Senin, 8 Juni 2026

Heboh Medan Magnet di Aceh Besar, Dari Respons Warga Hingga Pendapat Para Ahli

Kawasan pegunungan yang biasa disebut Bukit Radar di Blangbintang Aceh Besar, Senin (6/1) kemarin mendadak ramai

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBI/HENDRI
Para akademisi dan pakar geologi dari Universitas Syiah Kuala melakukan penelitian Medan Magnet di Perbukitan Blang Bintang, Aceh Besar, Senin (06/01/2020). 

Kawasan pegunungan yang biasa disebut Bukit Radar di Blangbintang Aceh Besar, Senin (6/1) kemarin mendadak ramai. Kawasan yang disebut-sebut sebagai medan magnet ini menarik perhatian banyak orang, tak hanya warga biasa, tapi juga para pakar geologi dan kebencanaan. Berikut laporannya.

Nurlina, ibu rumah tangga dari Kabupaten Bireuen, adalah salah satu warga yang sengaja datang untuk menjajal kehebohan medan magnet di jalan lintas Blangbintang tembus ke Krueng Raya, Aceh Besar ini. Nurlina datang dengan mobil Avanza bersama suami dan anggota keluarganya.

Setiba di lokasi, sang suami yang duduk di belakang kemudi kemudian memindahkan persneling ke posisi netral. Namun mobilnya tetap dibiarkan menyala. "Saya nggak begitu percaya kalau belum membuktikannya sendiri. Kebetulan saat ini kami sedang ada acara di Banda Aceh, sekalian kemari begitu tahu ada berita heboh ini," ujar Nurlina menjawab Serambi di lokasi.

Hasilnya, mobil itu berjalan, seperti tertarik ke arah yang secara kasat mata terlihat menanjak. Nurlina mengaku bingung dengan kondisi tersebut. "Saya hanya ingin membuktikannya langsung dengan keluarga tentang hebohnya berita tentang temuan medan magnet ini. Kesimpulannya, mobil yang dikemudikan suami saat dalam posisi netral tertarik ke arah tanjakan," sebutnya.

Satu keluarga dari Abdya juga menyambangi lokasi tersebut, kemarin. Mereka juga mengetahui kabar tersebut dari hebohnya pemberitaan dan media sosial sepanjang satu hari kemarin.

Pantauan Serambi di lokasi banyak warga yang datang ke lokasi yang berada di koordinat 5.53193995.490278 pada google map. Umumnya mereka yang datang ke sana membuktikan langsung dan menguji coba masing-masing kendaraannya.

Hasil penelitian

Fenomena medan magnet di kawasan Blangbintang, Kabupaten Aceh Besar yang viral sejak Minggu (5/1) bukan hanya menyedot perhatian masyarakat, tapi juga ‘menggelitik’ para pakar untuk pembuktian secara ilmiah.

Senin siang (6/1), satu tim yang dipimpin oleh Dr Muksin Umar melakukan penelitian langsung di lokasi. Dr Muksin Umar adalah Dosen Fisika FMIPA Unsyiah, yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Aceh dan peneliti pada Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDRMC) Aceh.

Dr Muksin datang bersama beberapa orang lain dan membawa serta sejumlah peralatan yang dibutuhkan. Di antara alat yang digunakan adalah klinometer, sebuah alat sederhana untuk mengukur sudut elevasi yang dibentuk antara garis datar dengan sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada garis datar tersebut dengan titik puncak (ujung) suatu obyek.

Setelah melakukan penelitian selama beberapa jam, mereka menarik kesimpulan, tidak terdapat medan magnet di lokasi tersebut. Ilmuwan geomagnetic ini menjelaskan, video yang memperlihatkan mobil dan beberapa benda ditarik, karena di sana struktur tanahnya miring. “Hasil penggukuran kemiringan, jalan ini emang miring. Kalau misalkan ada mobil akan turun sendiri,” katanya.

“Berdasarkan hasil penggukuran kita peroleh kemiringan tiga sampai lima meter,” ujarnya. Alat lain yang digunakan adalah teslameter, yaitu pengukur medan magnet. Alat ini mampu mengukur statis (dc) medan bolak-balik (ac). Hasilnya terlihat tidak ada anomali yang luar biasa di lokasi tersebut. “Terlihat angka 41 tidak begitu besar, tidak ada anomali luar biasa. Kalau mengandung magnet, angkanya jauh,” kata Dr Muksin.

Berdasarkan hasil dari penelitian, tim ahli tersebut menyimpulkan bahwa mobil jalan sendiri murni karena faktor kemiringan, bukan karena tarikan magnet.

Ilusi optik

Lalu bagaimana mobil itu bisa menurun, sedangkan jalanan di lokasi tersebut terlihat menanjak? Dr Nazli Ismail, Peneliti Geofisika pada Laboratoorium Geofisika dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala, memberikan penjelasannya terhadap pertanyaan ini. 

Nazli yang secara khusus mengirimkan tanggapan kepada Serambi kemarin menjelaskan, fenomena gunung magnet seperti yang ditemukan di kawasan Blangbintang, bukan hal yang pertama terjadi di dunia. Masih banyak simpang-siur penyebab kejadian tersebut. Terjadi berbagai pemahaman masyarakat, tetapi pada kondisi yang sangat berbahaya ketika peristiwa tersebut dikaitkan dengan hal-hal yang mistis.

Oleh karena, katanya, perlu diberikan penjelasan secara ilmiah tentang fenomena yang viral tersebut. Untuk memastikan penyebab utamanya maka perlu dilakukan observasi di lapangan secara geofisika, misalnya dengan melakukan pengukuran elevasi, baik secara sederhana menggunakan waterpass, theodolite, maupun peralatan GPS geodetik.

Peralatan semacam ini diperlukan jika diduga bahwa peristiwa pergerakan kendaraan yang seolah-olah melawan arah gravitasi tersebut terjadi karena faktor perubahan ketinggian. Dugaan yang paling mudah diprediksi terhadap fenomena tersebut adalah karena pengaruh perbedaan ketinggian, sehingga terjadi gaya tarik gravitasi.

Di kalangan masyarakat, fenomena ini dikenal dengan istilah gravity hill.  Fenomena gravity hill adalah tempat yang hakikatnya merupakan daerah penurunan, tetapi seolah-olah terlihat seperti tanjakan karena adanya ilusi optik di sekitar lokasi. Ini, katanya bisa terjadi pada alam yang terbuka dengan intensitas cahaya matahari cukup tinggi.

Pada kondisi seperti ini orang akan terkecoh melihat lintasan yang berupa turunan seolah-olah berupa tanjakan. Pada kasus yang lebih ekstrem, tidak hanya mobil yang seolah-olah bergerak ke arah tanjakan (melawan arah gravitasi) tetapi juga dapat terlihat seolah-olah air mengalir ke tempat yang lebih tinggi. “Di kalangan masyarakat awam istilah gravity hill ini juga dikenal dengan nama magnetic hill atau yang dikenal luas sekarang dengan jabal magnet,” kata Nazli yang juga unsur Dewan Pakar Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) Aceh.

Memang pada hakikatnya magnet dapat menarik benda-benda yang terbuat dari atau bahan magnetik seperti logam. Sebagian besar material perakit mobil terbuat dari logam, oleh karena itu pada fenomena ‘jabal magnet’ ini dipercaya karena ada tarikan magnet bumi yang kuat. “Akan tetapi, jika benda-benda lain seperti botol plastik juga dapat bergulir, maka dapat dipastikan bahwa fenomena ini bukan disebabkan oleh tarikan medan magnetik,” ujar peneliti tersebut.

Akan tetapi lebih kuat oleh adanya tarikan gravitasi bumi yang terjadi karena adanya perbedaan ketinggian atau daerah turunan (meskipun seolah-olah terlihat seperti tanjakan).

Terkadang, lanjut Nazli, ilusi optik ini bukan hanya dapat memperlihatkan daerah turunan seperti tanjakan, tapi juga terjadi saat melihat batang pohon pada areal yang luas. Seolah terlihat bengkok, padahal pohon itu berdiri tegak.

Fenomena seperti ini juga bisa terlihat ketika sebagian pensil dimasukkan ke dalam air di dalam akuarium, dan sebagian lagi dibiarkan di udara. Pensil tersebut seolah-olah kelihatan bengkok karena adanya perbedaan kerapatan yang sangat mencolok antara air dengan udara.

Di bagian akhir penjelasannya, Nazli menyarankan agar fenomena ilusi optik di kawasan perbukitan Blangbintang ini perlu diberdayakan, supaya dapat mengangkat industri pariwisata di Aceh Besar. “Jangan sampai mengarah ke mistis, tetapi fenomena alam yang langka ini mesti diberdayakan,” demikian Nazli Ismail.(mir/nas)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved