Kamis, 7 Mei 2026

Koordinator Smile Train Aceh, Diusir Hingga Disiram Air Saat Cari Pasien Operasi Bibir Sumbing

KOORDINATOR Smile Train Wilayah Aceh, Rahmad Maulizar, mengungkapkan, menjadi pekerja sosial ternyata ada tantangan yang dihadapi

Tayang:
Editor: bakri
DOK PRIBADI RAHMAD MAULIZAR
Koordinator Smile Train Wilayah Aceh, Rahmad Maulizar (kanan), memperlihatkan Seorang anak di Nagan Raya setelah menjalani operasi bibir sumbing, beberapa waktu lalu. 

Bagi Rahmad, cacian, diusir, sampai berakhir dengan disiram air, tak membuatnya patah arang. Ia pun selalu berprinsip bahwa semakin berat cobaan yang dihadapi, maka perjuangan dan kerja kerasnya juga harus lebih getol lagi.

KOORDINATOR Smile Train Wilayah Aceh, Rahmad Maulizar, mengungkapkan, menjadi pekerja sosial ternyata ada tantangan yang dihadapi. Malah, di luar dugaannya, ia pernah dicaci, diusir, dan bahkan sampai disiram dengan air saat mau masuk ke salah satu rumah keluarga pasien di pedalaman Aceh Timur. Penyebabnya, keluarga itu enggan menerima kedatangan Rahmad.

Perjuangan itu dialami Rahmad saat ia mengemban misi agar anak-anak Aceh yang menderita bibir sumbing dan celah langit-langit, bisa dioperasi. Meski ditawarkan operasi gratis sampai disediakan kamar inap yang ditanggung sepenuhnya Smile Train--organisasi nirlaba dan amal yang menyediakan operasi korektif untuk anak-anak dengan bibir sumbing dan langit-langit mulut, namun tantangan itu tak luput dari perjuangan Rahmad.

Bagi Rahmad, cacian, diusir, sampai berakhir dengan disiram air, tak membuatnya patah arang. Ia pun selalu berprinsip bahwa semakin berat cobaan yang dihadapi, maka perjuangan dan kerja kerasnya juga harus lebih getol lagi.

“Meski kita tawarkan operasi gratis dan semuanya ditanggung, terkadang belum sepenuhnya bisa diterima oleh masyarakat. Bawaannya emosi saja, sampai keluar kata-kata yang memang tidak enak kita dengar, sampai mobil operasional Smile Train yang saya bawa dan dipenuhi stiker berbentuk sosialisasi bibir sumbing, malah dicibir dan dibilang ‘bibir sumbing itu binatang apa’,” ungkapnya.

Rahmad yang mengaku sudah biasa menghadapi keadaan itu, akhirnya hanya menitip pesan ke keluarga yang menolaknya agar saat anak mereka sudah siap untuk dioperasi bisa menghubungi ke nomor Hp-nya yaitu 081360395730. “Mungkin mereka pernah dijanjikan hal yang sama, tapi tidak kesampaian itu wajar. Makanya, untuk lebih yakin, saya minta mereka datang langsung ke RS Malahayati dan menjumpai dr Muhammad Jailani,” ungkap Rahmad.

Beberapa minggu kemudian, Rahmad, kembali lagi ke sana. Bedanya, ia disambut lebih hangat setelah memberi pengertian kepada keluarga tersebut agar anaknya segera dioperasi dan jangan menyesal kemudian. Sebab, berbagai kemungkinan bisa terjadi saat anak tersebut dewasa dan berbaur dengan lingkungan. “Bahkan, saya beri gambaran bahwa operasi itu tidak seperti yang dikhawatirkan, karena ditangani oleh ahlinya. Alhamudlillah, keluarga itu pun bersedia anaknya dioperasi dan sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik,” jelasnya.

Menurut Rahmad, anak-anak yang tidak dioperasi bibir sumbing akan sulit menghadapi kenyataan saat mereka berbaur dengan anak-anak lain seusianya. Rasa frustasi dan tidak percaya diri akan menghantui mereka yang tidak dioperasi bibir sumbing. “Ini mutlak kerja sosial, tak ada keuntungan luar biasa yang saya dapatkan. Bahkan, saya harus mengeluarkan uang pribadi jika turun ke kampung-kampung. Tapi, ketika ada anak-anak Aceh yang saya temui menderita bibir sumbing dan saya mampu mengajak keluarga mereka untuk mau mengoperasinya, ada kepuasan yang luar biasa bagi diri saya,” sebut mantan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh Barat, ini.

Rahmad yang juga mantan penderita bibir sumbing menceritakan, sebelum dioperasi pada tahun 2008 lalu, ia merasa risih saat berada di antara teman dan lingkunganya. Rahmad selalu dijauhi, disisihkan, dan bahkan kerap dihina karena cacat yang dialaminya itu. Tapi, karena dukungan keluarga, Rahmad mengaku tetap tegar menghadapi hari-hari sulit yang dilaluinya. Namun, pada tahun 2007, Rahmad mendapat informasi bahwa Smile Train yang bermarkas di New York, Amerika Serikat, sudah hadir di Rumah Sakit Malahayati, Banda Aceh. Lembaga itu melakukan operasi secara gratis untuk penderita bibir sumbing dan bocor celah langit-langit.

Dari kampung halamannya di Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Rahmad pun berangkat ke RS Malahayati bersama orang tuanya. Sosok yang pertama kali ditemuinya saat itu adalah dr Muhammad Jailani SpBP RE (K) dokter spesialis bedah plastik dan dr Jailani. Menurut Rahmad, kedua dokter tersebut memberikan motivasi dan semangat yang luar biasa kepada dirinya.

Dikatakan, dr Jailani memberikan keyakinan bahwa kondisi bibir sumbingnya bisa normal seperti kebanyakan orang lain. “Berkat dr Jailani juga, pada tahun 2010, saya ditawarkan menjadi bagian dari Smile Train. Tugas saya mencari, mendata, menyosialisasi, dan mengajak keluarga penderita bibir sumbing agar mau anaknya dioperasi gratis. Bagi mereka yang bersedia cukup membawa KTP dan KK, selebihnya untuk kamar inap ditanggung oleh Smile Train. Dari sana lah saya bertekad dan tergugah untuk mulai mendedikasikan diri agar semua anak Aceh terbebas dari bibir sumbing,” sebutnya.

Ketika dirinya dimaki, dihina, dan berbagai hal negatif lain diterima saat menjalankan misi kemanusiaan itu, Rahmat berharap apa yang dilakukan saat ini menjadi lahan amal dan ibadah baginya. “Saya hanya berharap semua anak Aceh terbebas dari bibir sumbing dan celah langit-langit. Sehingga, untuk meyakinkan mereka, saya selalu menunjukkan foto anak-anak bibir sumbing sebelum dan sesudah dioperasi. Berbagai bentuk apresiasi sudah saya terima menjadi pekerja sosial,” ungkap Rahmad yang pernah diundang di Program Kick Andy pada salah satu stasiun TV Nasional, Juni 2018 lalu. (misran asri)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved