Jumat, 10 April 2026

Petani Kewalahan Hadapi Hama, Belasan Hektare Terancam Gagal Panen

Puluhan petani padi di kawasan Gampong Blang Raja, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya) terancam gagal panen

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/RAHMAT SAPUTRA
Belasan hektare sawah di kawasan Gampong Blang Raja, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Abdya, terserang hama potong leher, Sabtu (11/1/2020). 

BLANGPIDIE - Puluhan petani padi di kawasan Gampong Blang Raja, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya) terancam gagal panen. Pasalnya, belasan hektare areal persawahan yang sudah hampir panen diserang hama potong leher atau blas. Beragam upaya sudah dicoba, namun hama tersebut cukup bandel sehingga membuat para petani kewalahan.

Keuchik Blang Raja, Kecamatan Babahrot, Ridwan membenarkan, bahwa ada belasan hektare areal sawah milik petani di desanya diserang hama potong leher. "Iya benar, luas yang terserang lebih kurang mencapai 12 hingga 13 hektare," ujar Keuchik Blang Raja, Ridwan kepada Serambi, Sabtu (11/1/2020).

Padahal, beber Ridwan, dalam beberapa hari ke depan, sawah-sawah tersebut akan memasuki masa panen. Namun, akibat terserang hama potong leher yang disebabkan oleh jamur itu, ucapnya, hampir dipastikan hasil panen puluhan petani kali ini akan turun drastis.

Ia menerangkan, serangan hama penyakit potong leher itu sangat cepat menular dan susah dikendalikan bila sudah terserang. "Berbagai upaya telah dilakukan petani, seperti penyemprotan insektisida dan fungisida. Namun, hama potong leher dengan ciri-ciri batang padi membusuk itu, tetap menyerang padi," terangnya.

Bahkan, ulasnya, untuk mengantisipasi agar serangan hama tidak meluas, ada sebagian petani yang memilih melakukan panen lebih cepat dari jadwal seharusnya. "Ya risiko, kalau tidak kita panen lebih awal, maka gagal total. Dengan seperti ini, petani tidak terlalu rugi," ungkapnya.

Ia menyebutkan, rata-rata petani mengalami gagal panen akibat serangan hama tersebut dengan tingkat kerugian berkisar antara 20 persen hingga 70 persen. "Bervariasi, ada yang 50 persen, ada yang gagal mencapai 70 persen. Biasanya 7 hingga 9 ton per hektare, kini ada yang dapat 3 dan 4 ton saja per hektare," sebut dia.

Ia mengungkapkan, salah satu penyebab adanya hama potong leher atau blas itu biasanya disebabkan hewan serangga kecil seperti kupu-kupu (kupu kaper). "Luar biasa bahayanya hama ini, berbagai varietas ikut terserang, termasuk kristal dan ABT. Memang kalau ABT tidak terlalu banyak seperti yang lain," tukas Keuchik Ridwan.

Lebih lanjut, Keuchik Blang Raja, Kecamatan Babahrot, Abdya, Ridwan memaparkan, serangan hama potong leher atau blas itu tak memandang varietas padi. Pasalnya, urai Ridwan, varietas padi Batuta (Batat Tungang) juga ikut terserang, padahal bibit ini sangat dikenal tahan terhadap serangan hama penyakit.

“Namun kali ini, padi andalan petani ini juga tak luput dari serangan hama potong leher. Cara melihat terserang hama ini sangat sederhana, karena dari kejauhan padi yang terkena hama penyakit itu berwarna kuning agak kecoklatan," ulas dia.

Ia berharap, ke depan serangan hama atau penyakit tersebut bisa dideteksi sedini mungkin, sehingga ciri-cirinya bisa diketahui oleh petani. "Kami berharap, musim tanam kali ini, ada bibit unggul dan tahan hama penyakit," pungkasnya.(c50)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved