Salam

Jamaluddin Ternyata Korban Familicide  

Polisi sudah mengungkap misteri kematian hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin, dan sebagian masyarakat pun terperangah

Jamaluddin Ternyata Korban Familicide   
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Kasus pembunuhan hakim Jamaluddin - Istri korban pembunuhan yang menjadi tersangka dan juga otak pelaku Zuraida Hanum saat memaparkan kasus pembunuhan Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan Jamaluddin di Mapolda Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Rabu (8/1/2020). 

Polisi sudah mengungkap misteri kematian hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin, dan sebagian masyarakat pun terperangah. Adalah Zuraida Hanum, istri korban, yang ternyata menjadi dalang pembunuhan tersebut. Dalam aksinya, Zuraida dibantu dua orang suruhannya. ”Ada tiga pelaku, yang pertama istri korban, dengan dua orang suruhannya. Istri korban inisial ZH, sedangkan orang suruhannya JB dan R,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono, di Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Zuraida dan dua orang suruhannya itu sudah ditangkap di lokasi berbeda setelah polisi melakukan penyelidikan dan penyidikan menggunakan metode deduktif dan induktif. Di antaranya mulai dari olah TKP hingga penelusuran pekerjaan hakim Jamaluddin. ”Induktif itu mulai dari TKP di rumah maupun tempat pembuangan mobil. Kemudian deduktif itu berkaitan dengan pekerjaan,” rincinya.

Argo menjelaskan, pembunuhan Hakim Jamaluddin diatur istri korban. Namun, belum diketahui pasti motif pelaku (Zuraida-red) menghabisi suaminya. ”Soal motif dan sebagainya nanti dari Polres (Medan) dan Polda (Sumut),” kata Argo.

Hakim Jamaluddin yang putra Nagan Raya itu ditemukan tewas pada akhir November 2019 lalu dalam mobil Toyota Land Cruiser Prado hitam di jurang kawasan perkebunan sawit Dusun II, Namo Rambe, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Saat ditemukan, jasad Jamaluddin terbujur kaku di kursi bagian tengah mobil. Saat ditemukan tewas, Jamaluddin masih mengenakan pakaian olahraga berwarna biru bertuliskan 'Pengadilan Negeri Medan.' Selain itu ada bekas jerat di lehernya dan airbag mobil dalam kondisi membuka.

Polisi sejak awal sudah menduga bahwa pembunuh hakim Jamaluddin adalah orang dekatnya. Dan setelah dilakukan penyelidikan selama hampir dua bulan, terungkap sang pembunuh ternyata istrinya sendiri dengan dibantu dua orang bayarannya.

Keterlibatan Zuraida sebagai otak pembunuhan suaminya kontras dengan reaksi yang bersangkutan saat melihat jasad suami di RS Bhayangkara Polda Sumut, Jumat (29/11/2019). Saat itu, Zuraida beberapa kali pingsan tidak sadarkan diri. Tribun sempat merekam bagaimana perempuan berusia 41 tahun itu pingsan di dalam mobilnya. Tak hanya itu, saat pemakaman di kampung halaman korban, Zuraida juga menunjukkan ekspresi kesedihan.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah motivasi. Kita tak ingin menduga-duga soal motivasi  tersangka pelaku menghabisi nyawa suaminya dengan cara yang sangat terencana itu. Tapi fakta-fakta di balik kehidupan mereka --yang terungkap di meduia massa dari berbagai sumber belakangan ini-- memang sangat “berwarna” Zuraida bukan istri pertama Jamaluddin, tapi istri kedua setelah Jamaluddin bercerai dengan istri pertama yang masih hidup. Bersama istri pertama Jamaluddin dikaruniai tiga putra putri. Ketiga anaknya hadir saat pemakaman jasad ayahnya di Nagan Raya.

Jamaluddin tergolong hakim yang lumayan makmur dari segi materi. Kehidupan Zuraida yang dipamer di akun media sosialnya juga tergolong mewah. Hakim Jamaluddin punya banyak harta dan bisnis di samping tugas utamanya sebagai hakim di Pengadilan Negeri Medan.

Kasus yang kini menjerat Zuraida Hanum bersama dua orang bayarannya mengingatkan kita pada kasus dengan tersangka pelakunya Aulia Kesuma , perempuan yang tega menghabisi nyawa suami dan anak tirinya pada September 2019.  Aulia Kesuma membunuh suaminya, Edi Chandra Purnama (54) dan anak tirinya, M Adi Pradana (23) karena ingin menguasai harta sang suami, Aulia Kesuma mengatur rencana pembunuhan suaminya dengan menggunakan jasa-jasa pembunuh bayaran.

Kita bertanya-tanya mengapa ada orang yang tega membunuh anggota keluarganya sendiri yang oleh kriminolog disebut familicide? Lalu, apa yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku familicide? Menurut peneliti ada empat faktor yang menyebabkan seseorang tega membunuh keluarganya sendiri. Di antaranya adalah, pertama, karena merasa dikecewakan oleh orang-orang di sekitarnya. Kedua karena kepentingan tertentu terutama menyangkut ekonomi, yakni uang dan harta.

Untuk kasus kematian hakim Jamaluddin, sekali lagi kita sangat berharap masyarakat tidak menduga-duga sendiri motifnya, apalagi dengan menggunakan dasar kabar burung. Hal yang paling bijak bagi kita adalah menunggu pembuktian di pengadilan nanti.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved