Berita Aceh Besar

Petani Cabai di Kutamalaka Berhasil Tingkatkan Hasil Panen Menggunakan Pupuk Hayati Cair

Baru dua bulan sejak penanaman, tanaman cabai sudah berbuah, dan panen pertama sudah bisa dilakukan saat tanaman berusia kurang dari tiga bulan.

Petani Cabai di Kutamalaka Berhasil Tingkatkan Hasil Panen Menggunakan Pupuk Hayati Cair - azwirtanamcabe.jpg
Serambinews.com
Azwir menunjukkan tanaman cabai yang berumur belum sampai tiga bulan, tapi sudah memasuki masa panen pertama, Kamis (27/12/2019).
Petani Cabai di Kutamalaka Berhasil Tingkatkan Hasil Panen Menggunakan Pupuk Hayati Cair - cabeazwir.jpg
Serambinews.com
Tanaman cabai yang berumur belum sampai tiga bulan, tapi sudah memasuki masa panen pertama, Kamis (27/12/2019).

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Petani cabai di Kecamatan Kuta Malaka, Aceh Besar, sukses mengaplikasikan pupuk hayati cair untuk meningkatkan hasil panen pada tanaman cabai.

Azwir yang menggunakan pupuk ini untuk cabai yang ditanamnya, mengatakan pupuk cair dengan merk Biopastonic ini diaplikasikannya saat pengolahan tanah, sebelum bedeng ditutup dengan plastik mulsa, menjelang penanaman dilakukan.

“Hasilnya, baru dua bulan sejak penanaman, tanaman cabai sudah berbuah, dan panen pertama bisa dilakukan saat tanaman berusia kurang dari tiga bulan. Padahal, biasanya tanaman cabai baru mengeluarkan buah di usia tanam 3-4 bulan,” katanya Kamis (27/12/2019).

Ini dimungkinkan karena pupuk hayati cair Biopastonic berfungsi maksimal dalam memacu pertumbuhan akar, tunas, bunga dan buah.

Buah yang dihasilkan pun cukup melimpah. Rata-rata setiap batang cabai menghasilkan 1-3 Kg cabai pada panen pertama. Dan setiap batang bisa mencapai 2-4 kali panen dengan kualitas buah sangat baik.

Meski masih menggunakan pupuk berbahan kimia untuk mendukung pertumbuhan tanaman, namun menurut Azwir tingkat pemakaian pupuk kimia tidak lagi sebanyak biasanya.

Ini disebabkan kondisi tanah menjadi lebih kaya dengan unsur hara setelah menggunakan pupuk Biopastonic tersebut.

Untuk mengaplikasikannya pada tanaman muda/semusim, seperti cabai, tomat, kacang-kacangan dan sayuran, pupuk ini juga bisa disemprotkan langsung pada daun, batang dan tanah saat tanaman berumur 2-3 minggu, serta pada saat pengisian buah.

Sedangkan untuk tanaman keras seperti kopi, cokelat, sawit, karet dan lainnya, pemupukan bisa dilakukan dengan menyiram pada bagian akar tanaman 1 kali dalam sebulan.

Azwir mengatakan, dari pengamatannya, penggunaan pupuk hayati cair Biopastonic ini juga membuat tanaman cabai lebih tahan terhadap serangan hama, dan dapat memperpanjang umur produksi tanaman.

Pupuk ini pun ramah lingkungan karena dibuat dari bahan tumbuh-tumbuhan yang difermentasi, tanpa penambahan zat sintetis sama sekali. Sehingga tidak akan merusak struktur tanah, malah sangat baik dalam meningkatkan mikroorganisme dalam tanah yang berguna bagi tanaman.

Pupuk Biopastonic ini juga bebas dari bakteri merugikan seperti Ecoli dan Salmonella, karena pupuk ini bukan dibuat dari limbah/kotoran hewan maupun manusia.

Karena itu, ia menyarankan pihak terkait seperti Dinas Pertanian Aceh maupun Aceh Besar, mendukung penggunaan pupuk Biopastonic ini oleh petani secara luas, untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia bersubsidi yang kini mulai sulit didapat.

Dan terkait cara mengaplikasikannya, Azwir bersedia berbagi pengalaman seperti yang sudah diterapkannya, dan terbukti sukses.(*)

Peringatan BMKG: Waspadai Topan Phanfone Pada Sabtu Besok, Bisa Sebabkan Hujan Lebat

Viral Driver Ojek Online Bawa Kabur Pesanan Notebook Senilai Rp 22 Juta, Ini Penjelasan Gojek

2 Polisi Penyerang Novel Baswedan Ditangkap Usai Penyidik Periksa 73 Saksi, RM & NB Masih Diperiksa

Penulis: Taufik Hidayat
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved