Wawancara Eksklusif
Lima Kali Gagal Jadi Polisi
Sebelum menjadi ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Firli Bahuri pernah mengemban sejumlah jabatan
Sebelum menjadi ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Firli Bahuri pernah mengemban sejumlah jabatan di kepolisian. Dia pernah menjadi Wakapolda Banten dan Jawa Tengah. Firli kemudian menjadi Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sumatera Selatan (Sumsel). Sebelum masuk KPK, Firli juga sempat menjabat sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Polri dan Analis Kebijakan Utama Baharkam Polri.
Di balik sebuah pencapaian yang tinggi, ternyata ada sebuah perjuangan berat yang harus Firli lalui. Siapa sangka, Firli pernah gagal lolos tes masuk Akademi Kepolisian (dulu Akabari). Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bagaimana cerita perjuangan pria asal Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan ini untuk menjadi seorang penegak hukum? Penjelasan Firli Bahuri kepada Tribun Network di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (21/1/2020) petang, akan kami turunkan sebagai wawancara eksklusif edisi ketiga (terakhir). Berikut petikan lengkap wawancaranya:
Anda cerita enam kali tes untuk masuk Akpol. Kenapa Anda sampai enam kali tes dan masih bersikukuh masuk Akpol?
Selama enam kali itu saya bukan menganggur. Tes pertama tahun 82 itu saya gagal, terus saya ikut kuliah. Tapi kan kuliah tentu biayanya besar, sudah kuliah besar, setelah kuliah pun belum tentu juga dapat pekerjaan. Sementara saya berlatar belakang keluarga yang jauh dari kecukupan, tentu kita harus fight. Seperti yang saya bilang sebelumnya, man is born to life. Jadi, lahir hanya untuk hidup. Setelah dia lahir, dia tidak disiapkan untuk hidup dan kehidupannya.
Maka, saya harus menyiapkan diri. Dan kita semua punya hak untuk memilih. Apakah Anda memilih A atau B, karena begitu banyak hambatan dan pilihan. Nah, kebetulan saya memilih untuk terus berusaha agar menjadi taruna Akabri. Tahun 82 saya gagal, pulang dari Magelang. Tahun 83 saya gagal lagi, pulang lagi dari Magelang.
Tahun 84, pulang lagi dari Magelang. Kebetulan ada pendaftaran bintara, saya ikut. Masuk. Berjalan selesai lulus, saya pindah ke Bandung. Saya daftar lagi tahun 85 di Bandung. Nah, di situ, tahun 85 saya mengenal sosok Akabri yaitu Pak Suhardi Alius (Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Dia letnan dua, saya sersan satu.
Saya juga kenal dengan sosok Pak Heru Winarko (Kepala Badan Narkotika Nasional). Dia letnan dua, saya sersan satu. Saya daftar lagi 85, sampai Magelang balik lagi. Tahun 86 saya daftar lagi, berangkat Magelang, balik lagi. Tahun 87 saya daftar lagi, akhirnya diterima di Akpol di Semarang.
Kenapa memilih untuk menjadi polisi?
(Tertawa) Dulu kita di kampung melihat sosok polisi itu, setiap ada kegiatan masyarakat dia ada. Ada orang meninggal dunia, dia datang. Ada orang kena musibah, dia datang. Ada orang hajatan atau khitanan, dia datang. Pendek kata, semua urusan dunia, mulai dari orang lahir sampai meninggal dunia, itu adalah urusan polisi. Dan saya lihat waktu saya di kampung ada satu sosok polisi yang betul-betul luar biasa, setiap hari ada di kampung saya.
Waktu di Lemhanas Anda bercerita orang tua Anda tidak mencatat tanggal kelahiran Anda. Apa itu benar? Padahal kalau kita lihat di internet Anda lahir 8 November. Bagaimana itu bisa memilih tanggal tersebut?
(Tertawa) Jadi, seperti yang saya bilang bahwa kalau kita lihat, saya itu kan lahir di kebun karet. Waktu itu setelah mau masuk SD, saya tanya ibu saya, "Mak, ini saya lahir tahun berapo?" "Kenapo?" "Hendak mengisi data". "Tahun berapalah kira-kira?" "Pokoknya kira-kira dua tahun sebelum PKI meletus." Itu satu. Kedua, ibu saya bilang, "Saat saya menanam karet ini, kau lahir." Nah, karet tersebut dalam tujuh tahun sudah bisa disadap. Dihitung saja mundur. Nah, begitulah ceritanya.
Kalau terkait dengan 8 November itu, memang saat itu saya mengisi data. Tanggal 8 bulan 11 (tertawa). Nah, itu ceritanya. Akhirnya kita tulis saja, 8 November 63. Pokoknya masuk SD (usia) enam tahun, pokoknya begitu. Padahal saya dulu waktu SD begini kan (ukur panjang tangan ke telinga), belum sampai ke telinga saya.
Dan kakak saya masuk SD itu delapan tahun. Awalnya saya hanya mendampingi, menemani ikut-ikutan masuk kelas. Tapi, perjalanan saat di kelas, saya justru lebih banyak menguasai pelajaran itu, walapun saya numpang. Lanjut sampai kelas VI. Begitu mau naik ke kelas VI, justru kakak saya tidak naik, saya naik.
Jadi kakak saya tertinggal satu tahun di bawah saya. Saya sudah kelas VI, kakak saya ngulang lagi kelas 5. Jadi, tanggal itu saya tidak tahu. Makanya saya bilang, saya tidak tahu persis berapa tanggal lahir saya, tapi itulah yang saya buat saat saya isi blangko tanggal 8 bulan 11.
Kami dapat cerita dulu waktu SD Anda harus berjalan kaki sejauh delapan kilometer untuk menuju sekolah. Apakah itu betul?
Iya betul. Jarak dari rumah ke sekolah delapan kilometer. Berarti setiap hari saya jalan kaki 16 kilometer pergi-pulang. (tribun Network/amb/deo/nis/ham)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/firli-bahuri-ketua-kpk-3.jpg)