Salam

Aceh Harus Serius Cegah Virus Corona  

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan bahwa hingga Sabtu, 25 Januari 2020, virus Corona atau 2019-nCov asal Wuhan

Aceh Harus Serius Cegah Virus Corona   
www.serambitv.com
Sebanyak 15 mahasiswa asal Aceh yang sedang menempuh pendidikan di Kota Wuhan, China, saat ini mengaku terisolasi di dalam asrama. 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan bahwa hingga Sabtu, 25 Januari 2020, virus Corona atau 2019-nCov asal Wuhan, Tiongkok yang sangat mematikan semakin mengganas dan menyebar secara global ke berbagai negara.

Setidaknya sudah 41 orang dilaporkan meninggal dan lebih dari 1.300 terinfeksi di seluruh dunia. Di antara korban yang tewas di Wuhan adalah dokter yang sedang menangani pasien terjangkit virus corona. Sementara itu, 15 mahasiswa asal Aceh saat ini terjebak di Wuhan dan tidak bisa ke luar dari kota itu setelah pemerintah setempat mengeluarkan instruksi untuk mengisolasi Kota Wuhan akibat wabah virus corona. Sejak 23 Januari 2020, akses ke dan dari Kota Wuhan ditutup untuk sementara waktu. Jalur transportasi ditutup dan tidak ada kendaraan umum yang beroperasi di sana. Penerbangan ke Bandara Wuhan pun dihentikan. Fadil, salah satu mahasiswa Aceh di Wuhan mengatakan, saat ini terdapat 93 mahasiswa asal Indonesia di Wuhan dan 15 orang berasal dari Aceh.

Sejauh ini belum ada warga Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri yang dilaporkan terinfeksi virus sangat berbahaya ini. Namun, di Singapura dan Malaysia virus ini sudah berjangkit. Kabar terbaru menyebutkan, seorang nenek 65 tahun bersama dua cucunya berumur 11 dan 12 tahun yang baru pulang dari Singapura via Johor Bahru terdiagnosis mengidap virus mematikan ini Berita ini juga sudah dikonfirmasi oleh Menteri Kesehatan Malaysia. Kini ketiga pasien tengah dirawat di Rumah Sakit Sungai Buloh, Selangor, Malaysia.

Nah, berita ini tentu saja mencemaskan bagi kita warga Aceh. Bukan saja karena ada 15 warga Aceh yang kini terisolasi di Kota Wuhan, pusat jangkitan virus corona, tapi juga menjadi sangat mencemaskan karena tingginya mobilitas penduduk Aceh ke Malaysia dan Singapura, dua negara jiran yang sangat dekat dengan Aceh.

Oleh karenanya, seluruh penduduk Aceh harus menahan diri sementara waktu untuk melawat ke Malaysia dan Singapura, baik karena alasan berobat, melancong, maupun studi. Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Apalagi virus ini belum diketahui apa obatnya.

Langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh Imigrasi Kelas I Banda Aceh bersama Dinas Kesehatan Aceh adalah memperketat pemeriksaan setiap warga negara asing, terutama warga Tiongkok yang masuk dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.

Harus dilakukan pemeriksaan suhu badan dan tes diagnostik lainnya untuk mendeteksi ada tidaknya di antara warga asing maupun warga Aceh yang kembali dari Malaysia dan Tiongkok terinfeksi virus corona. Di luar itu, langkah Pemerintah Aceh untuk membuka posko pelayanan informasi tentang warga Aceh yang terisolasi di Wuhan sangat kita apresiasi. Posko ini kita  arapkan dapat terus menjalin komunikasi intensif dengan Kedubes Indonesia di Tiongkok dalam rangka memulangkan 15 mahasiswa Aceh di Wuhan dengan cara aman secara medis. Biaya pemulangan mereka hingga ke Banda Aceh harus menjadi tanggungan Pemerintah Aceh.

Sebelum virus mematikan ini diketahui persis penyebabnya marilah kita meningkatkankewaspadaan dan berperilaku hidup sehat. Hindari kontak langsung dengan orang asing yang  erasal dari negara terjangkit virus corona. Biasakan memakai masker, mengingat virus ini menyebar melalui pernapasan dan udara. Selain itu, biasakan menggunakan larutan pembersih  angan atau mencuci tangan dengan air bersih. Penelitian telah menunjukkan bahwa rata-rata orang menyentuh wajah 10 kali setiap jam (memperbaiki kacamata, menyipitkan mata, memegang hidung, dan lain-lain). Nah, begitu tangan Anda terkontaminasi bakteri atau virus dan Anda menyentuh mata, hidung, atau mulut, maka Anda akan berisiko terjangkit. Ini juga alasannya mengapa pada tahap awalSARS, meskipun staf medis mengenakan masker N95, tapi mereka masih saja tertular penyakit.  Membersihkan dan mencuci tangan sering kali lebih penting untuk mencegah tertular virus berbahaya, bahkan seganas virus orona ini. Terakhir, rajinlah berdoa agar kita terhindar dari virus mematikan ini.

Editor: bakri
Sumber: Sinyal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved