JURNALISME WARGA

Renungan di Kapal Apung Lampulo

MENJELANG hari refleksi tsunami Aceh, 26 Desember, untuk kesekian kalinya saya ajak rekan saya dari Sulawesi yang tertarik pada keberadaan

Renungan di Kapal Apung Lampulo
IST
Zulfata, S.Ud., M.Ag , Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

ZULFATA, M.Ag., Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, melaporkan dari Banda Aceh

MENJELANG hari refleksi tsunami Aceh, 26 Desember, untuk kesekian kalinya saya ajak rekan saya dari Sulawesi yang tertarik pada keberadaan monumen kapal apung di kawasan Lampulo, Banda Aceh, untuk datang ke Lampulo.  Setibanya di lokasi, rekan saya yang bernama Pahrian itu merasa takjub seraya berucap “masyaallah” ketika melihat boat yang berdiri kokoh di atas rumah bekas hantaman gelombang tsunami.

Pahrian langsung menyusuri ruang-ruang rumah yang porak-poranda di bawah Kapal Apung Lampulo (KAL) itu sambil melihat bagian bawah kapal. Seterusnya ia bertanya kepada saya dengan logat Makassarnya, “Wah, ini benar asli kejadiannya, Kak?” Lantas saya jawab, “Ya benarlah, emang ada manusia kurang kerjaan yang meletakkan kapal di atas rumah warga seperti ini,” ujar saya sambil berguyon.

Selanjutnya, saya jelaskan kepada Pahrian bahwa pada awalnya boat di atas rumah itu adalah boat nelayan warga setempat yang digunakan untuk menangkap ikan. Tidak diketahui secara pasti waktu kejadian tsunami apakah boat tersebut sedang berada di tengah lautan atau di Dermaga Lampulo yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari jarak boat terdampar.

Menurut masyarakat sekitar, KAL ketika gelombang tsunami melanda Aceh telah menyelamatkan sejumlah warga yang sempat naik atau bergelantungan di kapal tersebut. Berat boat ini diperkirakan 65 ton dengan panjang sekitar 25 meter, kemudian “mendarat” di atas sebuah rumah warga Lampulo. Pemilik rumah tersebut akhirnya mengikhlaskan untuk kemudian menjadikan rumahnya sebagai monumen bersejarah dengan kapal yang berada di atas rumahnya.

Yang ingin saya sampaikan melalui reportase ini bukanlah bagaimana pengalaman kami saat merefleksikan tragedi tsunami di  Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, waktu itu atau bukan pula ingin menguraikan sejarah utuh kejadian KAL, tetapi saya ingin mereportasekan bahwa ada rasa yang berbeda antara saya dan rekan saya saat merenung di balik monumen KAL tersebut.

Bagi rekan saya, ia beranggapan bahwa Aceh memang hebat dan tangguh, karena mampu “menyulap” bencana menjadi situs monumen sejarah bagi anak cucu Aceh di masa depan. Kemudian, dalam anggapannya secara psikis masyarakat Aceh dianggapnya cepat lepas dari sikap traumatik ketika tragedi tsunami melanda Aceh di tahun 2004 tersebut. Lalu rekan saya ini mengambil kesimpulan bahwa Aceh kian hebat dan tangguh tentunya tidak lepas dari kekuatan spritualitas atau kesalehan sosial masyarakat dan pemerintahannya. “Sungguh nilai keislaman telah mengkristal dalam pemerintah dan masyarakat Aceh,” demikianlah pernyataan penutup Pahrian saat kami berada di kawasan KAL.

Dalam pikiran saya terbersit bahwa wajar rekan saya ini merasa dan berkesimpulan sedemikian karena semua itu pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Aceh dan baru pertama kalinya pula datang ke KAL. Tetapi berbeda dengan saya selaku putra Aceh yang sering membawa rekan lainnya dari luar Sumatera untuk mengunjungi beberapa monumen tragedi tsunami Aceh. Di sela waktu, saya terkadang merasa gundah gulana dan sedikit tersenyum saat merenungkan terkait pola rawatan KAL yang masih jauh dari kategori perawatan monumen secara idealnya oleh pemerintah yang berwenang.

Jika saat ini pembaca mengunjungi KAL, maka tampaklah betapa sedihnya kita melihat fisik boat tersebut yang sudah mulai lapuk karena hujan, lekang karena matahari. Padahal, sebagai situs sejarah yang penting untuk diwariskan kepada generasi Aceh di masa mendatang dengan tidak diganti dengan monumen replika sejarah. Saat itu saya bertanya dalam hati bahwa jika seandainya nanti generasi Aceh hanya mampu melihat dan menyentuh KAL buatan sebagai pengganti yang aslinya, karena yang asli telah rapuh karena usia, maka akan samakah nilai sejarahnya? Reportase ini tidak hanya menjadi renungan pribadi, tetapi juga saya harapkan dapat mendorong pemerintah yang berwenang untuk peduli terhadap keaslian dan keeksotisan  monumen KAL tersebut.

Di sisi lain, saya juga merasa sedih saat melihat idealitas tragedi KAL dengan realitas aktivitas sosial masyarakat Aceh kekinian. Kesedihan ini terjadi karena dalam hati saya sungguh risih melihat fenomena masyarakat Aceh dua tahun terakhir yang aktif memberitakan soal pembunuhan dan perselingkuhan dalam lingkup kekeluargaan. Seakan-akan masyarakat Aceh lupa dengan yang namanya azab dari Sang Pencipta. 

Mungkin apa yang saya sampaikan dalam reportase ini hanya sekadar pelampiasan kerisihan personal semata, tapi bukan berarti kerisihan ini dianggap dengan sebelah mata oleh masyarakat dan Pemerintah Aceh. Karena, di akhir tahun 2019 ini patutlah kita bertanya kepada diri masing-masing sudah di manakah penguatan kesalehan sosial masyarakat Aceh pascatsunami? Jika kita berpandangan bahwa monumen tragedi tsunami sebagai simbol pengingat agar kita selalu beriktibar--hingga tidak melakukan segala sesuatu yang menjauhi sikap ketakwaan kepada Allah-- maka sudah sepantasnya masyarakat kita benar-benar mengambil pelajaran dari nilai-nilai yang tersirat di balik monumen tragedi tsunami yang di antaranya adalah monumen KAL.

Dari beberapa hasil penelitian mendeskripsikan bahwa tragedi tsunami Aceh tidak hanya mengubah dimensi ekonomi dan keagamaan Aceh, tetapi juga menjadi pusat perhatian dunia terhadap Aceh. Jika direnungkan lebih jauh, maka terdapat dua aspek renungan Monumen Tragedi Tsunami Aceh (MTTA) yang mesti dipahami sebagai berikut.

Pertama, MTTA sebagai pendorong pembangunan infrastruktur. Setelah tragedi tsunami Aceh, berbagai bantuan internasional datang ke Aceh, puluhan negara turut menyumbang bantuan dari berbagai bentuk, di antaranya dalam bentuk rumah bantuan bagi korban tsunami, jalan diperbaiki, sekolah dibangun, dan kampus direnovasi. Tidak lebih dari lima tahun pascatsunami, infrastruktur Aceh waktu itu telah normal, bahkan dianggap lebih maju daripada sebelum dilanda tsunami. Inilah salah satu hikmah dari dampak tsunami Aceh bagi percepatan pembangunan infrastuktur di bumi Serambi Mekkah.

Kedua, MTTA sebagai hubungan internasional. Dampak dominannya bantuan internasional yang “menghujani” Aceh waktu lalu, ternyata membuka jalan bagi Aceh untuk menjalin silaturahmi (diplomasi) dengan negara-negara asing. Pada posisi ini Aceh hingga saat ini masih menjadi pusat perhatian dunia, baik dalam hal pembelajaran hubungan internasional pascatsunami maupun dalam konteks investasi pengelolaan sumber daya alam.

Dua aspek renungan di atas seyogianya dapat menjadi kerangka pikir bagi publik bahwa momen refleksi tsunami Aceh saat tidak hanya dijadikan momen seremonial atau prosesi mendoakan para korban tsunami, tetapi labih dari itu bahwa refleksi tsunami Aceh juga dapat menjadi momen berkaca diri untuk mengevaluasi Aceh saat ini dan di kemudian hari, yakni menjawab pertanyaan sudah seberapa berkomitmenkah masyarakat dan Pemerintah Aceh mampu mengambil pelajaran di balik keberadaan monumen tragedi tsunami untuk menjadi pemerintahan yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved