Terdakwa Dijanjikan Rp 15 Juta Perkilo, Kasus Penyelundupkan Sabu dari Malaysia  

Tiga terdakwa yang menyelundupkan sabu sebanyak 28 paket dengan berat 25 kilogram dari Malaysia ke Aceh dengan menggunakan Kapal Motor

Terdakwa Dijanjikan Rp 15 Juta Perkilo, Kasus Penyelundupkan Sabu dari Malaysia   
FOTO JAFARUDDIN
Tiga terdakwa yang menyelundupkan sabu sebanyak 28 paket dengan berat 25 kilogram dari Malaysia ke Aceh kembali disidang di Pengadilan Negeri Lhokseumawe, Rabu (15/1/2020) siang. 

LHOKSUKON – Tiga terdakwa yang menyelundupkan sabu sebanyak 28 paket dengan berat 25 kilogram dari Malaysia ke Aceh dengan menggunakan Kapal Motor (KM) Alif GT 25, ternyata dijanjikan upah Rp 15 juta perkilo. Sedangkan ongkos selundupkan bawang merah ke Aceh per orang Rp 4 juta.

Demikian antara lain terungkap dalam sidang lanjutan kasus penyelundupkan sabu 25 kilo dengan agenda pemeriksaan terdakwa sebagai saksi untuk terdakwa lain di Pengadilan Negeri Lhokseumawe, Rabu (15/1/2020) siang. Sidang itu dipimpin Sulaiman SH didampingi dua hakim anggota, Mukhtari SH dan M Yusuf SH. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fakhrillah SH.

Terdakwa hadir ke ruang sidang bersama pengacaranya, Agung Setiawan SH. Terdakwa yang diperiksa sebagai saksi adalah Saiful Anwar (44) nahkoda asal Desa Kuala Langsa, Kecamatan Barat Kota Langsa. Kemudian, Nurdin Kadir (51) Kepala Kamar Mesin (KKM) dan Nurdin Yusuf (28). Kedunya warga Desa Keude Lapang Kecamatan Lapang, Aceh Utara.

Mereka diperiksa untuk terdakwa Asnawi Idris (39) warga Desa Ulee Rubek, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. “Kami berangkat ke sana bertiga dengan menggunakan Kapal Alif milik Cek Bi. Saat akan tiba di perairan Jati Pekong Penang, Malaysia, kapal kami rusak. Sehingga, harus pelan-pelan,” ujar Saiful.

Sesampai di sana, mereka sempat melapor ke polisi di Malaysia. “Setelah pulang dari kantor polis (police), kami lihat bawang sudah diisi dalam kapal oleh buruh Malaysia,” ujar Saiful.

Tiba-tiba, ketika hendak berangkat pulang ke Aceh, mereka dihubungi Abu Mul alias Panglima Laot Tanah Jambo Aye. Kini, Abu Mul yang sudah DPO merupakan pemilik sabu dan bawang itu berpesan untuk berhati-hati.

Karena dalam kapal tersebut ada tas berwarna hitam. Ketika ditanya isinya, Abu Mul langsung mematikan handphone. Lalu, Nurdin Kadir, Nurdin Yusuf, dan Saiful memeriksa tas hitam itu. Ternyata, saat mereka memeriksa berisikan sabu.

“Lalu saya menghubungi Abu Mul dan mengabari tas tersebut berisi sabu. Saat itu, Abu Mul menjanjikan akan membayar perkilo Rp 15 juta bila sampai ke Aceh,” ungkap Saiful.

Menurut Saiful, mereka juga mendapat ancaman. Selain itu, keluarga mereka akan bermasalah jika tidak membawa pulang sabu tersebut. “Abu juga menyebutkan, kalau ditangkap, nanti mengaku saja barang tersebut milik Abu Safri dan Abu Asnawi,” ujar Saiful. Sidang itu ditunda pekan dengan agenda pemeriksaan saksi.

Sementara terdaksa, Asnawi Idris membantah semua keterangan yang diberikan tiga terdakwa yang kemarin menjadi saksi. Ia mengaku tidak mengenal Nurdin Kadir, Nurdin Yusuf, dan Saiful. Dia mengaku tidak tahu menahu soal bawang dan sabu.

“Saya ditangkap ketika pulang dari pelabuhan saat pembongkaran bawang di pelabuhan bersama tim. Karena, saat itu masih menjabat panglima Laot,” tegas Asnawi.

Asnawi menegaskan, saat diperiksa sebagai tersangka oleh polisi tidak pernah mengaku bawang dan sabu-sabu itu miliknya. Meskipun sudah diingatkan berulangkali oleh hakim dan jaksa memberikan keterangan palsu dapat dipidana. Tapi, Asnawi tetap membantah keterangan saksi. “Tidak benar keterangan mereka,” ujar Asnawi.(jaf) 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved