Opini

Dilema Orang Dengan Gangguan Jiwa  

Harian Serambi Indonesia (22/12/2019) memberitakan peristiwa penebasan seorang wanita di Aceh Selatan hingga meninggal dunia

Dilema Orang Dengan Gangguan Jiwa   
IST
Humaira, Dokter pada Rumah Sakit Jiwa Aceh, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Oleh Humaira, Dokter pada Rumah Sakit Jiwa Aceh, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Harian Serambi Indonesia (22/12/2019) memberitakan peristiwa penebasan seorang wanita di Aceh Selatan hingga meninggal dunia. Pelaku penebasan adalah anak kandung almarhumah. Kejadian ini ironis karena dilakukan di saat sebagian dari kita memperingati Hari Ibu.

Pelaku ternyata adalah pria yang mengidap gangguan jiwa. Tak lama setelah kejadian itu, Harian Pro Haba (30/12/2019) melaporkan empat warga di Aceh Jaya diparang oleh salah seorang dengan gangguan jiwa. Kejadian seperti ini bukan baru kali ini saja tetapi pernah terjadi sebelumnya. Kita bisa bayangkan bagaimana dampak kejadian tersebut bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Rasa ketakutan dan stigma negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sudah pasti terjadi.

Kita tidak dapat menutup mata atas insiden ini. Aceh merupakan salah satu provinsi penyumbang angka skizofrenia tertinggi di Indonesia. Apabila merujuk kepada riset kesehatan dasar tahun 2018, angka skizofrenia di Aceh adalah 9 per mil (angka rata-rata nasional 7 per mil).

Angka tersebut didorong oleh beberapa faktor seperti pengalaman konflik puluhan tahun, bencana gempa dan tsunami, penggunaan narkoba, dan lain- ain. Skizofrenia merupakan salah satu penyakit yang digolongkan ke dalam kriteria gangguan mental serius karena berlangsung kronis atau lama.

ODGJ apabila tidak disikapi secara bijak akan menjadi beban bagi bangsa dan negara. ODGJ berdampak pada penurunan produktivitas, ekonomi penderita dan keluarga. Penderita dan keluarga akan kehilangan banyak waktu, pekerjaan serta pendapatan pada saat harus bolak-balik ke rumah sakit untuk pengobatan maupun sekedar konsultasi.

Bahkan ODGJ juga mempengaruhi ketertiban umum dan menyebabkan keresahan sosial sebagaimana diberitakan di atas. Apabila penanganan ODGJ tepat, penderita dapat berkiprah seperti manusia normal bahkan dapat memiliki prestasi yang di atas rata-rata.

Salah satu ODGJ yang mampu berkontribusi kepada perkembangan dunia adalah peraih hadiah Nobel pada tahun 1994 John Nash. Ia merupakan pakar Matematika yang didiagnosa mengidap Skizofrenia sejak di bangku kuliah dan pernah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.

Berkat dukungan keluarga dan lingkungan (dukungan sosial), John Nash sebagai ODGJ dapat menemukan teori permainan (Game Theory) yang dikenal dengan Nash Equilibrium. Teori itu menjadi landasan bagi perekonomian modern. Kisah hidup ODGJ John Nash yang begitu menarik kemudian dinarasikan dalam novel yang berjudul 'A Beautiful Mind' dan pada tahun 2001 diabadikan dengan Film Holywood dengan judul yang sama.

Desa Ngestiharjo di Bantul sudah mengembangkan program Pelayanan Kesehatan Jiwa yang dikenal dengan Gelimas Jiwo (Gerakan Masyarakat Peduli Gangguan Jiwa). Gerakan ini digagas karena tingginya angka gangguan jiwa di desa tersebut dan merupakan gerakan sosial berbasis komunitas yang hadir untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan jiwa atau skizofrenia.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved