Salam

Relokasi Pedagang Bisa Timbul Masalah Baru  

Pemko Banda Aceh memindahkan 400-an pedagang di Pasar Peunayong Banda Aceh ke Pasar Terpadu Lampulo, Kecamatan Kuta Alam

Relokasi Pedagang Bisa Timbul Masalah Baru   
FOTO HUMAS PEMKO BANDA ACEH
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, memberikan arahan di sela-sela peninjauan Pasar Terpadu Lampulo

Pemko Banda Aceh memindahkan 400-an pedagang di Pasar Peunayong Banda Aceh  ke Pasar Terpadu Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, pada Maret 2020. Mereka yang akan direlokasi itu meliputi pedagang ikan, daging, unggas, bumbu serta para pedagang sayur yang selama ini berjualan di kaki lima pasar ikan.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Banda Aceh, M Nurdin S.Sos, mengatakan, pedagang ikan eceran di TPI Lampulo juga akan dipindahkan ke pasar baru tersebut yang diperkirakan dapat menampung 500 pedagang.

Sedangkan Pasar Ikan, Pasar Daging, dan Pasar Ayam di Peunayong nantinya akan dijadikan kawasan wisata kuliner. Saat ini area sepanjang Krueng Aceh memang sedang direvitalisasi menjadi pusat wisata kuliner Banda Aceh.

Bangunan di pasar baru Lampulo terdapat yang terbuka dan tertutup. Bangunan kios tertutup untuk pedagang kelontong, ikan kering, hingga barang seperti cabe hingga bawang. Sedangkan yang terbuka difungsikan sebagai area ikan, ayam, dan sayur.

Yang menjadi pertanyaan kita, apakah Pemko sudah cukup siap memfungsikan pasar terpadu di kawasan Lampulo itu. Kita mengajukan pertanyaan itu mengingat begitu banyak perubvahan yang akan terjadi di sana. Pertama adalah soal lokasi parkir mobil dan sepeda motor. Kedua, soal ketertiban lalu-lintas terutama di Janaln Syiah Kuala di kawasan depan pasar terpadu itu.

Dengan kondisin jalan yang ada sekarang, kita sangat yakin akan terjadi kemacetan arus lalu-lintas di sana, khususnya antara pukul 07-00 Wib sampai pukul 08.30 Wib. Sebab, selama ini saja, jalan itu sangat ramai oleh para mugee ikan bersepeda motor dan truk-truk pengangkut ikan keluar Banda Aceh dan yang masuk ke Banda Aceh.

Jika nanti ditambah dengan 400-aan pedagang dan ribuan warga Banda Aceh yang akan berbelanja ke pasar itu, kita sangat yakin akan terjadi kemacetan di jalan masih berukuran sempit. Apalagi, jalan Syiah Kuala itu juga ranmai oleh aktvitas pegawai pergu dan pulang kantor, anak sekolah, dan lain-lain.

Oleh karena itu, kiat berharap sebelum pasar terpadu itu difungsikan, semuanya harus dudah diantisipasi secara rapi. Sehingga, masyarakat tidak resah dan pedagang pun tidak gelisah akibat relokasi lapak. Demikian juga dengan kemungkinan munculnya kios pedagang-pedagang kecil di tepi jalan kawasan pasar baru terpadu itu juga harus sudah diantisipasi secara tegas guna mencegah kemacetan.

Lalu, memindahkan [pedagang ke lokasi baru bukan hal yang gampang, Meraka, khususnya pedagang yang tak punya lapak resmi, sangat sulit ditertibkan. Selama ini saja, menertibkan  pedagang ikan basah di kawasan Jembatan Peunayong saja, petugas Pemko Banda Aceh belum belum berhasil. Setiap saat pedagang tak berlapak resmi itu kucing-kucingan dengan petugas penertiban.

Coba amati, sejak beberapa tahun terakhir pedagang-pedagang ikan basah selain berjualan di Jalan WR Supratman juga sudah berdagang di Jalan Kartini, sekitaran Pasar Sayur Peunayong. Maka jangan heran jika melintas di sekitaran itu akan tercium bau busuk.

Keberadaan pedagang-pedagang liar itu sangat dikeluhakn oleh kemunitas lainnya yang sangat merasa terganggu kenyamanan, kebersihan,  dan  ketertiban.  Di Jalan Kartini, banyak  warga  yang  mengeluh karena  pedagang-pedang tak resmi itu menutupi jalan serta sejumlah toko. Ditambah  lagi  dengan sampah yang menggunung. Usaha-usaha penertiban yang beberapa kali dilakukan petugas dari Pemko Banda Aceh hingga kini belum berhasil membersihkan Jalan Kartini.

Di sisi lain, fenomena di atas juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan pedagang-pedagang khaki lima itu tidak diikuti dengan penataan dan penegakan aturan secara ketat. Pedagang-pedagang tak berlapak resmi itu melahirkan ketidaknyamanan yang pada gilirannya menimbulkan berbagai masalah yang multidimensi dalam kehidupan sosial masyarakat. Fungsi-fungsi sosial fasilitas  umum, telah berganti menjadi tempat berdagang.

Karena itulah, pedagang-pedagang yang nantinya tak mau direlokasi, bisa jadi akan membuat masalah baru di kawasan Peunayong terutama di sekitaran Pasar Sayur Jalan Kartini, Jalan WR Supratman, dan Jalan Sisingamangaraja. Inilah yang harus diantisipasi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved