Jurnalisme Warga

Jami'atuddiniyah Blang Paseh, Lembaga Pendidikan Kaum Moderat  

MENGUNJUNGI Kota Sigli tepatnya daerah Blang Paseh, mata kita sejenak dimanjakan oleh sebuah bangunan usang yang masih

Jami'atuddiniyah Blang Paseh, Lembaga Pendidikan Kaum Moderat   
IST
AMARULLAH YACOB, Guru MTsS Unggul Nurur Rasyad Al-Aziziyah Pidie dan Anggota FAMe Chapter Pidie Raya, melaporkan dari Sigli, Pidie

OLEH AMARULLAH YACOB, Guru MTsS Unggul Nurur Rasyad Al- Aziziyah Pidie dan Anggota FAMe Chapter Pidie Raya, melaporkan dari Sigli, Pidie

MENGUNJUNGI Kota Sigli tepatnya daerah Blang Paseh, mata kita sejenak dimanjakan  oleh sebuah bangunan usang yang masih berdiri kokoh di pinggiran pusat perkotaan. Bangunan dengan gaya arsitektur klasik khas abad 20 awal ini menjulang dengan gagah ke langit.

Dilihat sekilas memang tidak ada nilai lebih dari bangunan ini, bahkan sebagian orang menganggap bangunan tersebut hanyalah bangunan biasa sama seperti bangunan-bangunan lain pada umumnya. Namun, jika ditelusuri lebih dalam akan diketahui bahwa di balik bangunan tua tersebut tersimpan nilai sejarah yang amat tinggi.

Masyhur bangunan tersebut dengan nama Jami’atuddiniyah Sa’adah Al- Abadiyah, difungsikan sebagai pusat pendidikan pribumi kala itu. Dalam panggung sejarah peradaban Aceh, peran lembaga pendidikan yang satu ini tidak dapat diabaikan karena telah banyak memberi sumbangsih yang signifikan dalam membentuk karakter dan mengubah pola pikir masyarakat.

Banyak di antara tokoh-tokoh penting di Aceh jebolan dari lembaga pendidikan ini. Salah satu di antaranya ialah Teungku Hasan di Tiro, sang deklarator Gerakan Aceh Merdeka. Walaupun corak pendidikannya berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan sebelumnya, seperti dayah atau zawiyah yang lebih awal berkembang di Aceh, keberadaan Jami’atuddiniyah Sa’adah Al-Abadiyah mampu merebut hati masyarakat sebagai tempat baru dalam menuntut ilmu pengetahuan.

Sejarah berdirinya Lahirnya Jami’atuddiniyah Sa’adah Al-Abadiyah tidak lepas dari prakarsa Teungku Muhammad Daud Beureueh, seorang ulama moderat yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan  masyarakat Aceh. Posisi strategis yang diduduki oleh Daud Beureueh mampu menggerakkan dan merangkul semangat masyarakat dalam membenah pendidikan. Jami’atuddiniyah di Blang Paseh mulai dibangun sejak tahun 1929, kira-kira satu tahun setelah kembalinya Daud Beureueh dari mengajar di Uteun Bayi,Lhokseumawe. Jika dilihat da ri tahun pem bangunannya, dapat di pa hami bahwa Aceh masih berada dalam kurun waktu penjajahan pihak asing.

Sebenarnya Jami’atuddiniyah Sa’adah Al- Aba di yah berawal dari per kumpulan-perkumpulan keagamaan yang memiliki ca bang di seluruh Aceh. Kekuatan ya ng terhimpun dari perkumpulan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal penggerak pembangunan wadah pendidikan di Blang Paseh. Konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Jami’atuddiniyah sedikit lebih maju ketimbang lembaga pendidikan lain pada saat itu. Kurikulum yang diterapkan mengadopsi kurikulum pendidikan modern. Di sini tidak hanya dipelajari ilmu agama, tetapi juga diajarkan ilmu-ilmu umum seperti ilmu politik, tafsir, astronomi, matematika, dan ilmu sains lainnya.

Kebijakan mengubah kurikulum tidak serta merta dilakukan, melainkan atas dasar pijakan yang jelas. Pada periode masa kejayaan Islam, Eropa bukanlah kekuatan yang harus diperhitungkan.  Umat Islam mampu menguasai multisektor, bahkan tidak tanggungtanggung sepertiga dunia dalam genggaman pihak muslim. Namun, keadaan berubah setelah terjadinya renaisanse Eropa, maka berpindahlah kekuasaan dari Timur ke Barat, Eropa dahulunya dipandang bak kucing mungil tanpa kekuatan berubah menjadi singa ganas yang sangat berbahaya dan mematikan.

Pascarenaisanse mulailah orangorang Eropa menginvansi tanah-tanah muslim yang ada di berbagai penjuru dunia, termasuk Aceh. Penjajahan yang dilancarkan bangsa Barat selain menguras hasil kekayaan alam, turut pula membatasi pendidikan masyakat akar rumput. Dayah-dayah serta perpustakaan yang menyimpan berbagai bidang ilmu di Aceh dibumihanguskan, para ulama diper sekusi dan dibunuh, bahkan lembaga pendidikan yang ada di bawah daerah kekuasaan penjajah dikontrol sangat ketat.

Beberapa disiplin ilmu pengetahuan umum dihilangkan di dayah-dayah karena dianggap membahayakan eksistensi Belanda, sehingga lama-kelamaan pendidikan di Aceh ber angsur menurun dan tertinggal. Atas dasar inilah  Teungku Muhammad Daud Beureueh beserta para ulama lain yang memiliki kesamaan pandangan tersulut semangat Panislamisme, lalu menggagas un tuk men dirikan Jamiatud diyah Sa’adah Al-Abadiyah di Blang Paseh, dengan harapan dapat mengatasi ketertinggalan aki bat penjajahan pi hak asing dan mampu merajut persatuan semua elemen muslim (polyethnic brotherhood of Moslem).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved