Breaking News:

Akdemisi Prediksi Nova tak Ada Wakil Hingga Akhir Jabatan  

Akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Effendi Hasan memprediksi Nova Iriansyah akan memimpin Aceh seorang diri

Akdemisi Prediksi Nova tak Ada Wakil Hingga Akhir Jabatan   
Mawardi Ismail.

BANDA ACEH - Akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Effendi Hasan memprediksi Nova Iriansyah akan memimpin Aceh seorang diri hingga akhir masa jabatan Pemerintahan Irwandi-Nova pada 5 Juli 2022.

Prediksi Effendi didasari atas dinamika politik yang terjadi saat ini, khususnya terkait dualisme kepengurusan Partai Nanggroe Aceh (PNA), selaku salah satu partai pengusung Irwandi-Nova pada Pilkada 2017. "Menurut saya kondisi ini akan lebih menguntungkan Pak Nova untuk menakhodai Aceh sampai habis masa kepemimpinannya," kata Effendi Hasan menjawab Serambi, Senin (27/1/2020).

Untuk diketahui, pada Pilkada lalu pencalonan pasangan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh diusung oleh lima partai politik. Kelima partai tersebut adalah PNA, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Damai Aceh (PDA), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Effendi menjelaskan, dari lima partai pengusung itu, PNA yang tak lain partai Irwandi Yusuf saat ini sedang terjadi konflik internal dan dalam proses gugatan di Mahkamah Agung (MA).

Di sisi lain, hingga saat ini MA juga belum mengeluarkan hasil putusan kasasi Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf terkait kasus dugaan suap dana otonomi khusus Aceh (DOKA).

Melihat kondisi yang terjadi sekarang, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsyiah ini menyakini bahwa kepemimpinan Aceh akan dinakhodai oleh Nova Iriansyah sendiri hingga akhir masa jabatan tahun 2022. "Nampaknya begitu karena ini juga sangat dipengaruhi oleh dinamika di internal sendiri yang belum ada satu kata peunutoh dan ditambah lagi dengan konflik internal di partai pengusung sendiri," ujarnya.

Kendati demikian, Effendi mengatakan, Nova akan mampu memimpin Aceh meskipun sendiri. Sebab, ia juga dibantu oleh bawahannya seperti Sekda dan para kepala dinas. "Saya melihat dari kepemimpinan Pak Nova selama ini aman-aman saja, tidak ada keluhan yang berarti dari aspek tugas-tugas yang diemban beliau, walaupun tidak kita pungkiri ada beberapa kritikan dari aspek kebijakan, namun dari aspek tupoksi bisa berjalan dengan dibantu sekda dan dinas," pungkasnya.

Sementara Pengamat Hukum dan Politik Aceh, Mawardi Ismail menyampaikan bahwa wakil gubernur Aceh pengganti Nova Iriansyah yang menjadi Gubernur Aceh masih memungkinkan terjadi jika sisa masa kepemimpinan masih lebih dari 18 bulan dari masa berakhir.

"Kalau sudah ada putusan tetap untuk Pak Irwandi dan (menyatakan Irwandi) diberhentikan, Pak Nova ditetapkan sebagai Gubernur. Kemudian apabila sisa waktu (kepemimpinan) masih lebih dari 18 bulan, masih bisa diusulkan pengganti Wagub," katanya menjawab Serambi, Senin (27/1/2020).

Hal itu, lanjut Mawardi, berdasarkan Pasal 50 ayat 2 dan Pasal 54 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Jika dinamika dalam proses pengusulan calon Wagub nanti terjadi tolak tarik antar partai pengusul, Mawardi menyatakan bahwa hal itu hal biasa, seperti yang terjadi di DKI Jakarta.

"Dinamika tolak tarik mungkin saja terjadi seperti DKI Jakarta, tapi kalau partai pengusung tidak berhasil menyepakati calon, kemungkinan Pak Nova sendiri (memimpin Aceh) akan terjadi," kata mantan dosen Fakultas Hukum Unsyiah ini. (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved