Semua Daerah Mestinya Pasang Stiker Bantuan

Harian Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin, antara lain, mewartakan kegiatan Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf yang memasang langsung

Semua Daerah Mestinya Pasang Stiker Bantuan
Doc: PKH Bireuen
Camat Peudada, Zamzami (baju putih) sedang memasang stiker penerima program PKH pada salah satu rumah tangga di Peudada. 

Harian Serambi Indonesia  edisi Jumat kemarin, antara lain, mewartakan kegiatan Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf yang memasang langsung stiker di rumah-rumah warga miskin dalam wilayah Aceh Utara.

Pemasangan stiker itu dilakukan secara simbolis di rumah Khadijah, warga Desa Cibrek Baroh, Kecamatan Syamtalira Aron, pada Rabu (15/1/2020). Stiker yang dipasang berupa stiker bantuan pangan nontunai (BPNT) yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara berdasarkan surat edaran dari Menteri Sosial pada Mei 2019 bahwa semua rumah penerima bantuan PKH harus dipasangi stiker.

Atas dasar itulah Pemkab Aceh Utara mulai melakukan pemasangan stiker agar penerima bantuan tidak tumpang tindih.

Tujuan penempelan stiker ini, kata Wabup Aceh Utara, adalah untuk memberikan tanda pengenal bagi KPM sebagai penerima yang sah bantuan sosial, baik untuk BPNT, PKH, KUBE, UEP, dan rumah tidak layak huni (RTLH). Intinya, setiap KPM miskin yang menerima bantuan sosial dari pemerintah rumahnya akan ditempeli stiker.

Seiring dengan itu, Wakil Bupati Fauzi Yusuf mengimbau penerima PKH yang sudah sejahtera agar dapat mengalihkan bantuan yang ia terima kepada tetangganya yang masih miskin, karena merekalah yang lebih berhak dan lebih membutuhkannya.

Nah, apa yang dilakukan Wabup Aceh Utara ini jelas gebrakan yang patut diacungi jempol. Ini cara jitu untuk memaklumatkan kepada warga setempat bahwa pemilik yang rumahnya ditempel stiker BPNT jelas secara sah dan meyakinkan merupakan warga yang berhak atas bantuan PKH.

Cara ini tentunya akan menimbulkan efek malu bagi keluarga yang nyata-nyata sudah sejahtera tapi mengaku miskin atau sengaja menyembunyikan statusnya seolah dia memang orang yang miskin demi mengejar bantuan.

Bukan rahasia lagi bahwa selama ini tabiat buruk seperti yang digambarkan di atas banyak dilakoni keluarga tertentu di desa-desa. Bahkan pihak perangkat desa pun terkadang ikut terlibat dalam praktik tidak terpuji ini demi keuntungan orang-orang terdekatnya. Akibatnya, jumlah keluarga miskin yang berhak mendapatkan bantuan PKH membengkak alias terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dengan demikian, program ini dalam implementasinya kerap meleset dari sasaran karena bantuan tidak seluruhnya diterima oleh mereka yang paling berhak. Padahal, PKH adalah program penanggulangan kemiskinan melalui pemberian bantuan tunai kepada keluarga sangat miskin berdasarkan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Namun, ada saja warga desa yang sebetulnya hidup sejahtera, tapi tak merasa berdosa menerima bantuan untuk keluarga sangat miskin. Urat malunya mungkin sudah putus sehingga nyaman-nyaman saja saat menikmati hak si miskin.

Praktik tak terpuji seperti ini kita harapkan tidak lagi terulang setelah stiker ditempelkan di rumah-rumah penerima bantuan PKH. Sebab, setelah stiker ditempal makan menjadi sangat jelas mana keluarga yang sangat miskin dengan keluarga sejahtera tapi berpura-pura miskin demi mendapatkan bantuan.

Warga desa tentunya akan protes, minimal menggunjingkan, jika ada keluarga sejahtera yang juga kebagian bantuan PKH. Sebaliknya, keluarga yang mampu secara ekonomi sedianya malu jika di rumahnya pun ditempeli stiker BPNT atau PKH.

Mengingat cara ini diyakini akan efektif mencegah orang yang berpunya menyabot bantuan untuk si miskin, maka kita harapkan seluruh bupati dan wali kota se-Aceh segera mengimplementasikannya di kabupaten/kota masing-masing.

Sudah saatnya semua kita berpihak terhadap upaya pengentasan kemiskinan di Aceh, mengingat provinsi kaya ini sudah lima tahun berturut-turut dinyatakan sebagai provinsi termiskin di Sumatra dan provinsi nomor 6 termiskin di Indonesia. Kita optimis, kemiskinan Aceh bisa dikurangi secara signifikan setiap tahun jika bantuan untuk si miskin tidak ada yang meleset, tidak ada yang jatuh ke tangan orang kaya yang tamak.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved