JURNALISME WARGA

Ja Pucandu dan Sepasang Gajah Sigeundiek di Lamkuta

CERITA masa lalu sering tersembunyi di balik nama sebuah desa atau gampong, termasuk di Provinsi Aceh. Cerita rakyat berupa legenda

Ja Pucandu dan Sepasang Gajah Sigeundiek di Lamkuta
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Peusangan, Bireuen

CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua

CERITA masa lalu sering tersembunyi di balik nama sebuah desa atau gampong, termasuk di Provinsi Aceh. Cerita rakyat  berupa legenda atau kisah sebuah desa sering tidak tercatat dalam sejarah, tapi diakui secara turun-temurun oleh masyarakatnya. Ada tradisi bahkan ritual yang terkadang harus dilakukan. Jika tidak, maka akan terjadi sesuatu, ya sebutlah semacam bala atau tulah (kemalangan). Namun, banyak juga orang yang mengatakan bahwa itu adalah mitos, meski ada juga yang sebagian mengatakan itu justru kenyataan atau realita yang harus dipatuhi.

Salah satu desa yang termasuk dalam cerita sejarah dan legenda adalah Gampong Lamkuta di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Desa Lamkuta dapat ditempuh ± 15 menit perjalanan dari ibu kota Kecamatan Peusangan, Matangglumpang Dua. Desa ini merupakan desa tertua di Kecamatan Jangka dengan jumlah penduduk hanya 300 jiwa.

Asal mula nama Desa Lamkuta, yaitu dari  kata “Lam”  dan “Kuta”. Lam artinya di dalam  (bahasa Aceh), sedangkan kuta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tempat berlindung.  Begitu juga dalam bahasa Aceh, kuta bermakna kubu/pertahanan. Jadi, artinya tempat pertahanan atau berlindung dari serangan musuh.

Sampai saat ini masih  dapat kita lihat sisa zaman perang di Lamkuta, berupa gundukan tanah yang dulu dijadikan bunker atau tempat pertahanan perang di bawah tanah, karena pada zaman dulu semasa perang melawan Belanda dan Jepang Lamkuta menjadi pusat pertahanan perang di wilayah Bireuen, terutama di Peusangan.  Bukti sejarah terjadinya  “Perang Krueng Panjoe”  yaitu perang Indonesia melawan Jepang pada 24 November 1945,  dapat  kita lihat di tugu dan prasasti yang terletak tidak terlalu jauh dari pinggir jalan nasional, tepatnya di Desa Meuse, Kecamatan Peusangan.

Ada sebelas tokoh pemimpin yang namanya terukir pada  prasasti tersebut yang ikut bertempur pada masa itu, yakni Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk Ismail AR, Tgk H Mohd Thahir Mahmud, dan lain-lain. Ada juga para syuhada yang gugur dalam perang tersebut, di antaranya Mandor Basyah, Tgk H Cut Ben, Tgk H Krueng, dan lain-lain. Namun sayangnya, bukti sejarah tersebut belum terawat dengan baik.

Menurut informasi yang saya dapat dari Munawir, Keuchik Lamkuta bahwa penduduk Lamkuta  mayoritas bekerja sebagai petani, dengan latar belakang pendidikan rata-rata tingkat  SLTA, dan SMP. Hanya beberapa orang saja yang sarjana. Pria yang baru berusia 35 tahun ini juga mengatakan, karena minimnya keahlian sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki terkadang menjadi kendala mengapa Desa Lamkuta lambat perkembangannya jika dibandingkan dengan desa lain di Kecamatan Jangka.

Masyarakat Lamkuta hidupnya juga sederhana, tidak ada yang kaya, tetapi hidup berkecukupan.

Namun, di balik itu ada juga cerita legenda yang dipercaya secara turun-temururn oleh masyarakat Lamkuta, sebagaimana dikisahkan salah seorang tokoh masyarakat bernama Nek Him, orang tertua di Lamkuta yang disampaikan oleh Tgk Nasruddin Ahmad berumur ± 70 tahun. Ia yang pernah menjadi mukim di Lamkuta Jangka menyebutkan bahwa Desa Lamkuta sudah ada sejak 1.300 tahun lalu. Dulunya desa ini bernama Meunasah  Buloh, digagas oleh serombongan orang pedagang dari Gujarat, India yang datang melewati Selat Malaka dan mendarat di Kuala Jangka. Saat itu Desa Meunasah  Buloh masih berupa hutan belantara yang banyak binatang buasnya, seperti harimau dan ular.

Kepala rombongan  itu bernama Ja Peucandu. Mereka membabat hutan belantara menjadi daerah permukiman. Ja Peucandu atau Raja Kecil adalah seorang tabib, di samping itu ia juga suka  menangkap ikan di alue (anak sungai) dengan alat tradisional  angkoi (jaring angkat). Lalu  pada suatu malam, tepatnya 27 Ramadhan dia pergi ke alue  untuk menangkap ikan. Namun, sampai menjelang sahur ikan tak juga didapat. Menjelang pulang naiklah seekor hewan mirip kura-kura tetapi berbelalai. Hewan ini dinamakan gajah sigeundiek. Ja Peucandu melepaskan kembali binatang itu ke alue  sampai tujuh kali, namun ia naik lagi. Akhirnya, Ja Peucandu membawanya pulang dan disimpan di bawah belanga di atas para (tempat menyimpan perlengkapan memasak di dapur bagi orang Aceh).

Keesokan malamnya Ja Peucandu pergi lagi ke alue dan ternyata kejadian yang aneh itu terulang kembali. Dia mendapati seekor gajah sigeundiek naik lagi ke jala kemudian dibawa pulang dan disimpan lagi di tempat yang sama. Pada Lebaran Idul Fitri ketiga Ja Peucandu  teringat dengan sepasang gajah sigeundiek apakah masih hidup, lalu diberi makan berupa nasi putih dicampur dengan kelapa kukur. Esok harinya dia buka belanga dan alangkah terkejutnya begitu melihat kotoran binatang tersebut adalah butiran emas sebesar biji jagung dan hari ke hari semakin banyak, maka jadilah dia saudagar kaya dan mampu membangun istana pada masa itu di Lamkuta. Ia juga membangun rumah rakyat di perkampungan tersebut.  Ja Peucandu juga membangun Masjid Jamik Lamkuta pada tahun 1830.

Karena kekayaannya Ja Peucandu  hidup tidak tenang, selalu waswas karena sering dikejar-kejar oleh penjahat atau orang-orang yang mengicar hartanya. Sebelum meninggalkan Desa Lamkuta dia bersumpah bahwa masyarakat Lamkuta tidak boleh ada yang kaya, karena akan mengalami hal seperti dirinya.  Kemudian dia pergi meninggalkan Desa Lamkuta dengan menunggang seekor kuda putih didampingi oleh pengawalnya bernama Baja Banta dengan nama asli Basyar Mahedi. Dia membawa sepasang gajah sigeundiek dan satu peti emas,  akhirnya Ja Peucandu bersama pengawalnya sampai di hutan rimba di ujung hulu sebuah sungai, kemudian gajah sigeundiek dibuang bersama dengan peti emas ke dalam sungai, maka sungai tersebut dikenal dengan nama “Krueng Meuh” yang terletak di Pante Karya, Kecamatan Peusangan, Siblah Krueng.

Dari cerita legenda tersebut, dipercaya atau tidak, kehidupan masyarakat Desa Lamkuta pada kenyataannya memang sederhana, tidak ada rumah mewah yang berdiri kokoh di sana, tidak ada unit usaha yang megah. Walaupun Lamkuta menjadi daerah lintasan menuju Kecamatan Jangka, tapi perkembanganya tertinggal dibandingkan dengan desa di sekitarnya. Menurut Pak Munawir, bantuan dana desa hanya mampu digunakan untuk operasional pemerintahan seperti gaji perangkat desa, pembangunan fisik, sedangkan bidang pemberdayaan terasa sulit untuk dikembangkan, karena tenaga SDM yang memilki keahlian tidak ada. Kalaupun ada, mereka lebih memilih meninggalkan Desa Lamkuta untuk berkarier di daerah lain.

Apakah ini ada hubungannya dengan sumpah masa lalu? Kita hanya mampu berusaha dan berdoa, tapi Allah jua yang menentukaan segalanya. Menjadi kaya bukanlah tujuan dalam hidup. Tapi dengan kaya kita bisa banyak bersedekah dan bisa membantu banyak orang yang membutuhkan bantuan.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved