Jurnalisme Warga

Menilik Ritual Muqaddam di Pidie

Pidie merupakan salah satu kabupaten dalam Provinsi Aceh. Secara geografis, letaknya pada koordinat 04,30º-04,60º Lintang Utara

Menilik Ritual Muqaddam di Pidie
IST
AMARULLAH YACOB, Guru MTsS Unggul Nurur Rasyad Al-Aziziyah Pidie dan Anggota FAMe Chapter Pidie Raya, melaporkan dari Sigli, Pidie

OLEH AMARULLAH YACOB, Guru MTsS Unggul Nurur Rasyad Al-Aziziyah Pidie dan Anggota FAMe Chapter Pidie Raya, melaporkan dari Sigli, Pidie

Pidie merupakan salah satu kabupaten dalam Provinsi Aceh. Secara geografis, letaknya pada koordinat 04,30º-04,60º Lintang Utara dan 95,75º-96,20º Bujur Timur. Luas keseluruhan Kabupaten Pidie mencapai 3.562, 14 km2. Daerah ini menyimpan ragam kekhasan tersendiri yang menjadi daya tarik untuk dikaji lebih lanjut, mulai dari segi agama, sosial, politik, ekonomi, bahkan segi budaya yang sampai saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat. Salah satu warisan budaya Pidie yang tergolong unik adalah ritual muqaddam.

Muqaddam  berasal dari bahasa Arab, kata dasarnya qadama  yang berarti pendahuluan. Pengertian secara lebih luas dapat dipahami sebagai sebuah ritual yang dilakukan oleh petani sebagai upaya memohon perlindungan kepada Allah Swt atas padi yang ditanam. Pemberian nama ritual ini sebenarnya merujuk dari nama kitab yang dibacakan pada saat prosesi awal memulai ritual sehingga masyarakat menyebutnya ritual  muqaddam.

Namun, tidak semua area persawahan di Pidie melaksanakan ritual ini, melainkan hanya terbatas pada sawah yang dialiri  lueng bintang (nama aliran air) saja. Biasanya ritual ini dilakukan saat  dara pade (padi berusia 40-55 hari pascatanam). Jika dikaji dari perspektif  ilmu pertanian, usia tersebut menunjukkan bahwa tanaman padi masih dalam fase vegetatif. Pada fase ini terjadi perkembangan akar, daun, dan batang baru pada tanaman padi.

Pelopor Muqaddam

Lahirnya ritual muqaddam tak terlepas dari peranan seorang ulama karismatik Pidie bernama lengkap Syaikh Abdus Salam bin Syaikh Burhanuddin bin Syaikh Ahmad Al-Qusyasyi al-Madani bin Syaikh Muhammad Al-Madani al-Anshary bin Syaikh Yunus. Masyarakat setempat memberi dua lakab kepadanya, yaitu Teungku Syiek di Pasi dan Teungku Syiek di Waido.

Selain alim dalam disiplin ilmu agama, beliau juga memiliki kapasitas dalam ilmu terapan, salah satunya ilmu  agricultural science  yang mengkaji bidang pertanian. Di sini dapat dipahami bahwa kedudukan Tgk Syiek tidak hanya sebagai ulama pendidikan, tetapi juga sebagai ulama pergerakan, terutama pergerakan dalam menata ekonomi masyarakat.

 Banyak kontribusinya dalam pertanian, antara lain, mencetuskan ide pembuatan irigasi untuk pengairan sawah masyarakat. Bekas irigasi ini masih dapat dilihat di Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro, Pidie. Sumbangsih lain yang tidak kalah penting dari Teungku Syiek adalah memberi gagasan lahirnya kegiatan ritual muqaddam.

Tujuan diadakan muqaddam sebagai bentuk taqarrub  (mendekatkan diri) kepada Allah Yang Maha Pemberi Rezeki, diharapkan padi yang ditanam bebas dari gangguan hama dan penyakit. Tujuan ritual ini memiliki korelasi dengan ajaran Islam, sebagaimana termaktub dalam Alquran Surah Ala’raf ayat 96:  Kalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi jika mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Ritual Muqaddam

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved