Opini

Krisis Politik?   

Penampilan dan performan politik yang berkembang saat ini menjadi semakin mudah dipahami, semua dapat berubah sesuai keinginan

Krisis Politik?    
IST
Taufiq Abdul Rahim, Ketua LP4M Unmuha dan Pengajar FISIP Unsyiah

Oleh Taufiq Abdul Rahim, Ketua LP4M Unmuha dan Pengajar FISIP Unsyiah

Penampilan dan performan politik yang berkembang saat ini menjadi semakin mudah dipahami, semua dapat berubah sesuai keinginan serta kepentingan yang dipraktikkan secara politik. Dengan sistem demokrasi yang berlaku pada negara ini, menjadikan politik semakin sulit dijalankan sesuai prinsip dan konsep keilmuan, etika serta yang pernah berlaku secara empiris dalam konteks sistem yang demokratis sesungguhnya.

Dengan demikian pemahaman "nothing is impossible" (tidak ada yang tidak mungkin) semakin terlihat, maka semua yang mungkin juga serba kemungkinan berlaku. Muculnya secara politik melalui usaha membangun "grand coalition" dalam praktik politik konteks nasional, didukung para pemilik modal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, menjadi suatu fenomena yang menarik dikaji dalam kontek keilmuan politik kontemporer, dapat saja diluar nalar akdemik dan ilmu pengetahuan yang ajeg, dengan bergabungnya berbagai kekuatan politik. Ini dapat dinyatakan kondisi kekuasaan akan menjadi pertanyaan besar.

Akankah menjurus kepada menjadikan politik otoriter? Sehingga mitra kerja politik yang kritis, ini akan semakin sulit dipahami dalam upaya pengawalan perjalanan kerja-kerja kekuasaan politik. Dengan alasan membangun stabilisasi, maka aktivitas kontrol politik akan semakin lemah, kemudian akan mengurangi peran-peran oposisi dalam kehidupan demokrasi politik. Dalam hal ini terlihat serta terbaca target-target politik yang sangat prakmatis akan berlaku dalam sistem politik yang dipahami secara "wajar-wajar" saja.

Namun dipahami serta disadari bahwa, usaha membangun kekuatan untuk kepentingan rakyat yang lebih besar akan sirna dalam menciptakan usaha meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan rakyat yang lebih luas dan komprehensif. Dapat saja jika ada suara-suara memperjuangkan kepentingan rakyat serta kritis akan berhadapan dengan hukum dan pemblokiran secara tidak rasional.

Kemudian apakah koalisi dan aliansi ini menjadi efektif sebagai aktivitas politik yang menguntungkan semua pihak terutama rakyat? Akan tetapi jika kekuatan dan kekuasaan politik akan semakin besar pendukung koalisi, dapat dipastikan dan atau sama sekali rakyat menjadi tidak beruntung terhadap kondisi yang berkembang. Apalagi jika secara sesungguhnya berusaha untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Memahami pemikiran Danil S. Lev (1966), bahwa yang menikmati tambahan kekuasaan akibat perubahan politik adalah kelompok tertentu yang kuat, yang akhirnya menemukan suatu rumusan legitimasi bagi keterlibatannya dalam urusan-urusan politik dan ekonomi negara dalam bentuk perwakilan fungsional.

Hanya saja yang efektif kemudian sebagai check and balance adalah, ekstra parlemen yang terus menerus akan dihadang serta dibatasi gerakannya. Namun demikian, sebuah gerakan perlawanan tidak dapat dianggap enteng, ringan serta sebelah mata. Hanya saja kekuatan ekstra parlemen di tengah kehidupan yang serba materialistik dewasa ini mudah dipecah belah, diadu-domba dan dimasuki kelompoknya dalam usaha menggagalkan setiap gerakan, serta usaha gerakan dan perlawanan yang dilakukan dengan berbagai iming-iming dan fasilitas. Dimana kekuatan ekstra parlemen seringkali berhasil serta mampu meruntuhkan serta melengserkan rezim kekuasaan tanpa berdaya dan bertekuk lutut.

Dalam hal ini, ada juga kelompok yang tersia-siakan dalam koalisi dan diusahakan untuk terus dikontrol serta diredam dengan cara-cara yang tidak santun, bermartabat serta terhormat. Sehingga berbagai usaha menciptakan keseimbangan politik sebagai alasan krusial, usaha ini juga dilakukan dengan membangun kekuatan aliansi yang tergiring oleh kepentingan politik penguasa, kemudian krisis politik yang sudah merupakan warisan dari para pendahulu yang dikemas dengan konteks modern dan kontemporer tidak dapat sepenuhnya dijalankan secara demokratis meskipun media serta sarana demokrasi selalu digunakan pada saat pemilihan umum.

Adanya peran-peran internasional yang tidak mampu dihadapi, ini juga dilakukan dalam usaha merombak sistem perwakilan politik yang sering tidak berdaya dalam koalisi besar yang didasarkan pada partai-partai dan menciptakan sistem baru berdasarkan golongan fungsional dalam partai politik yang berfikir serta berperilaku pragmatis. Hal ini seringkali mengancam eksistensi partai-partai politik itu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved