raganya tak boleh terkekang. Apalagi, usianya sudah berhak mendapat pendidikan formal, maka Fazzilul Rahman harus masuk sekolah sebagaimana anak-anak lainnya.Ini amanah undang-undang dasar negera kita.

Selain itu, ke depannya kita sangat berharap Fazzilul Rahman tidak lagi merasa terkucilkan. Ia tidak boleh kehilangan hak-hak dasarnya. Pemerintah dan kita semua harus pula tersentak untuk kemudian menyadari bahwa setiap orang tidak memperlakukan atau membiarkan para fakir miskin dan anak seperti Fazzilul hidup merana. Pemerin bersalah secara hukum dan kita masyarakat bersalah secara moral jika membiarkan anak-anak hidup di kerangkeng seperti Fazzilul.

Sebab, sesungguhnya Fazzilul dan ibunya yang lumpuh itu berhak mendapat layanan kesehatan, layanan pendidikan, bahkan tempat tinggal yang layak. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved