Opini

Aceh Carong untuk Minoritas  

Aceh Carong sebagai perwujudan program kerja Pemerintah Aceh dalam bidang pendidikan sudah seharusnya menyentuh kaum minoritas

Aceh Carong untuk Minoritas   
IST
Herman RN, Pekerja Kebudayaan dan Kearifan Lokal

Oleh Herman RN, Pekerja Kebudayaan dan Kearifan Lokal

Aceh Carong sebagai perwujudan program kerja Pemerintah Aceh dalam bidang pendidikan sudah seharusnya menyentuh kaum minoritas: minoritas etnis, minoritas suku, dan minoritas akses.

Minoritas etnis berkenaan dengan etnis-etnis yang tidak dominan di Aceh. Minoritas suku pun begitu, terkait golongan minimal di antara suku-suku yang maksimal dari sisi jumlah. Demikian halnya minoritas akses, yakni mereka yang tinggal jauh dari akses ibukota Provinsi Aceh. Golongan minoritas ini mesti mendapat perlakuan yang sama dengan gologan mayoritas dalam hal kerja-kerja pemajuan pendidikan dan kebudayaan di Aceh.

Aceh carong untuk kelompok minoritas mesti menjadi program prioritas Pemerintah Aceh tahun ini. Tahun 2020 harus menjadi tahun pendidikan dan tahun kebudayaan bagi Aceh. Hal ini guna menyahuti program-program Aceh carong dan Aceh meuadab yang sudah berjalan dua tahun terakhir.

Hal ini tampaknya mulai dilakukan oleh Dinas Pendidikan Aceh. Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) yang satu ini mencoba memberikan peluang bagi masyarakat Kluet dan Simeulue dalam hal pemajuan bahasa dan budaya etnis Kluet dan Simeulue. Sebagaimana diketahui, dua suku ini (Kluet dan Simeuleu) merupakan kelompok minoritas di Aceh, baik dari sisi etnis maupun akses.

Penguatan bahasa dan budaya untuk kedua etnis minoritas ini sudah dimulai oleh Dinas Pendidikan Aceh sejak pertengahan tahun 2019 silam. Penguatan bahasa dan budaya tersebut dihelat melalui diskusi terpumpun dengan menghadirkan guru-guru berbahasa lokal Kluet dan guru-guru berbahasa lokal Simeulue ke Banda Aceh.

Di Ibukota Provinsi Aceh, para guru tersebut diminta mendiskusikan secara terpumpun berbagai hal yang diperlukan dalam hal pemajuan bahasa dan budaya lokal sebagai bekal pembelajaran berbasis karakter dan muatan lokal bagi sekolah-sekolah di kedua wilayah ini. Artinya, kerja-kerja Aceh carong mulai digalakkan pada guru-guru, yang nantinya dapat menjalar bagi sekolah dan siswa pula.

Sebagai wujud keseriusan diskusi terpumpun kala itu, Dinas Pendidikan Aceh menghadirkan pemateri dari Balai Bahasa Aceh dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Dengan melibatkan unsur Balai Bahasa dan Dinas Pariwisata, terlihat bahwa Disdik Aceh sungguh-sungguh ingin memajukan bahasa dan budaya kelompok minoritas Kluet dan Simeulue. Dengan demikian, program Aceh carong bagi kaum minoritas benar-benar dipikirkan dan diaplikasikan oleh SKPA yang satu ini.

Sejatinya, pengembangan dan pembinan bahasa, budaya, dan seni daerah Aceh menjadi tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Dalam dinas ini ada bidang tertentu yang memang bersentuhan langsung dengan bahasa, budaya, dan seni. Katakan saja Bidang Bahasa dan Seni.

Namun, sepertinya bidang ini tidak tertarik melakukan pembinaan, pengembangan, dan pelestarian bahasa dan budaya bagi kelompok minoritas. Mereka lebih tertarik melakukan even-even pertunjukan kesenian di daerah tertentu dibanding melestarikan bahasa dan budaya minoritas.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved