Nelayan Singkil Lolos dari Maut, Antonio Berjuang Lepaskan Kepalanya dari Mulut Buaya  

Serangan buaya terhadap manusia kembali terjadi di Kabupaten Aceh Singkil. Kali ini menimpa Antonius Ingatan Gulo (24), penduduk Asantola

Nelayan Singkil Lolos dari Maut, Antonio Berjuang Lepaskan Kepalanya dari Mulut Buaya   
For Serambinews.com
Antonius Ingatan Gulo (24) penduduk Asantola, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil,  yang selamat setelah bergumul dengan buaya di tengah lautan, Senin (13/1/2020) pukul 22:00 WIB. 

Serangan buaya terhadap manusia kembali terjadi di Kabupaten Aceh Singkil. Kali ini menimpa Antonius Ingatan Gulo (24), penduduk Asantola, Kecamatan Pulau Banyak Barat. Beruntung ia akhirnya selamat setelah sempat bergumul dengan hewan predator tersebut.

PERLAWANAN yang dilakukan Antonius Ingatan Gulo (24) terbilang cukup tangguh. Pasalnya, ia diserang buaya ketika sedang menyelam mencari ikan di laut. Kepalanya bahkan sudah berada di dalam mulut buaya. Alhamdulillah ia berhasil selamat, meski mengalami luka-luka yang lumayan parah pada bagian wajah dan belakang kepalanya.

Dari informasi yang diperoleh, pada malam kejadian itu, Senin (13/1/2020), Antonio dan dua rekannya, Peringati Zega (32) dan Melianus Zega (30) berangkat melaut menggunakan satu perahu. Sekitar pukul 21.45 WIB malam, mereka tiba di sekitar Pulau Busung, Kampung Lama Haloban, Pulau Banyak Barat.

Begitu tiba di lokasi, korban langsung terjun ke laut, berenang bebas tanpa dilengkapi pengaman. Sambil berenang, ia membenamkan kepalanya, mengintip ikan di dasar untuk ditangkap sambil menyelam. Sementara dua rekannya menunggu di atas perahu.

Berselang 15 menit kemudian, Peringati dan Melianus Zega tiba-tiba melihat senter yang dibawa korban berputar-putar. Melihat itu, mereka bedua langsung mendekati lokasi korban yang berjarak sekitar 30 meter. Saat itulah Peringati melihat kepala korban diterkam buaya. Reptil ganas itu bahkan sempat memutar kepala Antonius.

Dengan modal nekat, Peringati dan Melianus berusaha menolong korban yang sedang bergumul, hingga akhirnya Antonius terlepas dari cengkraman mulut buaya laut tersebut. Akibat kejadian itu korban mengalami luka robek di bagian wajah dan kepala bagian belakang.

Dengan bantuan nelayan lain yang berada di sekitar lokasi, korban kemudian dilarikan ke Puskesmas Pulau Banyak Barat. "Korban selamat setelah berusaha melepaskan diri dari gigitan buaya," kata Kepala Desa Haloban, Pulau Banyak Barat, Irwan, kepada Serambi, Selasa (14/1/2020).

Menurut Irwan, Pulau Busung memang merupakan daerah lintasan buaya. Namun para nelayan tetap nekat menyelam di kawasan perairan tersebut lantaran di lokasi itu terdapat banyak tripang serta ikan. "Lokasi merupakan daerah lintasan buaya. Di situ ada sungai, buaya ke luar masuk sungai," ujar Irwan.

Camat Pulau Banyak Barat, Mawardi, yang dikonfirmasi Serambi juga membenarkan ada warganya yang diterkam buaya dan berhasil selamat. "Ya benar seorang nelayan kami diterkam buaya," kata Mawardi.

Kasus serangan buaya terhadap manusia memang sudah sangat sering terjadi. Saban tahun, selalu saja ada nelayan yang menjadi korban. Pada 6 Desember 2018, Yasoziduhu diterkam buaya disekitar Pulau Inasuri. Kemudian pada 9 Oktober 2018, Ama Tebi, nelayan Ujung Sialit, diterkam hewan pemangsa tersebut saat menyelam di sekitar Pulau Matahari.

Sebelumnya, pada Februari 2018, nelayan Desa Suka Makmur, Pulau Banyak Barat, Ereanus Telaumbanua (25) ditemukan meninggal dengan kondisi tanpa kepala. Korban sempat hilang saat mencari tripang dengan cara menyelam di sekitar Pulau Duo.

Meski sudah banyak nyawa yang melayang, namun sejauh ini belum ada solusi kongkret untuk mengatasi hal itu. Permintaan pemasangan penanda di lokasi rawan buaya saja belum terlaksana, meski telah diusulkan sejak tahun 2018 lalu. Padahal dengan dipasang penanda, minimal nelayan bisa berhati-hati ketika menyelam di lokasi rawan buaya.

“Pemasangan penanda di lokasi rawan buaya itu diusulkan Anggota DPRK Aceh Singkil, Taufik, sejak 2018 lalu. Seharusnya ini menjadi perhatian serius karena sudah berulang-ulang terjadi serangan buaya terhadap manusia,” pungkas Irwan.(dede rosadi)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved