Jurnalisme Warga

Jangan Takut Menjadi Entrepreneur

ENTREPRENEUR atau yang juga dipahami sebagai wirausaha merupakan media yang dapat mendongkrak taraf perekonomian

Jangan Takut Menjadi Entrepreneur
IST
M. ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag., Direktur Pematik (pusat entrepreneur) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH M. ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag., Direktur Pematik (pusat entrepreneur) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

ENTREPRENEUR atau yang juga dipahami sebagai wirausaha merupakan media yang dapat mendongkrak taraf perekonomian, bukan hanya secara individual, tetapi juga secara kolektif. Menurut pakar, suatu negara akan maju bila kuantitas penduduk yang bergerak di entrepreneur minimal berjumlah 14% dari total penduduknya.

Indonesia sejauh ini hanya menembus angka 3,1%, berbeda dengan Thailand yang angka pelaku wirausahanya mencapai 16% lebih. Bahkan Indonesia masih kalah dibanding Malaysia yang berasio sekitar 5%. Berdasarkan realitas ini, cukup beralasan jika minat entrepreneur perlu dipupuk semaksimal mungkin. Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan pernah mengatakan, negara tidak akan maju jika pengusahanya tidak maju (berkembang).

Pada umumnya, alasan mengapa orang enggan terjun ke dunia entrepreneur  adalah takut rugi atau bangkrut. Belum lagi jika modal adalah dana pinjaman di bank, mereka belum siap mental untuk didatangi  debt collector jika iuran mulai macet atau bahkan berhenti karena usahanya bermasalah. Padahal, menjadi wirausahawan tak harus takut rugi. Semuanya bisa diantisipasi dengan belajar dari kegagalan yang ada.

Jangan gengsi

Selain takut bangkrut, alasan lain mengapa masih kecil minat menjadi seorang entrepreneur adalah rasa malu atau gengsi yang tak beralasan. Gengsi ini terkadang seperti virus, khususnya menyerang anak muda yang membuat lupa diri. Gengsi jika naik sepeda atau motor butut, sebagian oknum lebih memilih kredit guna membeli CBR atau moge lainnya. Malu jika diketahui teman tinggal di rumah kontrakan, bersandiwara seolah tinggal di apartemen berkelas. Bahkan ada yang gengsi jika nongkrong ke warung kopi, tapi tidak membayari teman, sikap ini seolah menunjukkan bahwa pribadi adalah orang sukses meskipun isi dompet pas-pasan.

Ini adalah sikap yang tidak patut dibudayakan, orang akan lelah jika menuruti gengsinya.  Tak selamanya yang terlihat elegan itu baik, juga tak selamanya yang terlihat sederhana itu miskin. Pengalaman saya ketika menarik uang di salah satu bank konvensional di Medan, belasan orang terpaksa mengantre hanya karena seorang lelaki berparas Cina yang dikira gelandangan.  Kok bisa? Bukan soal pakaiannya yang kusam itu, bukan pula soal goni sampah plastik yang dia seret memasuki bank, melainkan oknum tersebut ternyata adalah nasabah prioritas. Ketika masuk ia langsung dijemput menuju ruangan khusus bersama uang ratusan juta yang dikira sampah sebelumnya.

Sebaliknya, saat ini bisa disaksikan di mana-mana maraknya anak nongkrong dengan gaya selangit. Bajunya bagai direktur, padahal kantungnya kendur, kerjaannya hanya sosialita dan menjadi public figure  dunia maya. Suaranya besar-besar dan ketawa cekikikan menggosipkan orang, bahkan tak jarang menggunakan bahasa tak senonoh yang meresahkan telinga pelanggan lainnya. Mereka bangga menjadi seperti itu daripada aktif bekerja sebagai entrepreneur. Mereka gengsi jika harus turun ke jalan-jalan membagikan brosur atau bahkan malu jika mengunggah produk terbaru usaha orang tuanya. Mereka ingin dianggap anak pejabat atau minimal sebagai anak direktur BUMN ternama. Bukankah lebih baik menjadi anak pengusaha yang mulia dari pada direktur BUMN yang bermasalah?

Seorang entrepreneur tidak membutuhkan sikap demikian, tidak perlu malu menjadi wirausaha. Pengusaha itu pekerjaan mulia, membuka lapangan kerja, bahkan membantu meningkatkan perekonomian negara. Entrepreneur itu bukan pedagang, meskipun awalnya ia melakukan aktivitas usahanya sendiri, tapi yang membedakannya dengan pedagang adalah ada fase di mana ia melepaskan itu pada sistem yang dibangun (autopilot). Jika awalnya ia sendiri yang membuat dan menjual bakso, ketika sudah berkembang, di mana perputaran kasnya sudah baik, maka ia akan menjadi pemilik usaha bakso, bukan pembuat bakso lagi. Tugasnya juga tak lagi sama, ia tidak lagi bermain dengan minyak dan tepung, tapi bagaimana mengevaluasi karyawannya agar benar dalam mengelola minyak dan tepung tersebut. Itu baru namanya wirausaha hebat.

Orang hebat adalah mereka yang belajar dari pengalaman, sedangkan orang cerdas adalah mereka yang belajar dari kegagalan orang lain. Jika takut rugi menjadi pengusaha, maka belajarlah karena itu akan meningkatkan peluang keberhasilan.

Filosofi ini bisa didapatkan dari hikmah diturunkannya ayat pertama Alquran Surat Al-Alaq, ‘Iqra’ (bacalah). Sebelum Nabi Muhammad diperintahkan untuk beribadah, berdakwah, bahkan berjihad maka lebih dulu disuruh membaca. Membaca di sini bukan semata-mata melihat sebuah tulisan di atas kertas, melainkan lebih kompleks, yakni membaca situasi, membaca keadaan, membaca peluang, membaca arah perkembangan, dan masih banyak lagi. Begitu juga dalam berwirausaha, sebelum memulai para pemula bisa belajar lebih dulu, meminta dampingan dari oknum yang berpengalaman, bahkan kalau mungkin mengobservasi suatu model usaha yang relevan dan potensial untuk diterapkan. Ibarat menanam tomat, tanpa ilmu maka akan tamat, dengan ilmu bakal selamat.

Jangan goyah terjun ke duina entrepreneur hanya karena cibiran oknum yang tak paham apa itu entrepreneur secara hakiki. Ingat, dalam bisnis seseorang bisa saja ratusan kali gagal, tapi ia hanya butuh satu kali kesuksesan sehingga mengubah paradigma negatif tentang profil sebelumnya. Selain itu, perlu disadari bahwa tidak ada yang namanya bangkrut bagi seorang entrepreneur. Bangkrut itu hanya soal materi yang kebetulan arusnya sedang tidak kondusif. Seorang berjiwa entrepreneur dikatakan bangkrut bukan karena gulung tikar, bukan karena utangnya di mana-mana, melainkan jika sudah tidak mampu berpikir lagi, hilang nalar kreatifnya, bahkan menyerah dititik yang seharusnya ia bangkit.

Seorang entrepreneur bermental juara tidak gampang mengeluh, mereka selalu optimis dan menjadikan masalah sebagai batu pijakan untuk meloncat lebih tinggi. Seorang wirausaha tidak banyak tidur malam, mereka senantiasa berpikir bagaimana mengembangkan usahanya. Bukan berarti ia tidak bisa tidur karena banyak masalah menghantui, melainkan kondisi ini sudah menjadi bagian dari pola hidupnya, ada kenikmatan tersendiri ketika menemukan ide-ide kreatif saat orang lain pada terlelap. Ketika orang lain bermimpi dalam tidur, seorang entrepreneur justru mengejar mimpinya dengan mengurangi jam tidur.

Menjadi seorang entrepreneur bukan sebatas tentang untung rugi. Di balik itu semua adalah ilmu yang berharga berupa pengalaman yang tak ternilai, relasi yang bertebaran, dan orderan yang bakal menjamur. Insyaallah. Menjadi pengusaha juga bisa mendidik karakter pelakunya, sebagai contoh orang yang awalnya lemah lembut, akan menjadi sosok yang tegas ketika ia sadar bahwa sifatnya itu membuat karyawannya bekerja asal-asalan. Ia rela dianggap bos cerewet atau bos galak, tapi bisa meningkatkan performa perusahaan. Coba perhatikan, semakin tegas pimpinan perusahaan maka semakin profesional para pekerjanya, sebaliknya jika pemimpin itu terlalu ‘baper’ maka ia justru akan tenggelam oleh merosotnya kinerja karyawan.  

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved