JURNALISME WARGA

“Kampung Inggris” Pare, Miniatur Nusantara

PARE, nama daerah yang tidak asing lagi di telinga sebagian orang di Tanah Air, terutama bagi pencinta bahasa Inggris

“Kampung Inggris” Pare, Miniatur Nusantara
IST
AGUSLIJAR, S.T, alumnus dan Pengajar di Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Aceh Besar

AGUSLIJAR, S.T, alumnus dan Pengajar di Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Aceh Besar, melaporkan dari Pare, Jawa Timur

PARE, nama daerah yang tidak asing lagi di telinga sebagian orang di Tanah Air, terutama bagi pencinta bahasa Inggris. Julukan “Kampung Inggris” sudah semenjak lama melekat pada daerah ini, sebuah kecamatan di Provinsi Jawa Timur.

Banyak informasi beredar di masyarakat tentang Pare yang kemudian menciptakan beragam ekspektasi, mulai dari kampung yang banyak dihuni oleh bule (foreigner), kampung yang semua masyarakatnya hingga penjual cendol kelilingnya pun berbahasa Inggris, dan beberapa ekspektasi lainnya.

Bisa saya katakan, kebanyakan ekspektasinya meleset atau kurang tepat. Namun, Pare punya hal lain yang mungkin masih belum menjadi ekspektasi bagi masyarakat yang belum pernah berkunjung ke sini. Dalam reportase ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman yang saya dapatkan selama belajar di Pare.

Saya berangkat ke Pare dalam rangka mendampingi para santri Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) untuk belajar bahasa Inggris selama sebulan. Program ini merupakan program tahunan yang diadakan oleh Pesantren RIAB Aceh  Besar. Kami berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda dan tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma. Perjalanan dilanjutkan menggunakan kereta api dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Kediri yang memerlukan waktu kurang lebih 13 jam.

Dari Stasiun Kediri menuju Pare menggunakan bus dan menghabiskan waktu setengah jam.

Tiba di Pare sekitar jam 14.00 WIB. Kami tidak menjumpai bule di sini, mulai dari  sopir bus hingga beberapa yang menyambut kami juga berbahasa Indonesia dengan logat khas Jawa dan beberapa logat daerah lainnya. Tentunya sangat berbeda dengan ekspektasi yang telah saya sebutkan di atas.

Sore harinya setelah menunaikan shalat Asar, kami coba beranjak ke luar dari kamp (tempat penginapan) untuk melihat-lihat keadaan sekitar. Dari sini sudah terlihat pemandangan yang bisa dikatakan sangat jarang dijumpai di daerah-daerah lain, bahkan di daerah perkampungan sekalipun. Salah satunya budaya bersepeda. Mereka yang belajar di sini hampir semuanya menggunakan sepeda untuk bepergian. Hanya satu dua yang terlihat mengendarai sepeda motor dan mobil, mungkin yang mengendarainya juga penduduk asli setempat. Sepeda-sepeda ini bisa disewa di tempat-tempat rental sepeda yang banyak dijumpai di sini.

Para pendatang atau pelajar yang kami temui di sini tidak hanya berasal dari Jawa Timur atau Pulau Jawa saja, tetapi sangat beragam. Mulai dari Aceh hingga Papua. Jadi, tidak berlebihan kalau saya menyebut Pare sebagai “Miniatur Nusantara” dalam hal keberagaman pendatang yang belajar di sini.

Selanjutnya, di sepanjang jalan yang kami lewati juga terdapat lembaga-lembaga kursus yang sangat banyak. Menariknya adalah, ternyata tidak hanya kursus bahasa Inggris yang ada di sini, tetapi juga terdapat kursus bahasa Arab, Jepang, Mandirin, dan sebagainya.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved