Film Meutia, Sisi Lain Konflik Aceh  

SEKELOMPOK warga keluar dari rimbunan hutan sambil menandu mayat dalam ayunan kain sarung. Wajah beberapa wanita tua

Film Meutia, Sisi Lain Konflik Aceh   
IST
Film Meutia, Sisi Lain Konflik Aceh

SEKELOMPOK warga keluar dari rimbunan hutan sambil menandu mayat dalam ayunan kain sarung. Wajah beberapa wanita tua tampak layu, kesedihan memuncah dalam diri mereka. Tak lama berselang, beberapa serdadu militer dengan senjata lengkap memeriksa KTP Merah Putih pemuda setempat. Satu truk reo melintas, suasana mencekam tergambar jelas.

Dua adegan itu dari film Meutia itu berhasil membawa kenangan ke penonton kembali ke masa beberapa tahun silam, saat konflik bersenjata berkepanjangan di Aceh. Film Meutia bercerita tentang sosok Meutia, seorang perempuan yang ditinggal pergi suaminya tanpa ada kabar. Setiap hari wanita ini menunggu kepulangan sang suami yang tidak diketahui rimbanya.

Meskipun tidak banyak mengeluh atau menangisi keadaan, namun dibalik itu, Meutia memendam kemelut dalam hatinya, karena hampir setiap hari mendapatkan kabar orang-orang terdekatnya ditemukan sudah menjadi mayat. Sedangkan kabar tentang suaminya tak pernah ia dapatkan.

Ia membesarkan anak laki-laki semata wayangnya bersama sang mertua di salah satu kampung pedalaman Aceh. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh tarik pukat. Kala malam beranjak, Meutia harus menidurkan putranya diantaranya dentuman peluru yang bersahut-sahutan. Dalam film yang disutradarai oleh Beni Arona itu, sosok Meutia diperankan oleh Vira D Lesmana. Sementara penulis naskah dan ide cerita oleh Nazar Sah Alam dan DOP oleh Robi Novrian.

Beni Arona menyampaikan, film Meutia ini mengambarkan sisi lain dari konflik bersenjata di Aceh. Meutia digambarkan sebagai sosok perempuan yang mengalami dampak langsung dari konflik, ia harus berjauhan dari suami tanpa ada kejelasan. Menurut Beni, sosok Meutia merupakan gambaran secara umum perempuan di masa konflik.

Sementara Nazar Sah Alam mengatakan, film itu sudah dipoduksi pada 2016 lalu. Namun karena ada beberapa kendala, akhirnya baru bisa dirampungkan pada akhir 2019. "Film ini menggambarkan posisi perempuan saat konflik terjadi di negerinya. Melalui Meutia, kita gambarkan perempuan mengalami luka yang kompleks. Karena suaminya ikut berperang, maupun suaminya bisa tertembak meksi tidak berperang," ujar Nazar.

Film berdurasi 24 menit ini menggambarkan secara ringkas kondisi konflik di setiap adegannya. Meskipun dalam film itu tidak dijelaskan secara rinci, namun sangat jelas menggambarkan suasana konflik Aceh.

Lalu bagaimana akhir kisah Meutia bersama anak semata wayangnya, akankah ia bertemu dengan suami atau hanya akan melihat jasad sang suami? Film Meutia akan tayang perdana malam ini, Sabtu (28/12), di Taman Budaya, Banda Aceh. Rencananya film tentang sejarah kelam Aceh ini juga akan diikutkan dalam festival. (Muhammad Nasir)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved