Mahasiswa Protes Kemiskinan di Aceh  

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kemiskinan Aceh (AMPKA), Kamis (23/1) siang

Mahasiswa Protes Kemiskinan di Aceh   
SERAMBI/M ANSHAR
Demonstran yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Peduli Kemiskinan melakukan orasai dan membakar ban di Bundaran Simpang Lima , Banda Aceh, Kamis (23/1/2020). Mereka mengkritisi tingginya angka kemiskinan di Provinsi Aceh. SERAMBI/M ANSHAR 

BANDA ACEH - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kemiskinan Aceh (AMPKA), Kamis (23/1) siang,  menggelar aksi demo di Bundaran Simpang Lima Banda Aceh. Aksi itu dilancarkan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah, karena masih banyak masyarakat Aceh berada di garis kemiskinan.

Mahasiswa memulai aksinya sekira pukul 12:00 WIB dengan pengawalan puluhan personel polisi. Mereka datang dengan mengenakan jas almamater dan membentang dua lembar spanduk yang memprotes Pemerintah Aceh atas kemiskinan yang masih terjadi.

Koordinator Aksi, Muhammad Hasbar Kuba menyampaikan, pemerintah tidak seharusnya terjebak dalam program seremonial. Misalnya pembelian pesawat dan mobil dinas. Tapi, katanya, pemerintah harus lebih banyak program pro rakyat yang menyentuh semua lapisan masyarakat. "Pembangunan rumah duafa yang nilainya Rp 88 miliar dibatalkan, sedangkan pembelian pesawat dan mobil dinas nilainya lebih tinggi dari rumah dhuafa (dilaksanakan), ini sangat kita sayangkan," ujarnya.

Mahasiswa meminta Pemerintah Aceh dan Lembaga Wali Nanggroe supaya lebih serius bekerja untuk masyarakat Aceh untuk mengurangi angka kemiskinan. Meminta pembukaan lapangan kerja, pengembangan ekonomi kreatif, serta pengembangan pertanian. Dalam tuntutan tertulisnya, mahasiswa memang meminta Pemerintah Aceh supaya fokus juga dalam pertanian guna melaksanakan swasembada pangan, apalagi mayoritas penduduk Aceh berprofesi sebagai petani. Mereka berharap Aceh minimal memilki 10 titik panen raya.

Mahasiswa juga meminta Wali Nanggroe tidak terjebak dalam politik simbolik. Sehingga mereka menginginkan anggaran operasional wali nanggroe dialihkan untuk pembangunan rumah korban konflik, anak yatim, dan fakir miskin.

Dalam aksinya, mahasiswa  juga melakukan aksi pembakaran ban dan teatrikal. Di tengah orasi beberapa orang orator, mahasiswa menyulut api ke dua ban mobil bekas yang sengaja dibawa ke lokasi demo. Api langsung membesar dan asap pekat membumbung pekat ke udara.

Selain itu, dua mahasiswa dengan badan dilumuri cat hitam dan berpakaian lusuh juga hadir ke lokasi melakukan teatrikal. Mereka datangs ebagai simbol kemiskinan yang terjadi di Aceh.

Aksi yang dikawal oleh polisi itu berlangsung sekitar 30 menit dan sempat menarik perhatian para pelintas di kawasan Simpang Lima. Api dari ban mobil yang dibakar pun langsung dipadamkan oleh polisi setelah aksi berakhir.(mun)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved