Opini

Delinkuensi Remaja  

Masa remaja awal dimulai sejak umur 13 sampai 16 tahun dan masa remaja akhir umur 16 tahun sampai 18 tahun

Delinkuensi Remaja   
IST
Drs. Bukhari, Pembimbing Kemasyarakatan Muda pada Bapas Kelas II Banda Aceh

Oleh Drs. Bukhari, Pembimbing Kemasyarakatan Muda pada Bapas Kelas II Banda Aceh

Masa remaja awal dimulai sejak umur 13 sampai 16 tahun dan masa remaja akhir umur 16 tahun sampai 18 tahun. Mereka masih dikategorikan sebagai anak dalam Undang‑Undang Nomor 23\softline Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sedangkan dalam Undang‑Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak diatur bahwa batas usia anak adalah sejak umur 12 tahun, tetapi belum berumur 18 tahun. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tak lagi memiliki status anak.

Hal senada diungkapkan Santrock bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, sosial, dan emosional. Masa remaja ditandai oleh tumbuhnya tanda‑tanda seksual sekunder dan juga perubahan fisik karena pengaruh aktifnya hormon‑hormon reproduksi testoteron dan progesteron.

Masa remaja juga ditandai oleh perubahan orientasi sosial, di mana remaja mulai bergaul dengan lawan jenis secara intensif sehingga lebih banyak meluangkan waktunya bersama teman sebaya dibandingkan dengan keluarganya sendiri.

Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah suatu perbuatan yang melanggar norma dan aturan atau hukum dalam masyarakat. Delikuensi anak remaja suatu bentuk penghalusan untuk membedakan istilah dengan kriminal terhadap orang dewasa yang melakukan tindak pidana.

Kenakalan pelanggaran hukum adalah perbuatan menyimpang yang melanggar norma‑norma hukum, agama, dan hukum adat, di antaranya pergaulan bebas, hubungan seksual, mencuri, berjudi, menyalahgunakan narkotika, tawuran, pelacuran, atau semua perbuatan penyelewengan yang menimbulkan keonaran dalam masyarakat.

Menurut Kartono, faktor kenakalan remaja, antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya dari anak kecil menjadi dewasa, juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik. Orang tua pun mengeluhkan perilaku anak‑anaknya yang tak dapat diatur. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa‑masa lain di sepanjang rentang kehidupannya. Ada kalanya remaja memilih nilai‑nilai sosial yang menyebabkan ia mencari nilai‑nilai yang dapat dijadikan sebagai pegangan serta ketertarikan pada lawan jenis (pacar).

Erikson dalam sebuah teori perkembangan psikososial mengatakan, pada usia 12‑18 tahun anak mengalami kebingungan peran, keraguan terhadap identitias, dan terlalu mengidolakan kelompok. Pada masa‑masa ini seorang anak yang baru mengalami pubertas sering menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah, masyarakat atau di lingkungan pertemanannya sehingga anak rentan terlibat dalam kenakalan remaja dan pelanggaran hukum.  

Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma‑norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Menurut Kartini Kartono, remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan pengaruh sosial yang ada di tengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut 'kenakalan'.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved