Pesisir Langsa Dipenuhi Burung Migrasi

Puluhan jenis burung terus bermigrasi ke kawasan pesisir Kota Langsa, termasuk selama terjadinya gerhana Matahari

Editor: hasyim
Foto: LSM Bale Juroeng
Burung migrasi di kawasan pesisir dan hutan manggrove di Kota Langsa. 

* Hutan Mangrove Jadi Tempat Persinggahan

LANGSA - Puluhan jenis burung terus bermigrasi ke kawasan pesisir Kota Langsa, termasuk selama terjadinya gerhana Matahari pada Kamis (26/12) siang. Kawasan wisata Hutan Mangrove tetap menjadi tempat persinggahan burung sebelum bermigrasi ke daerah lainnya di Indonesia.

Relawan LSM Bale Juroeng ikut memantau beberapa titik pergerakan burung migrasi di pesisir timur pantai Aceh, khususnya di sekitar Hutan Mangrove Kota Langsa. Rutinitas ini sudah berjalan sejak Nopember 2019, dengan tujuan meneliti burung migran dan burung endemik lokal terhadap fenomena alam yaitu gerhana Matahari Total pada 26 Desember 2019.

Titik pengamatan terbagi dalam tiga lokasi yaitu Gampong Cinta Raja, Kecamatan Langsa Timur, dan gampong-gampong di perbatasan Kota Langsa serta Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Tiur.  Bahkan, termasuk pesisir pantai Kuala Langsa serta desa Sungai Lueng, tepatnya di Posko Persingahan Rumah Relawan LSM Bale Juroeng.

Fenomena alam gerhana Matahari ini juga menarik perhatian seluruh lapisan masyarakat yang tahun ini bersamaan dengan peringatan gempa dan tsunami ke-15. Menurut catatan masyarakat pada 26 Desember 2004, pascabencana tsunami, burung-burung pantai berhamburan beterbangan menuju dataran tinggi.

Kaitan antara bencana tsunami 2004 dan fenomena alam gerhana matahari yang terjadi bersamaan ini. Menarik minat penggiat lingkungan dari LSM Bale Juroeng untuk menelitinya, sebagai pembelajaran agar lebih peduli untuk menjaga lingkungan beserta isinya.

"Sejak datanganya berbagai jenis burung migrasi di pesisir timur pantai Aceh di Oktober 2019, sungguh luar biasa banyaknya," kata Direktur LSM Bale Juroeng, Iskandar Haka, kepada Serambi, Kamis (26/12).  Menurutnya, hampir semua jenis burung migrasi yang terdata di Kemitraan Burung Migrasi Nasional telah terlihat di Kota Langsa dan sekitarnya.

Dikatakan, persinggahan burung migrasi di pesisir timur pantai Aceh membentang sepanjang 25 km dari Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa sampai Kabupaten Aceh Tamiang. "Kami telah membentuk Komunitas Langsa Birding dengan Ketua Pelaksana Harian dipimpin  oleh Teuku Feriadi atau teman-teman relawan memanggilnya Tengku Abhie," ujarnya.

Dia menambahkan, besarnya potensi terhadap keberadaan burung migrasi untuk singgah sementara di sekitar Kota Langsa. Ditambahkan, menjadikan keberadan mereka sebagai salah satu potensi ekologi yang bisa dikemas menjadi potensi sosial, serta potensi ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Disebutkan, bagi relawan,  kegiatan ini merupakan hoby, terutama dalam menjaga hutan mangrove secara bijaksana, berkelanjutan dan bertanggung jawab, khusus terhadap potensi pemanfaatan keberadaan burung migrasi ini. Iskandar menambahkan pihaknya telah menjalankan serangkaian program kerja sama yang tidak mengikat dengan banyak stake holder baik yang berada di Aceh maupun nasional dan internasional.

Disebutkan, burung merupakan satwa lemah, diburu dan dipelihara, terutama karena keindahan suara dan warnanya, dan juga untuk dikonsumsi. Dia menjelaskan kegiatan tersebut bisa dilaksanakan tentu harus sesuai dengan perundangan yang berlaku, tetapi di sisi lain, burung migrasi dan endemik lokal banyak yang terancam punah.  “Untuk itu, salah satu pengelolaan dari hasil hutan non kayu melalui penyusunan suatu langkah melalui tangan-tangan terampil dan bijaksana,” ujarnya.(zb)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved