Opini

Perang Indonesia Vs Cina, Mungkinkah?  

Laut Natuna, yang termasuk dalam wilayah perairan Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dalam beberapa hari terakhir aktif

Perang Indonesia Vs Cina, Mungkinkah?   
ist
Teuku Munandar, Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh

Oleh Teuku Munandar, Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh

Laut Natuna, yang termasuk dalam wilayah perairan Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dalam beberapa hari terakhir aktif diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Konflik yang dipicu masuknya kapal nelayan dan Coast Guard milik Cina ke Laut Natuna tanpa izin, menjadi penyebab hangatnya diskusi mengenai laut yang terletak pada kabupaten terluar (paling utara) Indonesia dan berlokasi di Selat Karimata.

Menanggapi tuduhan Indonesia atas pelanggaran batas wilayah perairan tersebut, Pemerintah Cina bersikukuh negaranya tidak melanggar hukum internasional yang ditetapkan lewat Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS). Landasannya, menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang bahwa Laut Natuna termasuk dalam Nine-Dash Line Cina.

Mengutip Kompas.com, Nine-Dash Line adalah wilayah Laut Cina Selatan seluas 2 juta km persegi yang 90 persennya diklaim Cina sebagai hak maritim historisnya. Jalur ini membentang sejauh 2.000 km dari daratan Cina hingga beberapa ratus kilometer dari Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Klaim ini bermula dari penguasaan angkatan laut Cina pada 1947 terhadap beberapa pulau di Laut Cina Selatan yang telah diduduki Jepang selama perang dunia kedua. Saat itu, Pemerintah Kuomintang yang berkuasa menciptakan garis demarkasi di peta Cina berupa 11 garis putus-putus atau disebut sebagai "Eleven-Dash Line".

Selanjutnya setelah kekuasaan Cina beralih ke pemerintah komunis, pada awal 1950-an dua garis putus-putus dihapus dengan mengeluarkan Teluk Tonkin sebagai isyarat untuk kawan-kawan komunis di Vietnam Utara, sehingga namanya pun berubah dari menjadi Nine-Dash Line. Melalui klaim Nine-Dash Line, Cina mengakui Perairan Natuna sebagai bagian dari wilayahnya, laut dan darat. Tak hanya Indonesia, Cina juga berkonflik dengan Filipina, Malaysia, dan Vietnam.

Klaim Cina atas Laut Natuna tentunya bukan tanpa alasan, salah satunya adalah kekayaan sumber daya alam yang terdapat di dalamnya, yaitu kekayaan hasil laut dan migas. Berdasarkan data yang dimuat dalam cnbcindonesia.com, diperkirakan Laut Natuna menyimpan kekayaan yang berlimpah yaitu ikan pelagis kecil (621,5 ribu ton/tahun), demersal (334,8 ribu ton/tahun), pelagis besar (66,1 ribu ton/tahun), ikan karang (21,7 ribu ton/tahun), udang (11,9 ribu ton/tahun), cumi-cumi (2,7 ribu ton/tahun), hingga lobster (500 ton/tahun).

Selain itu, cadangan minyak bumi di Natuna diperkirakan mencapai 14.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680 barel (Kompas.com). Lalu bagaimana kemungkinan terjadinya perang antara Indonesia dan Cina akibat kisruh Laut Natuna ini? Sebagai orang yang berlatar belakang ekonomi, penulis memandang sepertinya kecil kemungkinan pecahnya perang tersebut. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut.

Ekspor Cina ke Indonesia. Berdasarkan data tradingeconomics.com, ekspor Cina ke Indonesia pada 2018 tercatat sebesar 43,25 miliar dollar AS. Dengan angka ini, Indonesia menduduki peringkat ke-15 dari total 200-an negara di dunia yang menjadi tujuan ekspor China. Dari data ini terlihat bahwa kedudukan Indonesia sebagai pasar produk Cina cukup signifikan. Bila terjadi perang, maka akan mengganggu aktivitas ekspor Cina ke Indonesia, dan dapat merugikan perusahaan-perusahaan Cina, termasuk sektor UMKM.

Kemungkinan transaksi penjualan produk Cina ke Indonesia bisa melebihi dari data resmi ekspor tersebut, karena tidak tercatat sebagai ekspor seperti transaksi illegal dan transaksi dalam perdagangan elektronik (e-commerce).

Impor Cina dari Indonesia. Sebagai negara produsen, Cina membutuhkan banyak komoditas sebagai bahan baku untuk memproduksi barang yang akan digunakan untuk konsumsi domestik maupun diekspor ke negara lain. Bahan baku yang tidak tersedia atau jumlahnya tidak mencukupi di Cina, akan didatangkan dari negara lain, salah satunya adalah Indonesia. Data Bea Cukai menunjukkan bahwa hingga November 2019, total ekspor nonmigas Indonesia ke Cina mencapai 23,57 miliar dollar AS, atau setara Rp 329,98 triliun (kurs Rp14.000).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved