Kamis, 28 Mei 2026

Mengenang 24 Tahun Karamnya Kapal Gurita

Tragedi Kelam Sehari Jelang Meugang Puasa

Jumat 19 Januari 1996, merupakan peristiwa penting yang dalam sejarah Aceh. Pada tanggal itu, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Gurita

Tayang:
Editor: hasyim
DOK /Muhibbudin alias Ucok Sibreh
Muhibbudin alias Ucok Sibreh ( tiga kiri), korban selamat KMP Gurita berfoto bersama Adi (dua kiri), mantan ABK yang juga korban selamat kapal KMP Gurita serta keluarganya di Medan, Sumatera Utara. Foto diambil dua pekan lalu. DOK /Muhibbudin alias Ucok Sibreh 

Jumat 19 Januari 1996, merupakan peristiwa penting yang dalam sejarah Aceh. Pada tanggal itu, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Gurita tenggelam di perairan dekat Teluk Sabang. Dalam musibah itu, sekitar 40 orang selamat, 54 orang ditemukan meninggal dan 284 orang dinyatakan hilang.

MUSIBAH yang terjadi sehari sebelum meugang menyambut bulan puasa itu menyentakkan warga Sabang. Betapa tidak, para penumpang sebagian besar merupakan warga Sabang yang pulang untuk menyambut meugang dan puasa pertama bersama keluarga.

Salah satu penumpang yang selamat dan masih hidup hingga saat ini adalah Muhibbudin, warga Sibreh. Saat musibah itu terjadi, ia masih SMA. Kepada Serambi, pria yang akrab disapa Ucok Sibreh ini menceritakan bagaimana kepanikan yang terjadi pada malam kelam itu.

Tidak mudah melupakan kenangan pahit tersebut. Begitu juga dengan keluarga korban. Seperti Fitri Juliana, yang saat kejadian itu masih menduduki bangku SMP. Dalam tragedi itu, Fitri kehilangan kakak dan abangnya, Yusriana dan Afrizal dan jasad keduanya tidak pernah ditemukan.

Ucok Sibreh mengaku tidak keberatan untuk menceritakan kembali peristiwa detik-detik tenggelamnya kapal buatan tahun 1970 itu. Begitu juga dengan Fitri Juliana, warga Sabang, mengaku bersedia menceritakan kondisi keluarganya ketika mengetahui kapal Gurita karam.

                                                                        ***

Jumat, 19 Januari 1996, sekolah mulai libur karena menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dalam tradisi Aceh, sehari sebelum puasa pertama, dilaksanakan meugang yang jatuh pada hari Sabtu. Semua warga Sabang yang bekerja di Banda Aceh dan Aceh Besar pulang kampung.

Hari itu, kapal dengan panjang 32,45 meter dan lebar 7,82 meter itu sesak dengan manusia. Melebihi kapasitas dari seharusnya hanya menampung 210 penumpang. Selain muatan orang, kapal tersebut juga sarat muatan barang, di antaranya 10 ton semen, 8 ton bahan bakar, dan 15 ton tiang beton listrik.

Ucok Sibreh datang ke Sabang bukan untuk liburan. Melainkan memenuhi panggilan Pengadilan Negeri Sabang untuk menjadi saksi terhadap temannya yang kecelakaan sepeda motor jauh hari sebelumnya. Ucok dan temannya di Sibreh menyanggupi panggilan itu dan mereka berangkat ke Sabang.

Saat itu, pelayaran ke Sabang melalui Pelabuhan Malahayati di Krueng Raya, yang kini berubah fungsi menjadi pelabuhan bongkar muat kontainer. Ucok mengaku tidak merasakan firasat aneh pada hari itu. Hanya saja jam keberangkatan kapal molor hingga setelah magrib.

Sedianya, jadwal keberangkatan sekitar pukul 17.00 WIB. Tapi bergeser dari jadwal yang ditetapkan. Saat suara azan berkumandang, kapal pun berangkat meninggalkan Pelabuhan Malahayati. Ucok mengambil posisi di geladak kapal bersama temannya.

Ucok bersama penumpang lainnya melewati malam itu di tengah deruan ombak dan udara dingin. “Saya orang yang tak kuat menahan goyangan kapal sehingga saya minum Antimo dua butir sebelum kapal berangkat,” kata Ucok yang saat ini sudah menjadi anggota DPRK Aceh Besar.

Ketika sedang menikamati pelayaran, tiba-tiba sekitar pukul 20.30 WIB kapal oleng dengan kuat. Semua penumpang terbangun dari tempat duduknya. Suasana menjadi panik ketika ABK kapal mengingatkan penumpang tetap tenang. Ucok yang jarang naik kapal laut menganggap kejadian itu hal biasa.

“Bagi saya itu hal yang biasa karena saya sangat jarang naik kapal laut sehingga saya anggap masih normal dan saya berbincang-bincang dengan sahabat saya di bagian belakang kapal,” ungkap Ucok.

Dalam percakapan itu, Ucok bahkan sempat bertanya kepada temannya tersebut dan jawaban temannya itu masih membekas hingga saat ini. “Ke depan kita kalau libur sekolah mau kemana?” Teman Ucok menjawab dengan spontan "Kita pergi ketempat yang jauh."

Tanpa disadari bahwa itu percakapan terkahir mereka. Sebab tak lama setelah itu, petaka terjadi. Kapal Gurita masuk air. Suasana panik. Kapal oleng sangat kuat. Ombak pun terlihat deras. Gema istiqfar menggema di tengah kepanikan penumpang.

Teriakan tangis memecahkan kesunyian malam itu. Pangilan ayah, ibu, dan anak terdengar dimana-mana. Bahkan ada satu keluarga bersama anaknya terlihat panik, loncat ke laut atau tenggelam bersama kapal. Bagian depan kapal mulai ditelan air. Perjalanan masih setengah jam lagi untuk sampai ke Pelabuhan Sabang.

Dalam gelap gulita, sebagian penumpang memilih loncat ke laut ketika setengah badan kapal sudah dipenuhi air. Sementara kebanyakan penumpang lainnya terjebak dalam deck kapal. Di dalam air, orang-orang berteriak minta pertolongan. Semua saling menyelamatkan diri.

                                                                        ***

Biasanya kapal sudah merapat ke Pelabuhan Balohan sekitar pukul 20.00 WIB jika berangkat sore, atau paling lama terlambat satu jam. Tapi sudah pukul 22.00 WIB, kapal juga belum merapat. Fitri Juliana dan keluarganya kala itu tidak merasa cemas, karena saudaranya sudah janji pulang keesokannya.

“Karena kami masih anak-anak, pukul 10.00 tidur. Keluarga tidak merasa cemas karena kakak dan abang sudah duluan memberitahu akan pulang hari Sabtu. Kakak kuliah di Banda Aceh sedangkan si abang masih SMA di Banda Aceh,” kata Fitri kepada Serambi yang kini bekerja sebagai wartawan di Banda Aceh.

Fitri mengaku baru mengetahui kapal Gurita benar-benar tenggelam sekitar pukul 24.00 WIB. Kabar tenggelamnya kapal itu sampai ke Sabang setelah salah seorang penumpang kapal Gurita berhasil berenang hingga ke tepi pantai. Kabar itu dengan cepat tersebar dari mulut ke mulut.

Saat itu, ayah Fitri, Idris Latif, langsung memastikan apakah kedua anaknya berada di kapal itu atau tidak. Ayah Fitri yang saat itu seorang tentara menelpon anggotanya yang berada di Banda Aceh untuk mengecek anaknya di rumah kos. Ternyata tidak ada. Informasi yang diterima, kakak dan abang Fitri ikut pulang malam itu.

Sejak malam itu, semua warga Sabang berkumpul di Pelabuhan Balohan. Masing-masing keluarga sudah menyiapkan kain batik panjang. Setiap mayat yang ditemukan langsung diserbu oleh warga untuk memastikan apakah keluarganya atau bukan. Suasana duka menyelimuti Sabang malam itu.

Hingga pencarian dihentikan, hanya 54 mayat yang ditemukan. Kakak dan abang Fitri tidak pernah ditemukan. Diyakini, jasadnya terkubur bersama kapal ke dasar laut. Sudah 24 tahun musibah itu berlalu. Hanya untaian doa yang selalu dikirim keluarga untuk para korban kapal Gurita.(masrizal bin zairi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved